Desa itu online pelan-pelan, sebagaimana desa melakukan segala sesuatu: dengan curiga dulu, dengan kagum kemudian, dengan tidak bisa lepas pada akhirnya.
Minggu-minggu pertama ada pelajaran yang tidak dihitung dalam proposal: literasi. Sinyal saja tidak cukup—karena orang yang tidak pernah memakai internet tidak tahu apa yang bisa dilakukan dengannya. Maka Dimas, atas dorongan Fahmi, memulai apa yang kemudian mereka sebut kelas warung: sesi-sesi sore di teras balai desa, santai, tanpa nama resmi, tempat orang-orang belajar hal-hal kecil—cara video call, cara mencari harga, cara membedakan kabar benar dari kabar bohong. Fahmi menulis modulnya satu halaman per topik, dengan aturan yang sudah menjadi tangannya: tidak ada istilah yang tidak bisa dijelaskan ke ibu-ibu arisan. 'Kamu ini,' kata Dimas suatu sore, 'membangun jaringan dan mengajari orang memakainya. Dua pekerjaan. Kau tahu itu, kan?' Dan Fahmi menjawab, 'Menyambungkan tanpa mengajari itu seperti membangun sekolah tanpa guru. Gedungnya berdiri, isinya kosong.' Dan Dimas mengangguk—dan Fahmi melihat di mata adiknya sesuatu yang berubah: bukan lagi tenaga yang memanjat tiang, melainkan pembangun yang mulai berpikir seperti pembangun.
Anak-anak sekolah adalah penakluk pertama. Mereka datang ke balai desa pada sore-sore pertama—berdiri di dekat router yang dipasang Dimas di sana, dengan ponsel-ponsel pinjaman—dan dalam seminggu, balai desa punya jam-jam belajar yang tidak direncanakan siapa pun: anak-anak mengerjakan tugas, saling mengajari, saling merebut sinyal dengan hukum rimba yang sopan. Seorang guru menulis surat ke balai desa—surat yang kemudian diteruskan ke Fahmi—bahwa untuk pertama kalinya ia bisa memberi tugas yang 'melampaui buku cetak.'
Lalu warung-warung. Ibu-ibu yang awalnya menolak—'buat apa'—mulai difotokan dagangannya oleh anak-anak mereka, dan pesanan mulai datang dari tetangga desa sebelah, lalu dari kota kecil di seberang. Ibu Fahmi, yang warungnya menjadi titik pertama, mulai menerima pesanan lewat pesan singkat—dan suatu malam menelepon Fahmi dengan suara yang tidak bisa menyembunyikan kemenangan kecilnya: 'Ibu sekarang bisa lihat harga sayur di pasar kota sebelum kulakan, Mi. Lebih murah dua ribu per kilo. Pengetahuan itu, ya? Yang kalian jual-jualin itu?'
'Itu, Bu,' kata Fahmi, tertawa. 'Namanya internet.'
Dan ibunya menjawab dengan kalimat yang membuat Fahmi harus menuliskannya malam itu juga, karena kalimat itu merangkum seluruh perjuangan bertahun-tahun: 'Ibu tidak ngerti namanya, Mi. Tapi Ibu ngerti rasanya. Rasanya kayak punya anak yang dekat lagi, padahal jauh.' Lalu ia kembali ke wajannya—karena warung tidak menunggu perasaan—dan Fahmi menutup telepon dengan satu kepastian kecil yang hangat: bahwa semua tiang itu, semua kabel, semua proposal dan sidang, pada akhirnya hanyalah alat untuk satu kalimat dari seorang ibu yang tidak mengerti namanya tapi mengerti rasanya. Dan kalau suatu hari ada yang bertanya untuk apa ia bekerja, jawabannya sudah ada: supaya yang jauh terasa dekat lagi. Itu saja. Itu selalu saja—di telepon, di tiang, di dalam rumah sakit dan di balai desa, di mana pun orang dipisahkan oleh jarak dan disambungkan kembali oleh orang yang peduli dengan benar, dengan benar.
Dan kemudian hal-hal yang tidak dihitung siapa pun: seorang kakek yang menonton ceramah dari kota; seorang ayah yang melihat anaknya wisuda lewat layar; seorang ibu yang belajar pola jahitan dari video dan mulai menerima jahitan. Sinyal itu berjalan di atas kampung seperti air baru di saluran yang lama kering—dan Fahmi, pada kunjungan-kunjungan akhir pekannya, memetakannya dengan mata yang sudah terlatih: bukan mata orang yang melihat keajaiban, melainkan mata orang yang membaca perubahan. Ia menulis di buku kecilnya: Dulu aku menenangkan orang-orang seperti ini lewat telepon—suara tanpa wajah, untuk orang-orang tanpa nama. Sekarang aku menyambungkan mereka langsung, dengan tiang, dengan kabel, dengan tangan. Pekerjaannya sama: menghilangkan jarak. Hanya alatnya yang berbeda. Dan aku belajar satu hal tentang mimpiku sendiri: aku tidak pernah ingin punya usaha. Aku ingin menghilangkan jarak—dan usaha itu hanya bentuknya. Bentuk boleh berubah. Yang dihilangkan tidak.
Pada akhir musim pertama, uji coba itu dievaluasi dengan angka-angka yang membuat NetraLink membaca dua kali: seratus persen rumah pilot membayar iuran tepat waktu—karena desa membayar dengan cara desa: kolektif, dijaga bersama, dengan rasa malu yang kuat—dan permintaan dari desa-desa sebelah mulai berdatangan, dibawa oleh orang-orang yang datang sendiri ke balai desa untuk bertanya dengan mata berbinar: 'Bisa nggak, kampung kami juga?'
Ada satu sore di akhir musim itu yang menjadi gambar penutup bab ini di kepala Fahmi: ia berdiri di teras balai desa, dan di depannya terhampar pemandangan yang tidak ada dalam satu pun slide proposal—anak-anak dengan ponsel di bangku panjang, dua ibu membandingkan harga, seorang bapak video call dengan anaknya yang jauh dengan volume yang terlalu keras karena ia belum tahu cara mengecilkan, dan Dimas di tiang terakhir, membetulkan sesuatu, dengan tangan yang sudah kapalan. Tidak ada upacara. Tidak ada pita. Hanya sebuah desa yang sedang online seperti ia bernapas: tanpa merayakan, tanpa berhenti. Dan Fahmi memotretnya bukan dengan kamera, melainkan dengan berdiri di sana lebih lama dari yang diperlukan—karena ada pemandangan yang harus disimpan dengan mata, dan ini salah satunya: jarak yang sedang menghilang, pelan-pelan, rumah demi rumah, dengan orang-orang yang tidak lagi harus memilih antara kampung dan dunia.