Ada ritme tersembunyi di balik antrean yang merah itu, dan setelah dua minggu Fahmi mulai mengenalinya. Pagi diisi ibu-ibu dan WiFi yang ngambek. Siang diisi orang kantoran yang panik kerja dari rumah. Malam, kata Pram, diisi yang paling aneh. Tapi ada satu pelanggan yang datang di luar ritme, hampir tiap hari, di jam yang sama, pukul sepuluh pagi, seperti janji yang hanya dipegang satu pihak.
Namanya Pak Suryo. Tujuh puluh tiga tahun, tinggal sendiri di rumah kontrakan kecil di daerah Klender. Fahmi tahu umurnya karena Pak Suryo selalu menyebutnya. Ia tahu Klender karena Pak Suryo selalu menyebutnya. Ia tahu banyak hal tentang Pak Suryo, padahal seharusnya ia tidak perlu tahu apa pun selain nomor pelanggannya.
"Halo, NetraLink? Ini WiFi saya kok pelan, ya?" Itu kalimat pembukanya, selalu sama. Dan setelah Fahmi mengeceknya — selalu, kecepatan internetnya baik-baik saja — percakapan tidak pernah berhenti di situ.
Karena Pak Suryo tidak menelepon soal WiFi. Pak Suryo menelepon karena istrinya meninggal dua tahun lalu, anak-anaknya di Surabaya dan jarang menelepon, dan suara di ujung telepon NetraLink adalah satu-satunya manusia yang menjawabnya tiap hari. WiFi hanyalah tiket masuk. Tiket yang ia beli tiap bulan demi hak menelepon dan didengar.
Fahmi tahu ini melanggar segalanya. Ia tahu setiap menit yang ia habiskan mendengar Pak Suryo bercerita tentang cucunya yang baru masuk SD, tentang harga cabai yang naik, tentang radio tua yang ia perbaiki sendiri, adalah menit yang membakar AHT-nya. Tapi ketika Pak Suryo, di tengah cerita tentang istrinya, berkata pelan, "Maaf ya, Mas Fahmi, Bapak kebanyakan ngomong. Bapak cuma... nggak ada yang diajak ngomong di sini," Fahmi tidak bisa memotongnya. Ia secara fisik tidak mampu.
"Nggak apa-apa, Pak," katanya. "Bapak cerita aja. Saya dengerin."
Pram mendengar penggalan itu lewat headset yang Fahmi lupa kecilkan. Setelah panggilan ditutup — empat belas menit, rekor pribadi Fahmi yang memalukan — Pram memutar kursinya.
"Empat belas menit, Mi."
"Dia kesepian, Pram."
"Semua orang kesepian." Pram tidak mengatakannya dengan kejam. Justru itu yang membuatnya menusuk. Ia mengatakannya seperti orang yang sudah lama berdamai dengan fakta itu. "Dengar. Aku nggak nyuruh kamu kejam. Aku cuma mau kamu ngerti satu hal. Di sini, kita jual suara. Bukan hati. Suara itu bisa kamu pakai delapan jam, lepas, pulang, masih utuh. Hati nggak begitu. Hati kalau kamu kasih ke tiap orang di telepon ini, abis. Habis betul. Dan nggak ada yang ganti."
Fahmi diam. Di luar jendela, Jakarta kelabu, langit menggantung berat seperti mau hujan. "Kamu kayak ngomong dari pengalaman."
Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang lewat di wajah Pram, cepat, seperti bayangan burung di tirai. Lalu hilang. "Aku ngomong dari modul," katanya datar, dan kembali ke layarnya.
Hari itu galeri pelanggan terus berputar di telinga Fahmi seperti komidi yang tak pernah tutup. Seorang remaja menelepon, suaranya pecah-pecah marah, menuntut NetraLink bertanggung jawab karena permainannya nge-lag dan ia kalah di pertandingan penting. "Gara-gara ping kalian, Bang, gua kalah! Tim gua ngatain gua! Ini WiFi sampah!" Fahmi, yang mengerti dunia ini lebih dari yang anak itu kira, menjelaskan soal server game yang ada di luar negeri, soal jam sibuk, dan diam-diam memberi tips kecil mengatur prioritas jaringan yang tidak ada di naskah. Anak itu terdiam, lalu bertanya ragu, "Abang... main juga?" dan untuk semenit mereka bukan agen dan pelanggan, hanya dua orang muda yang sama-sama pernah dipermalukan di ruang obrolan.
Lalu ada yang lebih gelap. Pukul tiga, sebuah panggilan masuk, suara laki-laki sangat ramah, terlalu ramah. "Selamat siang, ini dari tim teknisi pusat NetraLink. Kami deteksi ada gangguan di akun Bapak. Untuk perbaikan, mohon sebutkan nomor yang barusan masuk ke HP Bapak." Fahmi membeku — lalu sadar. Ini bukan pelanggan. Ini penipu yang menelepon sistem mereka untuk menguji, atau salah sambung, atau memang mencari mangsa lewat saluran resmi. Fahmi, dengan tenang yang membuat Pram menoleh kagum, memancing pelan, mencatat pola bicaranya, lalu melaporkannya ke tim keamanan internal sesuai prosedur. Bukan kepahlawanan. Hanya prosedur, dijalankan dengan benar.
Malam, saat ia melepas headset dan kembali jadi Fahmi yang gagap, ia memikirkan kata-kata Pram. Kita jual suara, bukan hati. Ia tahu Pram benar. Ia tahu, secara logika, melindungi diri adalah hal yang waras. Tapi saat ia membayangkan Pak Suryo besok pagi mengangkat gagang telepon, menelepon nomor yang sama, berharap ada manusia yang menjawab, ia tahu juga bahwa ia tidak akan bisa berhenti peduli. Itu bukan kebajikan. Fahmi cukup jujur pada dirinya untuk tahu itu. Itu mungkin cacat. Sesuatu yang rusak di dalam dirinya yang tidak bisa membiarkan orang terluka tanpa mencoba menahannya — bahkan ketika tangan yang menahan itu adalah tangannya sendiri, dan ia mulai lelah. Di luar, hujan akhirnya jatuh, dan di dinding, antrean melonjak merah.