Proposal itu ditulis dalam dua minggu, di malam-malam setelah shift, dengan Dimas mengirimkan data lapangan dari Karawang—jumlah rumah, jarak tiang, harga alat bekas yang masih bagus.
Fahmi menuliskannya dengan cara yang sudah menjadi tangannya: bukan sebagai permintaan derma, melainkan sebagai penawaran kerja sama. Program internet RT/RW untuk desa-desa yang tidak masuk hitungan provider—dibangun dengan modal awal, dijalankan dengan swadaya, dengan teknisi lokal yang dilatih (Dimas, baris pertama), dengan model iuran yang dihitung dari kemampuan warung-warung kecil. Dan NetraLink—ini bagian yang ia tulis dengan paling hati-hati—bukan sebagai donatur, melainkan sebagai mitra: perangkat dengan harga khusus, dukungan teknis, dan nama baik yang akan datang sendiri, karena perusahaan yang menyambungkan desa adalah perusahaan yang akan diingat desa selamanya.
'Tulis seperti kamu menulis syarat-syarat dulu,' kata Wulan membacanya. 'Bukan meminta. Menawarkan nilai.'
'Itu yang kulakukan,' kata Fahmi. 'Aku tidak meminta mereka menolong kampungku. Aku menawari mereka menjadi perusahaan yang pertama kali melihat orang-orang yang tidak pernah dilihat industri.'
Data lapangan Dimas adalah bagian yang paling menyenangkan dari minggu-minggu itu. Adiknya mengirimkan foto-foto dari Karawang dengan keterangan yang lama-lama makin rapi: jumlah rumah per dusun, jarak antar tiang listrik, satu peta yang digambar dengan penggaris dan semangat. Sekali, Dimas mengirim pesan yang membuat Fahmi tertawa di tengah malam: 'Kang, aku ngomong sama Pak RT. Beliau kira internet itu semacam kabel listrik. Sudah kujelaskan dengan sabar kayak kamu ngajarin nenek-nenek. Aku ngerti sekarang kenapa kamu selalu capek.' Dan kemudian, lebih serius: 'Tapi waktu aku bilang anak-anak bisa belajar online, mata Pak RT langsung beda. Semua orang di sini langsung beda kalau ngomongin anak sekolah.' Fahmi menuliskan itu di proposalnya, di halaman orang-orang—karena itu adalah data yang paling keras: bahwa di desa itu, satu-satunya hal yang membuat mata orang berubah adalah masa depan anak-anaknya.
Ada satu malam penulisan yang menentukan bentuk akhir proposal itu. Fahmi menulis versi pertama dengan bahasa perusahaan—proyeksi, margin, cakupan—dan membacanya ulang dengan perasaan yang salah. Lalu ia membuangnya, dan menulis ulang dari nol, dengan aturan yang ia tulis di atas halaman: tulis seperti kamu bicara ke Pak RT. Bukan merendahkan—menjembatani. Karena proposal ini akan dibaca oleh dua dunia sekaligus: direksi dan desa. Dan keduanya berhak memahami apa yang akan dibangun di tanah mereka. Versi kedua itu yang dikirim—dengan angka yang ketat di dalam dan bahasa yang hangat di luar, sebagaimana rumah yang baik: kokoh di dalam, ramah di luar.
Ada satu bagian kecil yang diperjuangkan Fahmi lebih keras dari bagian lainnya: bagian tentang teknisi lokal. Bahwa orang-orang desa itu sendiri yang akan dilatih merawat jaringannya—Dimas yang pertama—sehingga program itu tidak menciptakan ketergantungan, melainkan keterampilan. 'Program yang baik tidak membuat desa menunggu teknisi dari kota,' tulisnya. 'Program yang baik membuat desa tidak perlu menunggu siapa pun.' Wulan membaca bagian itu dan mengangguk, dan menambahkan satu baris: 'Dan orang-orang yang dilatih itu, suatu hari, akan melatih desa sebelahnya. Begitu cara kerja yang benar berjalan—dari tangan ke tangan, tanpa pernah perlu izin.' Dan mereka menatap halaman itu berdua, dua orang yang telah menghabiskan bertahun-tahun membangun hal-hal yang berjalan sendiri, dan mengenali dalam proposal kecil ini bentuk yang sama: bukan program, melainkan benih.
Ia melampirkan semuanya dengan teliti yang sudah menjadi mereknya: data lapangan Dimas, peta-peta kasar yang digambar ulang dengan rapi, hitungan biaya yang dibongkar sampai ke baut, dan—di halaman paling depan, sebelum satu pun angka—satu halaman tentang orang-orangnya: tentang anak SD yang tugasnya tidak bisa dibuka, tentang warung yang tidak bisa difoto dagangannya, tentang kakek yang anaknya merantau. Ia belajar dari semua yang sudah terjadi: angka membuka telinga, tapi orang membuka hati. Dan keputusan besar selalu melewati hati dulu, bahkan di gedung paling korporat sekalipun.
Sebelum dikirim, proposal itu dibaca oleh tiga orang yang ia percaya matanya: Wulan, yang memperbaiki struktur argumennya; Pram, yang mencoret bagian-bagian yang 'terlalu indah'—'biarkan angkanya yang indah, kalimatnya tetap kerja'; dan Hendra, yang membacanya dalam diam panjang dan hanya berkata satu kalimat: 'Kirimkan dengan namaku di surat pengantar. Biar mereka tahu site ini berdiri di belakangnya.'
Malam pengirimannya, Fahmi menulis di buku kecilnya: Proposal kampung sudah berangkat. Dua tahun lalu aku menulis syarat untuk mesin dengan tangan gemetar. Malam ini aku menulis proposal untuk kampungku dengan tangan yang sama—lebih tenang, lebih tua, tapi dengan gemetar yang sama di tempat yang sama. Mungkin gemetar itu tidak pernah hilang. Mungkin ia cuma berpindah dari takut ke harap. Dan harap yang gemetar adalah bentuk doa yang paling jujur: kau menuliskannya, kau kirimkan, dan kau pulang kerja besok seperti biasa, karena mimpi yang benar tidak pernah menghentikan hari biasa—ia justru yang membuat hari biasa berarti.
Dan sebelum tidur, satu telepon ke rumah—bukan tentang proposal, tentang warung, tentang kucing di etalase. Ibunya menutup telepon dengan kalimat yang biasa, 'hati-hati di jalan, jangan lupa makan,' dan Fahmi berbaring dengan ponsel di dada dan memikirkan bahwa semua proposal ini, semua syarat dan audit dan rapat, pada dasarnya hanyalah satu kalimat ibunya yang diperpanjang: hati-hati di jalan, jangan lupa makan—diucapkan oleh orang-orang yang menjaga orang-orang lain, dengan cara mereka masing-masing, di jam mereka masing-masing, di jam yang benar.