Hujan mulai turun pukul empat sore, dan pada pukul lima, Jakarta tenggelam.
Bukan hujan biasa. Ini hujan yang membuat langit jadi kelabu pekat di siang bolong, yang membuat kabel-kabel basah, perangkat di gardu kebanjiran, dan internet sekota ngadat serempak. Di lantai tujuh, dasbor di dinding berubah jadi pemandangan yang membuat Wulan berdiri dan tidak duduk lagi selama tiga jam. Antrean: 47. Lalu 89. Lalu angka itu berhenti diperbarui per satuan dan hanya menampilkan satu kata merah berkedip: TINGGI. Tiga ratus lebih panggilan menunggu, dan terus bertambah lebih cepat dari yang bisa diangkat.
"Semua available! Sekarang!" suara Wulan menggelegar di lantai. "Yang istirahat balik! Yang shift sore datang lebih cepat! Ini badai, kita semua di kapal yang sama!"
Fahmi merasakan adrenalin yang aneh. Ini bukan satu pelanggan; ini ratusan, gelombang demi gelombang. Begitu ia menutup satu, sistem melempar berikutnya tanpa jeda, tanpa belas kasih. Tidak ada waktu untuk tiga detik. Ia menjawab, mendiagnosis, menjelaskan bahwa ini gangguan massal karena cuaca, bukan kesalahan modem mereka, lalu menutup, lalu menjawab lagi. Pelanggan marah, panik, ada yang menangis karena rapat penting, ada yang memaki karena sinetron, ada yang ketakutan karena anaknya sakit dan butuh telemedicine. Komedi dan tragedi tumpah jadi satu di telinganya.
Di sebelahnya, Tari kewalahan. Joko kewalahan. Bahkan Pram, yang biasa setenang batu, mulai kehilangan ritme. Dan di sinilah kebiasaan Fahmi, yang selama ini diam-diam tersembunyi, meledak terbuka oleh tekanan.
Karena ia tidak bisa menonton tim-nya tenggelam.
Ia mulai menalangi. Saat Tari mendapat pelanggan galak, oper ke aku. Saat Joko bingung dengan keluhan teknis rumit, oper ke aku, Fahmi yang lulusan teknik mengerti. Saat dua agen lain mentok, Fahmi menyambar panggilan mereka lewat transfer siluman, satu demi satu, sampai ia tidak lagi menangani antreannya sendiri tapi antrean separuh tim. Suaranya tetap tenang di telinga setiap pelanggan, hangat, menenangkan, tapi di balik headset, tubuhnya mulai berkhianat.
Tangannya gemetar. Bukan gemetar gugup yang biasa; gemetar lelah, otot yang sudah terlalu lama tegang. Suaranya, yang selalu jadi senjatanya, mulai serak di jam keempat, lalu parau di jam kelima. Ia minum air dari botol di mejanya dan botol itu kosong, dan ia tidak punya waktu mengisinya. Pantry, ia tahu, dispensernya juga kosong. Selalu kosong.
"Mi, kamu nggak apa-apa?" Tari melirik di antara panggilan, melihat wajah Fahmi yang pucat berkeringat meski AC dingin.
"Aku oke," katanya, suaranya seperti amplas. Lalu ke pelanggan, beralih mulus, hangat sempurna, "Selamat sore, Bu, saya bantu cek dari sini, ya. Tenang, ini gangguan cuaca, sebentar lagi normal."
Pukul delapan malam, badai di luar mulai reda, dan antrean perlahan turun dari merah pekat ke merah biasa, lalu ke kuning. Wulan, yang berdiri tiga jam penuh, akhirnya duduk dan menyandar, kelelahan tapi lega. Ia melihat ke dasbor, lalu ke timnya, dan ia tahu — ia bukan supervisor bodoh — ia tahu sesuatu terjadi yang menyelamatkan mereka. SLA tim hari itu, yang seharusnya hancur total oleh badai, tercatat hanya turun sedikit. Mereka selamat. Secara tim, mereka menang.
Yang tidak Wulan lihat, yang tidak siapa pun lihat sampai terlambat, adalah harga yang dibayar.
Ketika antrean akhirnya hijau dan orang-orang mulai bersandar lega, Fahmi berdiri dari kursinya untuk mengisi botol air, dan dunia berputar. Ruangan miring. Lampu monitor jadi terlalu terang lalu terlalu gelap. Ia memegang tepi meja, dan headset jatuh dari kepalanya ke lantai dengan bunyi plastik yang kecil dan tajam di lantai yang mendadak sunyi.
"Mi?" Pram sudah berdiri. "Fahmi!"
Fahmi tidak pingsan, tidak sepenuhnya. Ia hanya terduduk kembali di kursinya, pucat, gemetar, napas pendek, dengan tangan yang tidak bisa berhenti bergetar dan suara yang sama sekali hilang ketika ia mencoba bicara. Yang keluar hanya bisikan parau. Tari berlari mengambil air dari entah mana. Wulan datang cepat, berlutut di depannya, dan untuk pertama kalinya wajah supervisornya bukan wajah yang mengejar metrik, melainkan wajah seseorang yang baru sadar ia kehilangan sesuatu di bawah pengawasannya.
"Berapa panggilan yang kamu tangani hari ini, Mi?" tanyanya pelan, tapi ia sudah tahu jawabannya akan salah. Ia membuka log di tabletnya, dan angkanya membuatnya terdiam. Fahmi menangani hampir dua kali lipat dari agen mana pun. Bukan karena ia ditugaskan begitu. Karena ia menyambar punya orang lain. Diam-diam. Sepanjang badai.
"Aku nggak apa-apa, Mbak," bisik Fahmi, masih mencoba, masih, bahkan sekarang, untuk tidak merepotkan. "Aku cuma haus."
Tapi Pram, yang berdiri di belakang Wulan, menatap Fahmi dengan ekspresi yang akhirnya Fahmi mengerti — bukan sinis, bukan datar, melainkan takut. Takut yang datang dari pengenalan. Seperti orang yang melihat hantu masa lalunya berjalan ke arah jurang yang sama yang pernah ia jatuhi.
"Bukan haus, Mi," kata Pram pelan, suaranya nyaris tak terdengar di lantai yang basah oleh kelelahan. "Ini baru permulaannya."