Tahun itu berjalan dengan dua detak: minggu-minggu di lantai tujuh, akhir pekan di jalan pulang—dan Fahmi menemukan bahwa tubuhnya bisa belajar ritme baru, asalkan ritme itu punya makna di kedua ujungnya.
Minggu-minggu pertama adalah minggu-minggu belajar hal-hal yang tidak ada di buku mana pun: bahwa tiang tidak berdiri dengan proposal, melainkan dengan gotong royong dan negosiasi batas tanah; bahwa kabel tidak tertarik sendiri, melainkan ditarik oleh pemuda-pemuda desa yang dibayar dengan makan siang dan rasa bangga; dan bahwa setiap keputusan teknis di desa adalah keputusan sosial—di mana tiang berdiri menentukan siapa yang merasa memiliki. Fahmi belajar itu dari satu perdebatan kecil di awal: dua RT memperebutkan lokasi tiang pertama, dan ia menyelesaikannya bukan dengan argumen teknis melainkan dengan kebiasaan lamanya—mendengarkan keduanya sampai selesai, lalu menemukan titik yang tidak merugikan siapa pun. Dimas menontonnya dengan kagum yang baru: 'Kamu pakai ilmu CS-mu di sengketa tiang.' 'Semua sengketa itu panggilan masuk,' kata Fahmi. 'Bedanya cuma di sini aku bisa lihat mukanya.'
Tiang pertama berdiri pada bulan kedua, di ujung jalan desa, di tanah Pak RT—dan seluruh prosesinya, kata Dimas kemudian, seperti hajatan kecil: orang-orang keluar rumah menonton tiang itu ditegakkan, anak-anak berlari mengikuti kabel, dan seorang bapak bertanya dengan serius apakah internetnya harus disiram tiap pagi. Dimas memanjatnya sendiri—tentu saja, ia sudah bersumpah—dan turun dengan tangan kotor dan wajah yang bersinar, dan berkata pada Fahmi: 'Berat, Kang. Tapi enak. Beda sama angkat galon. Ini kelihatan hasilnya.' Dan Fahmi menuliskannya malam itu, karena kalimat itu adalah seluruh rahasia bertahan dalam kerja keras: yang terlihat hasilnya tidak terasa berat. Tubuh tidak keberatan dengan lelah. Tubuh keberatan dengan lelah yang tidak terlihat dari mana pun.
Dan hari penyalaan pertama itu, rumah pertama yang tersambung adalah rumah yang dipilih bukan oleh logika melainkan oleh hati: warung ibu mereka. Ibunya menolak didahulukan—'orang lain dulu, Mi'—dan kalah oleh keputusan dua anaknya yang untuk pertama kalinya bersatu melawan. Router kecil itu dipasang di sudut warung, dan ketika lampunya menyala hijau untuk pertama kalinya, ibunya berdiri memandanginya dengan tangan di pinggang seperti memandang tamu asing. 'Jadi ini yang bikin orang-orang di kota bisa lihat muka kita?'
'Iya, Bu.'
'Tolong Ibu liat anak Ibu yang di Jakarta.'
Dan mereka video call—ibu di warung Karawang, Dimas di sebelahnya, dan Fahmi yang malam itu kebetulan di Jakarta, di kamar kosnya—dan ibunya melihat wajahnya lewat layar untuk pertama kalinya dari rumah sendiri, dan tidak berkata apa-apa untuk beberapa detik, hanya memandang, dan kemudian berkata dengan suara yang biasa saja, yang justru karena itu menghancurkan: 'Kurang makan kamu.' Lalu ia menutup panggilan dengan alasan warung ramai, dan Dimas mengabari kemudian bahwa ibu menangis di dapur setelahnya—dengan tawa, dengan tawa ibu-ibu, tawa yang basah.
Ada satu detail kecil dari hari itu yang tidak diketahui siapa pun kecuali Dimas: setelah warung tutup, ibu mereka duduk lagi di depan router itu, dan menyentuhnya sebentar dengan ujung jari—seperti orang memastikan tamu baru itu nyata—lalu berkata pada Dimas, 'Dulu bapakmu bilang anak-anak kita akan jauh. Beliau nggak pernah bilang jauhnya bisa disambung.' Dimas menceritakannya pada Fahmi malam itu, dan Fahmi tidak menjawab dengan kata-kata, karena ada hal-hal yang hanya bisa dijawab dengan kerja—dan kerja itu sudah berjalan, tiang demi tiang, rumah demi rumah, di kampung yang akhirnya bisa melihat anak-anaknya yang jauh.
Setahun itu berjalan dua jalur: di Jakarta, audit dan program berjalan dengan stabilitas yang sudah matang; di Karawang, tiang demi tiang berdiri, rumah demi rumah menyala. Dan Fahmi berdiri di antaranya, di bus-bus malam, menulis di buku kecilnya: Orang bilang dua jalur itu melelahkan. Tidak ada yang bilang bahwa dua jalur itu juga menopang: ketika Jakarta berat, aku punya Karawang; ketika Karawang lambat, aku punya Jakarta. Duka orang yang satu arah adalah ia hanya punya satu tempat untuk gagal. Aku punya dua tempat untuk pulang—dan dua-duanya rumah.
Bus-bus malam itu sendiri menjadi ruang ketiganya. Di situlah ia menulis audit di ponselnya, di situlah ia menonton kota berganti jadi sawah, di situlah—pada satu malam yang ia ingat—seorang bapak di sebelahnya mengenalinya dari video Tari dan berkata, 'Kamu yang di lantai tujuh itu, ya? Anak saya nonton videonya. Sekarang dia kalau telepon CS nggak pernah marah lagi.' Dan Fahmi tersenyum dan menjawab dengan kalimat yang sudah menjadi refleksnya: 'Bagus. Berarti dia sudah tahu yang di ujung sana juga orang.' Bus itu melaju terus dalam gelap, dan Fahmi memandang keluar jendela, dan berpikir bahwa beginilah seharusnya perubahan bekerja: bukan dari panggung, melainkan dari bus malam—satu orang yang berhenti marah, satu desa yang tersambung, satu kakek yang ditelepon. Lambat. Tapi sampai. Lambat selalu sampai—dan bus malam itu membawanya pulang ke Karawang seperti biasa, dengan dua rumah di dua ujung jalan yang gelap dan tenang dan menunggu, dengan hati yang akhirnya berhenti bertanya ke mana ia harus pergi, karena jawabannya sudah ada di saku, sudah ditulis rapi, sudah diteken dengan sabar: ke dua-duanya, pada waktunya masing-masing, dengan benar, dengan benar, selalu dengan benar.