Tari tidak bermaksud jahat. Itu yang paling penting, dan itu yang membuat semuanya jadi lebih rumit.
Ia merekam Fahmi pada hari Selasa yang biasa, ponsel kontennya berdiri di standar mungil seperti biasa, menyala diam-diam menangkap suasana lantai untuk video di balik layar yang entah kapan akan ia unggah. Yang tertangkap, tanpa ia rencanakan, adalah Fahmi menangani seorang ibu yang menangis di telepon karena anaknya tidak bisa ikut ujian online gara-gara WiFi mati, dan Fahmi — dengan suara yang bahkan membuat Tari berhenti mengetik untuk mendengarkan — menenangkannya, menuntunnya, dan di akhir berkata, "Bu, anak Ibu pasti bangga punya ibu yang sampai nangis demi ujiannya. Sekarang kita benerin WiFi-nya, ya, biar dia bisa fokus belajar."
Tari menontonnya malam itu di kos. Ia menangis sendiri. Dan karena ia Tari, karena dua tahun tujuh bulan ia memimpikan satu video yang menembus, ia mengunggahnya. Ia menyamarkan wajah, ia tidak menyebut nama perusahaan, ia pikir ia sudah cukup hati-hati. Captionnya sederhana: CS paling sabar yang pernah aku dengar. Kalian harus dengerin suara ini.
Dalam dua hari, klip itu ditonton tiga juta kali.
Fahmi tahu sesuatu terjadi saat ia sampai di lantai tujuh dan tiga orang menoleh padanya sekaligus dengan tatapan aneh. Lalu Joko menunjukkan ponselnya, dan Fahmi mendengar suaranya sendiri keluar dari benda kecil itu, suaranya yang menenangkan ibu yang menangis, dengan tulisan melayang di atasnya: POV: kamu nelpon CS dan dapet malaikat. Di kolom komentar, ribuan orang. siapa ini? perusahaan mana? aku mau pindah provider cuma biar ditangani orang ini. suaranya bikin nangis. kenapa CS-ku nggak kayak gini.
Untuk sekejap, lantai tujuh heboh seperti pasar. Orang-orang mengerumuni, menepuk punggungnya, Fahmi-Fahmi terkenal kau sekarang, dan Fahmi yang gagap di dunia nyata berdiri di tengahnya dengan wajah pucat, tidak tahu harus senang atau ngeri. Tari berdiri agak jauh, matanya berbinar bangga dan cemas sekaligus. "Mi! Tiga juta! Tiga juta, Mi! Kamu viral!"
Lalu Wulan keluar dari ruangnya, dan keramaian itu padam seperti disiram.
"Siapa yang ngunggah?"
Keheningan. Tari mengangkat tangannya pelan, wajahnya berubah. "Saya, Mbak. Tapi saya samarin wajahnya, saya nggak sebut NetraLink, saya nggak—"
"Tari." Suara Wulan tidak keras. Itu yang membuatnya menakutkan. "Kamu rekam suara penanganan pelanggan. Itu data. Itu privasi pelanggan. Itu rahasia perusahaan. Suara ibu yang nangis itu, kamu sebar ke tiga juta orang tanpa izin dia."
Wajah Tari runtuh. Ia belum memikirkan itu. Ia memikirkan Fahmi yang indah, suara yang menyentuh, dan lupa bahwa di balik suara Fahmi ada seorang ibu sungguhan yang menangis sungguhan, yang tidak pernah setuju ditonton tiga juta orang. "Aku... aku nggak mikir sampai situ."
"Aku tahu. Tapi ada aturan, dan aturan ini bukan buat nyusahin kamu. Ini buat lindungin pelanggan. Dan sekarang—" Wulan memijit pelipisnya. "Sekarang ini jadi masalah. Bukan cuma kamu. Fahmi juga. HRD pasti turun."
Fahmi melihat darah hilang dari wajah Tari, dan tanpa berpikir, ia maju. "Mbak, Tari nggak sengaja. Suaranya suara saya, kan? Kalau ada yang kena, biar—"
"Berhenti, Mi." Pram, dari belakang, suaranya tajam. "Berhenti nalangin. Sekali ini, jangan."
Fahmi terdiam. Itu pertama kalinya seseorang menamai kebiasaannya dengan suara keras, di depan umum, dan kata nalangin itu menampar lebih dari yang Pram kira.
Sidang kecil dengan HRD berlangsung tertutup. Tari diberi peringatan tertulis. Klip itu diminta diturunkan, dan diturunkan, meski salinannya sudah berkeliaran di mana-mana, abadi seperti semua hal di internet. Fahmi diperiksa, tapi karena ia tidak mengunggah dan tidak menyetujui, ia lolos dengan teguran lisan. Hubungannya dengan Tari menegang untuk pertama kalinya — bukan pertengkaran, sesuatu yang lebih sunyi, semacam jarak. Tari merasa bersalah dan malu; Fahmi merasa terekspos, telanjang, suaranya yang ia kira aman di balik headset kini jadi milik tiga juta orang asing.
"Maaf, Mi," kata Tari di pantry, suaranya kecil. "Aku cuma... aku pikir orang harus dengar betapa baiknya kamu. Aku nggak mikir itu bisa nyakitin kamu."
"Aku tahu," kata Fahmi. Dan ia tahu. Itu masalahnya. Tidak ada yang jahat. Hanya kebaikan yang salah arah, lagi, seperti dirinya sendiri. "Cuma... suara itu satu-satunya tempat aku ngerasa aman, Tar. Sekarang semua orang punya."
Apa yang tidak Fahmi dan Tari ketahui, apa yang terjadi di ruang yang lebih tinggi di ujung lantai, adalah ini: Pak Hendra juga menonton klip itu. Tiga juta tontonan. Ribuan komentar yang menginginkan suara seperti itu. Dan di kepala Pak Hendra, yang setiap pagi ditekan oleh angka dan setiap bulan ditakuti oleh ancaman kontrak yang tipis, sesuatu mulai berputar. Bukan kebencian. Peluang. Sebuah ide yang akan ia bawa ke rapat dengan NetraLink minggu depan, ide yang terdengar brilian di atas kertas, ide yang berawal dari kekaguman tulus tiga juta orang pada kehangatan seorang anak Karawang yang tidak pernah bisa berkata tidak.