Pengumuman itu disampaikan pada Senin pagi, di briefing yang dihadiri Pak Hendra sendiri — sesuatu yang tidak pernah terjadi, dan karena itu seluruh lantai langsung tahu ada yang besar.
Pak Hendra bukan sosok jahat yang dibayangkan orang. Ia laki-laki paruh baya dengan kemeja yang sedikit kusut dan kantung mata yang lebih gelap dari milik Wulan, seorang yang juga ditekan dari atas, juga takut kehilangan pekerjaan, juga punya keluarga yang menunggu. Ia berdiri di depan dengan tablet di tangan dan berusaha keras agar suaranya terdengar seperti membawa kabar baik.
"NetraLink dan kantor kita memulai proyek percontohan," katanya. "Namanya Asisten Suara. Sistem penjawab otomatis cerdas untuk menangani panggilan-panggilan sederhana — reboot modem, cek tagihan, hal-hal rutin. Ini bukan untuk menggantikan kalian." Ia mengulang kalimat itu, terlalu cepat. "Ini untuk membantu. Biar panggilan gampang ditangani mesin, kalian fokus ke yang sulit. Begitu rencananya."
Tapi lantai tujuh dihuni oleh orang-orang yang setiap hari menghitung detik, dan mereka bisa berhitung. Jika mesin menangani separuh panggilan, maka separuh kursi tidak lagi dibutuhkan. Tidak ada yang mengatakannya. Semua orang memikirkannya. Fahmi melihat Tari memucat, melihat Joko menunduk memikirkan bayinya, melihat Pram yang wajahnya berubah jadi batu yang ia kenal — baju zirah dipasang kembali.
Fahmi mengangkat tangannya, gugup, dan suaranya keluar tersendat seperti hari pertamanya. "Pak, sistemnya... belajar dari mana? Maksud saya, suaranya. Biar bisa menenangkan kayak manusia."
Untuk sesaat, Pak Hendra ragu. Lalu, karena ia bukan pembohong yang baik, ia menjawab jujur. "NetraLink sudah lama merekam semua panggilan untuk kontrol kualitas. Bertahun-tahun. Ribuan jam. Itu data latihannya." Ia berhenti, dan matanya, untuk alasan yang belum Fahmi pahami, menyapu sekilas ke arah Fahmi. "Dan, yah. Belakangan ada satu rekaman yang... viral. Yang dianggap punya kualitas suara ideal. NetraLink memakainya sebagai acuan nada. Patokan. Mereka bilang itu suara yang membuat pelanggan merasa didengar."
Lantai itu menjadi sangat, sangat sunyi.
Fahmi merasa darahnya membeku pelan dari ujung jari ke atas. Rekaman viral. Suara yang dianggap ideal. Tari menatapnya dengan wajah penuh kengerian yang baru lahir, tangannya menutup mulut. Klip yang ia unggah. Suara Fahmi. Suara yang menenangkan ibu menangis, yang ditonton tiga juta orang, yang dipuji sebagai paling sabar se-Indonesia — kini jadi cetakan untuk membangun mesin yang akan menggantikan dirinya, dan separuh timnya, dan mungkin Pram, dan mungkin Tari, dan mungkin Joko yang bayinya baru lahir.
Kebaikannya. Suaranya. Satu-satunya hal yang membuatnya merasa berguna — dipakai untuk menghapus alasan keberadaannya.
Fahmi tidak ingat sisa briefing. Ia mendengar Pak Hendra menjelaskan bahwa ini baru percontohan terbatas, bahwa mesin itu hanya akan diuji pada sebagian kecil panggilan malam itu untuk melihat respons, bahwa keputusan akhir belum dibuat, bahwa tolong jangan panik. Ia mendengar logika bisnisnya yang masuk akal dan justru karena masuk akal jadi lebih mengerikan — margin tipis, tekanan klien, kalau bukan kita yang efisien, ada perusahaan outsourcing lain yang lebih murah, dan kalau itu terjadi kita semua kehilangan kontrak, bukan separuh, tapi semua. Pak Hendra bukan menebar ancaman. Ia menjelaskan jurang. Mesin ini, bagi sebagian orang, mungkin satu-satunya cara agar jurang itu tidak menelan semua sekaligus. Itu yang membuatnya tak bisa dibenci dengan bersih.
Fahmi bekerja sepanjang hari dengan tubuh di kursi dan pikiran di tempat lain. Tari tidak bicara padanya; rasa bersalahnya terlalu besar — klip-nya, lagi, kebaikannya yang salah arah, lagi, kini berbuah sesuatu yang jauh lebih besar dari peringatan tertulis. Pram menatap dasbor sepanjang hari dengan ekspresi orang yang menonton air pasang naik dan tahu ia tidak bisa apa-apa.
Shift Fahmi malam itu. Pukul sepuluh, lantai mulai lengang, lampu separuh padam. Antrean turun ke kuning. Mesin percontohan itu, Fahmi tahu, sedang aktif di suatu tempat di sistem, menangani sebagian panggilan diam-diam, belajar, mendengarkan. Ia mencoba tidak memikirkannya. Ia menahan napas tiga detik sebelum tiap panggilan, ritualnya, tempat ia berlindung.
Panggilan terakhir hari itu masuk pukul sebelas kurang sepuluh, beberapa menit sebelum shift-nya berakhir. Fahmi lelah, suaranya tipis, tapi ia menahan napas — satu, dua, tiga — dan menekan tombol untuk menjawab.
Lalu sistem melakukan sesuatu yang aneh. Alih-alih menyambungkan pelanggan ke Fahmi, layarnya menampilkan label yang belum pernah ia lihat: UJI PILOT — PEMANTAUAN. Dan di telinganya, alih-alih suara pelanggan yang menunggu, ia mendengar panggilan yang sedang ditangani sistem otomatis, dialirkan ke headset-nya untuk dipantau, untuk dinilai apakah mesin menjawab dengan benar.
Seorang pelanggan, perempuan tua, bingung soal tagihannya, suaranya gemetar takut salah bayar. Dan menjawabnya, dari ujung telepon, dengan kehangatan yang sempurna, dengan jeda yang pas, dengan nada yang membuat perempuan itu langsung tenang dan berkata oh, terima kasih, Nak, kamu sabar sekali — adalah sebuah suara.
Suaranya.
Suara Fahmi sendiri. Bukan rekaman lamanya. Sesuatu yang baru, dirakit, dijahit dari ribuan jam dan satu klip viral, mengucapkan kalimat yang tidak pernah Fahmi ucapkan dengan suara yang persis miliknya, hangat dan menenangkan dan hidup. Mesin itu menyapa dengan kalimat yang sama yang ia ucapkan ribuan kali, kalimat pertama yang pernah ia pelajari di lantai ini, kalimat yang jadi pintu masuk ke satu-satunya tempat ia merasa berguna:
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?"
Fahmi duduk membeku di kursi yang masih hangat, headset di kepala, mendengar dirinya sendiri menenangkan orang asing dengan kelembutan yang tidak lagi membutuhkan dirinya untuk ada. Tangannya turun pelan dari headset. Mulutnya terbuka, mencari kata-kata, naskah, apa saja. Untuk pertama kalinya sejak ia memakai benda itu, sejak suara jadi rumahnya, sejak ia menemukan satu hal di dunia yang bisa ia lakukan dengan baik —
Fahmi tidak tahu harus berkata apa.