Negosiasi itu berjalan empat minggu, dan titik baliknya datang dari tempat yang tidak disangka: dari angka-angka Hendra sendiri.
Karena ketika syarat-syarat Fahmi ditolak mentah dengan argumen biaya, Hendra melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya untuk siapa pun: ia membuka pembukuan site-nya. Ia menghitung—dengan jujur yang menyakitkan, karena angkanya melawan posisi lamanya sendiri—berapa biaya panggilan ulang yang dicetak mesin, berapa biaya reputasi dari tulisan pelanggan yang marah, berapa biaya seorang agen yang masuk klinik dan sebuah tim yang hidup dalam ketakutan dipecat. Angka itu tumbuh menjadi sebuah kesimpulan yang tidak nyaman bagi semua orang di ruangan: manusia yang dijaga lebih murah daripada manusia yang diganti—dan mesin yang dijaga manusia lebih murah daripada mesin yang dibiarkan sendirian.
'Kau baru saja membuktikan argumenku dengan uang,' kata Wulan ketika membacanya.
'Aku membuktikan argumen siapa pun yang benar,' kata Hendra. 'Itu kebiasaan baruku.' Ia menyimpan kalkulatornya, dan menambahkan dengan nada yang hampir ringan, 'Kau tahu apa yang paling menyakitkan dari berpihak pada angka, Wulan? Ketika angkanya berpindah pihak. Aku menghabiskan setahun meyakinkan diriku bahwa efisiensi itu benar secara hitungan. Lalu aku menghitung dengan jujur, dan hitungan jujur itu mengkhianati keyakinkanku. Orang tidak memberitahumu bagian itu—bahwa kejujuran pada angka bisa membawamu ke tempat yang tidak kau rencanakan.' Ia menatapnya sebentar. 'Tempat yang lebih baik. Tapi tetap saja tidak direncanakan.'
Dua pertemuan terakhir berjalan dengan bahasa yang berubah. Bukan lagi apakah syarat-syarat itu diterima, melainkan bagaimana menuliskannya dengan benar. Mita—perempuan muda dari divisi pengalaman pelanggan—muncul sebagai jembatan di dalam NetraLink: ia yang menerjemahkan syarat jeda mesin ke dalam spesifikasi teknis, ia yang menulis kalimat pengakuan otomatis, ia yang membawa bukti bahwa transparansi justru menaikkan kepercayaan di pasar uji kecil yang ia jalankan diam-diam. 'Orang tidak marah pada mesin yang jujur,' lapornya, data kecil di tangannya. 'Mereka marah pada mesin yang menyamar. Kalian punya aset yang tidak dimiliki pesaing: suara manusia yang meminta izin.'
Dan jawaban akhirnya datang, dalam surat yang ditandatangani dengan berat dan keraguan, dengan kompromi di tepi-tepinya tapi ketiga tulangnya utuh: mesin akan mengaku. Mesin akan berjeda. Jalur manusia akan dijaga—tertulis, dengan sanksi, dengan tanggal tinjauan.
Wulan membacakannya di lantai, dan untuk beberapa detik tidak ada yang bicara. Lalu Joko—Joko yang jarang bicara—mulai bertepuk tangan, pelan, sekali, dan lantai itu menyusul, bukan riuh, melainkan panjang, seperti hujan yang turun setelah musim kering. Fahmi berdiri di tengahnya dengan wajah yang tidak tahu harus menjadi apa, sampai Tari berteriak 'itu suaranya dia, itu syaratnya dia!' dan semuanya menjadi pelukan-pelukan yang canggung dan tawa yang basah.
Yang tidak ikut bertepuk tangan—karena sedang menimbang—adalah Hendra. Malam itu ia menemui Fahmi, dan berdiri di samping biliknya, dan berkata dengan cara orang yang tidak biasa memberi pujian: 'Aku sudah dua puluh tahun di industri ini. Aku sudah lihat banyak orang menang. Tapi aku baru kali ini melihat orang menang dengan cara yang membuat yang kalah tidak merasa dipermalukan. Kau tahu apa sebutannya? Kepemimpinan. Bukan jabatan—kepemimpinan. Dan kepemimpinan itu tidak bisa diminta kembali.' Ia menepuk partisi bilik itu dua kali, canggung, dan pergi sebelum Fahmi sempat menjawab—dan Fahmi berdiri di sana dengan kalimat yang tidak sempat keluar, karena ada pujian yang memang harus diterima dalam keadaan tertinggal pemujinya.
Soal uang lisensi itu sendiri, keputusan Fahmi menjadi berita kecil tersendiri di pantry: sebagian untuk ibu dan Dimas—utang motor lunas, tabungan warung—dan sebagian, yang membuat Pram mengangkat alisnya, disisihkan ke dalam amplop yang ia beri label sederhana: RT/RW. 'Kurang dari sepertiga yang dibutuhkan,' katanya jujur pada Pram. 'Tapi ini pertama kalinya baris itu punya isi yang nyata. Ember bocor itu akhirnya punya tambalan.' Pram memandanginya, dan berkata, 'Kau tahu, dari semua orang yang pernah kukenal dapat uang besar mendadak, kau satu-satunya yang langsung menulisnya di kolom mimpi. Orang biasa menulisnya di kolom lega.' 'Aku juga menulis di kolom lega,' kata Fahmi. 'Ibu di kolom lega. Aku di kolom mimpi. Ibu dulu, baru aku. Itu aturannya.'
Tapi malam itu, di rooftop, Pram memberinya kalimat penutup yang benar, sebagaimana selalu: 'Kau menang, Mi. Nikmati malam ini. Besok ingat: syarat di kertas adalah janji. Janji harus dijaga—dan penjaga janji itu, mulai minggu depan, adalah kau.'
Fahmi mengangguk, dan memandang kota yang berkilau di bawah, dan untuk pertama kalinya sejak surat penawaran itu datang, ia memikirkan hal yang tidak berkaitan dengan syarat atau angka: bahwa suaranya—suaranya yang dulu keluar tersendat di hari pertama, yang ia benci karena gemetar—kini akan menjawab ribuan orang setiap hari, di tempat-tempat yang tidak akan pernah ia lihat, mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak pernah ia tulis. Suara itu akan mengatakan 'saya asisten otomatis' di awal setiap panggilan—dan Fahmi tersenyum memikirkannya, karena ada keindahan yang ganjil di sana: suaranya akan selamanya jujur tentang dirinya. Banyak manusia tidak pernah belajar itu. 'Kau tahu apa yang lucu?' katanya pada Pram. 'Mesin itu akan lebih jujur tentang dirinya daripada kebanyakan orang. Itu syarat pertamaku. Mungkin itu juga satu-satunya yang penting.' Pram tidak menjawab langsung; ia hanya mengangkat gelas kopinya ke arah kota, seperti bersulang, dan berkata, 'Untuk mesin yang jujur. Semoga manusianya menyusul.'