Jawaban itu ditulisnya dalam dua malam, dan Wulan membacanya dengan pensil—tapi kali ini pensil itu jarang turun.
Tiga syarat, tertulis sederhana, tanpa kemarahan, tanpa pidato. Satu: transparansi. Setiap panggilan Asisten Suara dibuka dengan pengakuan—'Anda terhubung dengan asisten otomatis'—karena kehangatan yang menyamar bukan kehangatan, melainkan jebakan. Dua: jeda mesin. Mesin wajib mengoper ke manusia ketika menemui tanda-tanda yang dipetakan dari audit—tangis yang tidak selesai, diam yang panjang, kata-kata tentang berhenti—bukan sebagai opsi, melainkan sebagai aturan tertulis, dengan daftar tandanya dilampirkan. Tiga: jalur manusia. Tidak ada panggilan yang dikunci di dalam mesin; selalu ada manusia yang bisa dicapai, di setiap jam, di setiap hari; dan lisensi suaranya berhenti berlaku hari itu juga jika jalur manusia dihapus.
Ketiga syarat itu berdiri di atas tabel seperti tiga kaki: cabut satu, jatuh semua.
'Kau tahu ini bukan negosiasi,' kata Wulan setelah membacanya. 'Ini ultimatum. Mereka bisa bilang tidak.'
'Boleh,' kata Fahmi. 'Mereka boleh bilang tidak. Tapi mereka tidak bisa bilang aku tidak menawar.'
Wulan menatapnya, dan tersenyum—senyum yang jarang, senyum tanpa beban. 'Kau tahu kau berubah bentuk, kan? Dulu kau menolak dengan cara menyerahkan diri. Sekarang kau menolak dengan cara berdiri.'
'Aku tidak menolak, Mbak. Aku menjual dengan benar.'
Surat itu naik ke NetraLink melalui jalur resmi—dengan persetujuan Hendra, yang membacanya dan berkata hanya satu kalimat: 'Akhirnya ada orang yang menjual suara sambil menjaga orang. Biar kuperjuangkan.' Ia membacanya dua kali sebelum mengatakannya, dan Fahmi menangkap sesuatu di wajahnya yang jarang terlihat: bukan perhitungan, melainkan kehormatan. 'Dan satu hal,' tambah Hendra, 'surat ini naik dengan namamu di atasnya. Bukan nama site. Bukan namaku. Orang yang menulis syarat harus terlihat oleh orang yang menandatangani—karena nanti, kalau ada yang dilanggar, mereka harus tahu ke siapa mereka melanggar janji.' Dan kemudian datanglah minggu-minggu yang oleh Fahmi disebut sebagai minggu-minggu tanyakan-ulang: setiap syarat ditanyakan ulang, diputar, ditawar. Transparansi, kata mereka, menurunkan tingkat kenyamanan pelanggan. Jeda mesin menurunkan efisiensi. Jalur manusia menghapus penghematan. Setiap keberatan dicatat Fahmi, dan setiap keberatan ia jawab dengan data dari audit—dengan tujuh belas panggilan, dengan panggilan ulang, dengan ya sudah yang bukan selesai. Ia tidak menaikkan suaranya satu kali pun. Itu bagian yang paling menggetarkan Hendra saat menyaksikannya: anak yang dulu gagap memperkenalkan diri ini bernegosiasi dengan raksasa seperti orang membaca cuaca.
Ada satu pertemuan yang kemudian menjadi cerita yang diulang di lantai tujuh dengan cara yang berbeda-beda—sebagaimana legenda kecil selalu berubah di mulut orang. Yang pasti: seorang manajer tengah NetraLink, dengan kesabaran yang menipis, berkata bahwa syarat-syarat itu 'idealistis', dan kata itu digantungkan di udara seperti vonis. Dan Fahmi menjawab—semua saksi sepakat tentang kalimatnya, karena kalimat itu kemudian ditulis di papan ruang kaca—'Idealis adalah kata yang dipakai orang untuk menyebut sesuatu yang benar tapi belum dihitung harganya. Saya membawa harganya, Pak. Ada di lampiran dua.' Dan lampiran dua itu memang ada: hitungan panggilan ulang, biaya kepercayaan yang bocor, semuanya dengan angka. Manajer itu membacanya dengan wajah yang tidak berubah, tapi ia tidak lagi memakai kata idealis dalam pertemuan itu—dan Wulan, yang menyaksikan dari samping, menuliskan di catatan rapatnya: hari ini idealisme masuk rapat dan keluar sebagai item anggaran.
Pertemuan-pertemuan itu melelahkan dengan cara yang baru bagi Fahmi—bukan lelah panggilan, melainkan lelah pendirian: menahan bentuk saat semua orang menekannya untuk melengkung. Pram memberinya satu kalimat penopang di tengah minggu-minggu itu, di rooftop, dengan rokoknya: 'Mereka tidak menunggumu salah, Mi. Mereka menunggumu capek. Kemenangan orang-orang seperti mereka bukan argumen—kemenangan mereka adalah kelelahanmu. Jadi satu-satunya taktik yang benar adalah: jangan capek di depan mereka. Capeklah di sini, di atap, di antara kita. Di sana, kau tidak capek. Di sana kau batu.'
'Kau tidak takut mereka pergi?' tanya Tari suatu malam.
'Aku takut,' kata Fahmi. 'Tapi aku lebih takut menjual suaraku ke mesin yang akan menutup pintu di depan Pak Suryo. Ada ketakutan yang kautoleransi karena tidak ada pilihan. Ini bukan itu. Ini pilihan.'
Tari memikirkannya, lalu mengangguk, lalu berkata sesuatu yang membuat Fahmi menatapnya lama: 'Kamu tahu bedanya kamu sekarang sama dulu? Dulu kamu takut mereka pergi karena kamu butuh dibutuhkan. Sekarang kamu berani mereka pergi karena kamu tahu untuk apa kamu dibutuhkan.' Ia menyendok es krim pantry yang setengah cair. 'Itu bukan keberanian, Mi. Itu alamat. Kamu sudah tahu alamatmu.' Dan Fahmi tidak menjawab, karena kalimat itu terlalu benar untuk dijawab—tapi malam itu ia menuliskannya di buku kecilnya, dengan bingkai kecil di sekelilingnya, karena ada kalimat dari sahabat yang harus disimpan seperti peta: untuk hari-hari ketika ia lupa di mana rumahnya berdiri.
Dan ada satu hal yang tidak ia ceritakan kepada Tari malam itu—karena belum waktunya, karena beberapa hal harus dimasak dulu sebelum disajikan: bahwa di kolom mimpi, di bawah huruf-huruf RT/RW, angka lisensi itu akan cukup. Bukan untuk segalanya. Tapi cukup untuk memulai. Tiap kali ia memikirkannya, dadanya menghangat dengan cara yang berbeda dari hangatnya pujian—hangat yang lebih tua, hangat tanah sendiri. Syarat-syarat itu bukan hanya untuk orang-orang di ujung telepon. Syarat-syarat itu, tanpa ia rencanakan sepenuhnya, juga menjadi jembatan pulang.