Fahmi tidak tahu kapan tepatnya ia berhenti menarik napas tiga detik. Itu bagian yang paling menakutkan: ritual itu tidak hilang dengan keputusan; ia terkikis, sebagaimana semua hal terkikis—satu detik di sini, dua detik di sana, sampai suatu malam ia menyadari ia sudah seminggu menjawab panggilan begitu nada masuk berbunyi, tanpa jeda, tanpa ruang, tanpa menjadi suara dulu sebelum menjadi mulut.
Dan suaranya mulai berubah. Halus dulu—sedikit lebih cepat, sedikit lebih tipis—lalu nyata. Tari mendengarnya dari seberang bilik dan menyimpan kekhawatirannya tiga hari sebelum membawanya, karena Tari yang baru, Tari yang sudah belajar, tahu bahwa menuduh orang kelelahan saat ia kelelahan adalah cara tercepat membuatnya berkata aku nggak apa-apa.
Yang memecahkannya adalah panggilan Kamis malam. Seorang perempuan muda, mahasiswa, dengan masalah yang sepele secara teknis dan berat secara segalanya: koneksi untuk presentasi akhir, besok pagi, dan suaranya bergetar dengan cara yang dulu akan langsung dikenali Fahmi. Fahmi menjawabnya dengan benar—secara teknis sempurna, langkah demi langkah—tapi tanpa jeda, tanpa ruang, dan ketika perempuan itu mulai menangis di tengah, bukan karena putus asa melainkan karena lelah, Fahmi melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya di lantai itu: ia memotong tangisnya dengan prosedur.
'Kita selesaikan dulu masalahnya, ya, Mbak,' katanya, cepat, nada yang benar untuk menenangkan antrean, salah total untuk manusia di ujung sana.
Perempuan itu terdiam sepersekian detik—jeda yang terluka—lalu berkata, 'Oh. Iya. Maaf.' Dan meminta maaf atas tangisnya. Dan menutup panggilan dengan terima kasih yang kecil.
Fahmi duduk membeku setelahnya. Ia mendengar apa yang baru saja terjadi seperti orang mendengar rekaman buruk dirinya sendiri: ia baru saja menjadi mesin. Bukan kasar—mesin tidak pernah kasar. Cukup. Cepat. Tanpa ruang untuk tangis. Ia telah memotong seorang mahasiswa yang menangis dengan efisiensi yang sempurna, dan sistem akan mencatatnya sebagai panggilan yang baik.
Tari menemukannya dua puluh menit kemudian masih duduk di sana, headset di leher, mata di layar yang sudah gelap. Dan Tari tidak berkata 'kamu nggak apa-apa?'—Tari sudah belajar. Ia duduk di bilik sebelah, diam sebentar, lalu berkata pelan, 'Aku mau ngadu ke Pram. Bukan tentang kamu gagal. Tentang aku takut.' Itu jujur, dan karena itu masuk. 'Kamu boleh marah. Tapi aku tetap ngadu. Karena yang barusan itu bukan kamu, Mi. Dan orang yang kamu layani tadi nangisnya makin kecil karena dia pikir dia salah.'
Fahmi tidak marah. Itu yang membuat Tari makin takut—ia hanya mengangguk, kosong, seperti orang yang sudah tahu vonisnya.
Malam itu Fahmi tidak langsung pulang. Ia berjalan kaki memutar ke halte yang jauh, karena kakinya butuh bergerak dan kepalanya butuh udara. Panggilan dengan mahasiswa itu diputarnya berulang-ulang—bukan untuk menyiksa diri, melainkan untuk memastikan: apakah seburuk yang kudengar? Dan jawabannya, setiap kali, sama: bukan kasar. Lebih buruk dari kasar—kosong. Ia telah berbicara seperti mesinnya: nada benar, langkah benar, tidak ada siapa pun di dalamnya. Dan mahasiswa itu meminta maaf atas tangisnya. Maaf—dari orang yang sedang menangis. Kalimat itu terasa seperti tamparan yang datang terlambat. Esoknya, lewat jalur resmi, ia mengirim tindak lanjut yang tidak diwajibkan sistem: menanyakan apakah presentasinya lancar. Balasannya datang sore: lancar, Kak. makasih banyak. dan maaf kemarin aku nangis. Fahmi menatap kata maaf itu lama sekali. Dua orang saling meminta maaf karena salah satunya lupa menjadi manusia. Ia menuliskan kejadian itu di buku kecilnya, lengkap, tanpa pembelaan—karena aturan rumahnya sendiri: kesalahan dicatat lebih teliti daripada jasa.
Pram datang sepuluh menit kemudian. Ia tidak membawa ceramah. Ia membawa satu sticky note, yang ia tempelkan di monitor Fahmi tanpa berkata apa-apa, lalu pergi kembali ke biliknya. Fahmi memandangnya lama sebelum kuat membacanya. Tulisan tangan Pram yang jelek, huruf-huruf miring:
kamu bukan mesin. itu sebabnya kamu capek. mesin tidak capek. itu satu-satunya hal yang tidak bisa mereka tiru—dan satu-satunya hal yang tidak boleh kamu sembunyikan. istirahat. itu perintah.
Dan di bawahnya, lebih kecil: tiga detik, Mi. ambil kembali. bukan untuk pelanggan. untuk kamu.
Fahmi membaca catatan itu tiga kali, lalu melipatnya dan menyimpannya di dompet—di samping foto ibu dan Dimas—karena ada kertas yang harus dibawa, bukan dibaca. Dan pagi itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia melakukan hal yang paling sulit dari seluruh daftar Aturan untuk Tidak Habis: ia datang ke ruang kaca sebelum dipanggil, mengetuk, dan berkata kepada Wulan dengan suara yang lebih kecil dari biasanya tapi lebih lurus: 'Mbak. Aku perlu bicara. Bukan tentang laporan. Tentang aku.'
Wulan tidak bertanya. Ia hanya menutup laptopnya, mendorong kursi kedua ke depan dengan kakinya, dan berkata, 'Duduk. Ceritakan dari awal. Kita nggak buru-buru.'
Dan Fahmi duduk, dan mulai bercerita—dari awal, seperti yang selalu ia minta dari pelanggannya—dan di luar kaca ruang itu, lantai tujuh berdengung seperti biasa, dasbor merah seperti biasa, mesin bekerja seperti biasa, dan satu orang akhirnya berhenti berpura-pura menjadi mesin.
Ia bercerita hampir satu jam. Wulan tidak mencatat apa pun—pertama kali Fahmi melihatnya tidak mencatat—dan ketika Fahmi selesai, Wulan hanya berkata satu hal, yang akan dipegang Fahmi selama bertahun-tahun sesudahnya: 'Terima kasih sudah datang sebelum rusak. Itu hal paling berani yang pernah kulihat di ruangan ini.' Lalu, dengan suara supervisor yang kembali, lebih lembut: 'Sekarang kita atur supaya kau tidak perlu seberani ini dua kali.'