Shift malam pertama Fahmi dimulai pukul sebelas, dan gedung itu jadi makhluk yang berbeda. Lampu separuh dipadamkan untuk hemat listrik, AC dikecilkan, dan lantai tujuh yang siang hari penuh sesak kini cuma diisi belasan orang, pulau-pulau cahaya monitor di lautan gelap. Bising siang berganti senyap yang punya gema sendiri.
Fahmi memilih shift malam karena bayarannya sedikit lebih tinggi, dan tambahan itu berarti ia bisa mengirim lebih banyak ke ibunya bulan ini. Adiknya, Dimas, baru telat satu kali cicilan motor, dan Fahmi tidak mau itu terjadi lagi. Ia duduk di kursi nomor empat puluh tiga, kursinya, kursi yang siang tadi ditumpangi orang lain, hangat oleh tubuh yang tak ia kenal. Hangat berpindah tangan, seperti utang.
Pram juga shift malam. Begitu pula seorang agen pendiam bernama Joko dan dua perempuan yang Fahmi belum hafal namanya. Tari tidak; Tari benci malam. Tapi shift malam punya solidaritasnya sendiri, kata Pram, semacam persaudaraan orang-orang yang terjaga saat dunia tidur.
Pukul satu dini hari, di jam mati ketika antrean turun jadi hijau untuk pertama kalinya, Pram menepuk bahu Fahmi. "Rooftop. Ayo. Lima belas menit. Wulan nggak ada, sistem auto-pause kalau nggak ada panggilan."
Di rooftop, angin Jakarta dini hari terasa hampir bersih. Lampu kota terbentang di bawah seperti papan sirkuit raksasa, dan di kejauhan, lampu merah menara komunikasi berkedip pelan. Pram menyalakan rokok. Joko menelepon seseorang, suaranya melembut, memanggil sayang ke ponselnya — istrinya, kata Pram, dan bayi yang baru lahir, yang cuma bisa Joko temui lewat layar karena ia tidur saat bayinya bangun dan bekerja saat bayinya tidur.
Mereka bicara, dan di ketinggian itu, dengan kota terlelap di bawah, orang lebih mudah jujur. Fahmi bercerita tentang Karawang, tentang ibunya yang membuka warung kecil, tentang Dimas yang masih sekolah. Tentang mimpinya — yang ia ucapkan malu-malu, takut ditertawakan — membuka usaha pasang WiFi RT/RW di kampungnya. "Banyak rumah di sana belum dapat internet bener," katanya. "Kalau aku punya modal dikit, beli alat, aku bisa sambungin satu RT. Aku ngerti teknisnya. Tinggal modalnya." Ia tertawa kecil, getir. "Tapi gaji habis buat kos, kiriman ibu, cicilan Dimas. Nabung kayak nimba air pakai ember bocor."
Pram tidak menertawakannya. Ia menghisap rokoknya, memandang kota. "Mimpi yang bagus," katanya, dan tidak menambahkan apa-apa, yang dari Pram adalah pujian tertinggi.
Mereka turun lagi. Pukul tiga, jam paling sepi, paling rapuh. Antrean kosong. Fahmi hampir mengantuk ketika satu panggilan masuk, satu-satunya, dan ia menahan napas tiga detik, menjawab.
Tidak ada keluhan WiFi.
Suara di ujung sana laki-laki muda, datar, lambat, seperti orang yang sudah lama tidak tidur. Ia tidak menyebut nama. Ia bicara setengah ngelantur tentang gelap, tentang capek, tentang tidak ingin ada di sini lagi, dan pelan-pelan Fahmi mengerti, dan seluruh tubuhnya jadi dingin. Ini bukan panggilan yang ia tahu cara menanganinya. Ini bukan modem yang bisa di-reboot.
Fahmi tidak berpura-pura jadi penyelamat. Ia tidak punya pelatihan untuk ini, dan ia tahu itu. Yang ia lakukan adalah satu hal yang ia bisa: ia tetap di telepon, dan ia tidak menutupnya. Ia bicara pelan, ia menyebut bahwa ia mendengar, ia bertanya pelan apakah ada orang yang bisa menemani laki-laki itu sekarang. Sambil bicara, tangannya gemetar mengetik pesan ke Pram di kursi sebelah: panggilan krisis. orang mau bunuh diri. tolong.
Pram membaca, wajahnya langsung berubah, dan ia bergerak cepat tanpa panik — Pram pernah melihat ini, Fahmi sadar belakangan. Pram membuka prosedur yang Fahmi tidak tahu ada: NetraLink, seperti perusahaan besar lain, punya protokol untuk panggilan krisis, daftar nomor hotline pencegahan bunuh diri resmi, instruksi untuk tetap menjaga jalur sambil mengeskalasi. Pram menulis nomor hotline itu di sticky note dan menempelkannya di depan Fahmi, lalu mengaktifkan prosedur eskalasi, memberi tahu Fahmi pelan-pelan apa yang boleh dan tidak boleh ia katakan. Bukan agen yang menyelamatkan. Sistem yang dirancang untuk momen seperti ini, dijalankan oleh tangan yang gemetar.
Fahmi memberi laki-laki itu nomor hotline. Ia tidak tahu apakah ia menelepon. Ia tidak tahu apa yang terjadi setelah panggilan ditutup, tiga puluh tujuh menit kemudian, ketika laki-laki itu berkata pelan, "makasih udah dengerin," dan saluran terputus. Tidak ada lonceng kemenangan. Tidak ada rasa heroik. Hanya keheningan dini hari dan Fahmi yang gemetar di kursinya, headset masih di kepala, menatap layar yang kosong.
Pram menarik kursinya mendekat, tidak bicara dulu. Lalu, pelan, "Kamu nggak tahu dia gimana setelahnya. Aku juga nggak. Kita nggak akan pernah tahu. Itu bagian yang paling berat." Ia menatap Fahmi lurus. "Kamu udah lakuin yang bener. Kamu jaga jalurnya, kamu kasih nomor yang tepat, kamu nggak sok jadi dokter. Itu yang bisa kita lakuin. Cuma itu. Jangan kamu pikul lebih dari itu, Mi, atau kamu yang abis."
Tapi Fahmi tahu, bahkan saat Pram berkata begitu, bahwa ia akan memikulnya. Bahwa wajah tanpa wajah itu, suara lambat dini hari itu, akan ikut pulang bersamanya, menumpang di pundaknya seperti hangat yang berpindah dari kursi ke kursi. Ia pulang naik angkot pertama saat subuh, langit Jakarta memerah di tepi, dan ia menelepon ibunya — bukan karena ada perlu, hanya karena ia ingin mendengar suara yang menjawabnya, untuk berubah peran, untuk jadi orang yang menelepon, bukan orang yang diangkat. Ibunya mengangkat di dering kedua, suaranya serak oleh kantuk. "Halo? Fahmi? Ada apa, Nak, pagi-pagi?" Dan Fahmi, di pinggir jalan Cawang yang basah, hanya berkata, "Nggak apa-apa, Bu. Fahmi cuma kangen aja."