Surat itu datang resmi, dengan kop NetraLink, dua minggu setelah presentasi Hendra—dan isinya membuat Fahmi membaca tiga kali sebelum ia yakin ia memahaminya.
NetraLink, sebagaimana dijelaskan surat itu dengan bahasa korporat yang halus, ingin 'melisensikan kontribusi suara' miliknya untuk pengembangan Asisten Suara tahap berikutnya. Ada angka di sana. Angka yang membuat Fahmi duduk. Angka yang bisa membeli—ia menghitungnya tanpa sadar—tiang-tiang RT/RW untuk satu dusun, atau melunasi motor Dimas dua kali, atau membebaskan ibunya dari warung selamanya. Angka itu diletakkan dengan manis di tengah surat, seperti gula di tepi racun yang tidak beracun—karena tidak ada racun di sana, hanya kontrak: hak pakai, cakupan, jangka waktu.
Ia membawanya pulang dan tidak menyentuhnya semalaman. Kemudian membawanya ke Pram, di rooftop, karena itulah tempat segala keputusan besar dipertimbangkan.
Pram membacanya, dan reaksinya bukan yang Fahmi duga. Tidak ada sinisme. Hanya pertanyaan, datar, seperti orang memeriksa mesin: 'Mereka minta suaramu. Pertanyaanku: suaramu yang mana? Yang sekarang, atau yang akan datang? Suara berubah, Mi. Kau berubah. Kalau kau jual suaramu hari ini, kau menjual versimu yang sekarang—dan orang akan mendengarnya sepuluh tahun dari sekarang dan mengira itu kau.'
'Itu masalahnya?'
'Itu salah satunya.' Pram menyerahkan suratnya kembali. 'Masalah yang lebih besar: mereka akan membayarmu sekali, untuk sesuatu yang akan bekerja selamanya. Itu bukan lisensi, itu panen. Tapi—' dan ini bagian yang membuat Fahmi menatapnya, '—mereka menawar. Itu artinya mereka butuh. Dan kalau mereka butuh, kau punya posisi. Jangan jawab dengan emosi. Jawab dengan daftar.'
Malam itu Fahmi melakukan apa yang selalu ia lakukan ketika dunia menawar hatinya: ia menulis dua kolom. Kolom kiri: apa yang kudapat. Uang. Keamanan. Modal mimpi. Kolom kanan: apa yang kuminta. Dan kolom kanan itu sudah tertulis lama, sejak malam ia menulisnya di buku kecilnya setelah pelanggan yang marah pada mesin: mesin itu harus mengaku. Sejak audit lima puluh rekaman: mesin itu harus tahu kapan berhenti. Sejak tujuh belas panggilan: harus selalu ada manusia di ujung jalur. Tiga syarat. Bukan harga—syarat.
Tapi sebelum dua kolom itu, ada satu telepon yang harus ia lakukan lebih dulu—karena angka sebesar itu bukan miliknya sendiri; angka itu milik keluarganya juga, dan keputusan tentangnya tidak boleh diambil sendirian dalam kamar kos. Ia menelepon ibunya, dan menceritakannya apa adanya: ada perusahaan yang mau membeli suaranya, Bu, buat mesin, dan bayarannya besar. Ibunya diam sebentar, dan bertanya pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan seminar mana pun: 'Kalau suaramu dijual, terus kamu pakai apa?' Fahmi tertawa—dan kemudian berhenti, karena pertanyaan itu tidak selucu bunyinya. 'Suara aku tetap punyaku, Bu. Yang dijual tiruannya.' Dan ibunya menjawab dengan kebijaksanaan warung yang sudah menjadi kompasnya: 'Kalau begitu jualnya jangan murah hati. Barang yang baik dijual dengan aturan yang baik. Kamu pernah cerita ke Ibu soal kakek yang telepon tiap pagi. Aturannya harus untuk orang-orang seperti dia, bukan untuk kau doang. Uangnya itu buat kita, Mi, dan Ibu tidak menolak—Ibu tua tapi tidak sok. Tapi aturannya itu untuk orang-orang yang tidak ada di ruang perundingan. Mereka tidak bisa datang. Kamu datang bawa mereka.'
Tari mengetahuinya keesokan harinya dan reaksinya melewati tiga fase dalam satu menit: kaget, hitung-hitungan dengan mata membesar, lalu—dan ini yang membuat Fahmi bangga tanpa bilang apa-apa—kehati-hatian. 'Jangan tanda tangan sebelum dibaca pengacara,' katanya. 'Aku kenal orang yang jual videonya murah, terus videonya dipakai selamanya untuk hal-hal yang dia benci. Suara itu lebih dalam dari video, Mi. Suara itu kamu.'
Ia tidak menulis jawabannya malam itu. Ia menimbangnya, seperti yang diajarkan hidupnya, sampai datanya lengkap. Tapi sebelum tidur ia menulis satu baris di buku kecilnya, dan baris itu adalah kompasnya untuk seminggu ke depan: Mereka ingin membeli suaraku. Baik. Maka suaraku akan dijual dengan cara yang mengajari mereka untuk apa suara itu sebenarnya—bukan untuk terdengar manusia. Untuk memuliakan manusia yang masih ada di ujung jalur.
Malam-malam berikutnya, sebelum jawaban itu ditulis, ia melakukan satu hal lagi yang menjadi polanya: membaca ulang surat penawaran itu dengan mata orang lain. Mata ibunya: cukupkah untuk warung, untuk Dimas? Mata Pak Suryo: apa artinya mesin ini bagi kakek yang menunggu suara tiap pagi? Mata Tari: apa artinya bagi orang yang menceritakan kami? Mata Pram: apa yang bisa disalahgunakan? Setiap mata memberi catatannya, dan catatan itu berbaris di margin surat resmi itu seperti komentar rumah tangga pada dokumen korporat. Ketika akhirnya ia menulis jawabannya, ia menulis bukan sebagai Fahmi yang sendirian—melainkan sebagai orang yang telah meminjam banyak mata, dan tahu persis karena itu: surat ini bukan tentang aku. Surat ini tentang semua orang yang tidak diundang ke meja itu. Malam itu, sebelum menutup buku kecilnya, ia menulis satu halaman lagi—halaman yang tidak akan dikirim ke mana-mana: daftar orang-orang yang suaranya ada di dalam suaranya. Ibunya, yang mengajarinya menjawab telepon warung sejak kecil. Pram, yang mengajarinya tiga detik. Pak Suryo, yang mengajarinya menunggu. Bahkan pelanggan-pelanggan yang marah—karena mereka yang mengajarinya sabar. Suara yang ingin mereka beli itu bukan suaraku sendiri, tulisnya. Ia paduan suara. Dan paduan suara tidak boleh dijual murah—tidak boleh dijual tanpa syarat, tanpa jeda, tanpa jalur pulang.