Jalan ketiga itu butuh waktu untuk sampai ke meja yang tepat, dan waktu—Fahmi sudah seharusnya tahu—selalu menagih harganya pada tubuh seseorang.
Minggu-minggu menunggu itu jatuh bersamaan dengan minggu-minggu paling berat di lantai: dua agen resign karena ketakutan mesin, satu cuti panjang, dan antrean yang tersisa memanggul dirinya sendiri ke pundak yang lebih sedikit. Dan Fahmi, yang sudah bersumpah, yang sudah menulis aturan, yang sudah diberi pelajaran oleh badai pertama—Fahmi mulai menalangi lagi. Pelan-pelan. Dengan alasan yang bagus setiap kali, karena kekambuhan selalu datang dengan alasan yang bagus: ini cuma malam ini; ini karena Joko pulang cepat; ini karena panggilannya berat dan orang lain akan hancur menanganinya.
Pram melihatnya lebih dulu, sebagaimana Pram selalu melihatnya lebih dulu. 'Mi.' Suara datar di sela shift. 'Kamu ambil panggilan Sari barusan.'
'Itu eskalasi, bukan talangan.'
'Itu talangan yang pakai jas.' Pram memutar kursinya, menghadapnya penuh. 'Kamu pikir aku nggak tahu bentuknya? Aku menulis buku tentang bentuknya, Mi, pakai tubuhku sendiri sebagai kertasnya. Kamu mulai lagi.'
'Cuma sampai masa sulit ini lewat.'
'Masa sulit tidak pernah lewat!' Suara Pram naik setengah nada, dan beberapa kepala menoleh, dan ia menurunkannya kembali dengan usaha. 'Itu bohong yang kamu ceritakan ke diri sendiri. Masa sulit itu bukan cuaca, Mi. Masa sulit itu iklim. Dan kamu sedang membangun rumah di atas kapal yang bocor sambil bilang cuma sampai ombak reda.'
Fahmi tidak menjawab, karena jawaban yang jujur adalah bahwa Pram benar, dan jawaban yang sopan adalah bohong. Ia kembali ke layarnya, dan Pram kembali ke layarnya, dan di antara mereka berdiri sesuatu yang tidak enak—bukan pertengkaran, melainkan dua orang yang saling menjaga dan tidak sepakat tentang caranya.
Yang tidak mereka berdua perhatikan adalah bahwa Wulan juga melihat. Bukan panggilannya—lognya. Wulan membaca pola jam seperti membaca cuaca, dan pola Fahmi telah berubah: durasi naik, istirahat hilang, panggilan eskalasi terkonsentrasi pada satu ekstensi seperti air ke saluran mampet. Ia tidak menegur. Ia sudah belajar dari pengalamannya sendiri bahwa menegur orang yang sedang kambuh hanya menambah satu suara lagi di kepala yang sudah penuh. Ia melakukan sesuatu yang lebih halus: ia mengubah distribusi antrean secara manual, meredam arus ke bilik empat puluh tiga tanpa mengumumkannya—dan kemudian menghapus jejaknya, karena kalau Fahmi tahu ia dilindungi, ia akan menolak dilindungi, dan malam-malam itu membutuhkan seseorang yang rela tidak diketahui. Tiga malam Wulan memikul itu diam-diam. Pada malam keempat, Pram menangkapnya—'kamu nyedot antreannya ke kita'—dan Wulan hanya menjawab, 'Kamu pegang orangnya. Aku pegang kerannya. Jangan saling ganggu.' Dan Pram mengangguk, karena untuk pertama kalinya ia melihat supervisornya bukan sebagai penjaga angka, melainkan sebagai penjaga orang—dan mereka bekerja dalam dua shift yang tidak bertemu: satu menjaga tubuh Fahmi dari sistem, satu menjaga kepalanya dari dirinya sendiri.
Fahmi sendiri baru mengetahuinya berminggu-minggu kemudian, dan ia marah selama satu menit—marah yang tulus, marah orang yang merasa dikurangi—lalu lelah, lalu terharu. Ia menuliskannya di buku kecilnya dengan huruf yang pelan: Aku dibantu tanpa tahu. Dan kemarahanku saat tahu itu tidak bertahan semenit, karena aku ingat semua kali aku menolong orang diam-diam dan berharap mereka tidak tahu. Kami ini semua sama: ingin menolong tanpa terlihat, dan tersinggung ketika ditolong tanpa diberi tahu. Mungkin itu bukan kontradiksi. Mungkin itu artinya kami masih utuh—masih percaya bahwa pertolongan yang paling murni adalah yang tidak meninggalkan bekas di tangan pemberinya.
Malam-malam berikutnya Fahmi menangkap dirinya melakukan hal-hal kecil yang ia kenali dari daftar yang ia tulis sendiri: melewatkan makan, menjawab pesan keluarga dengan 'nanti', dan—ini yang paling ia takuti ketika sadar—merasa lega saat antrean panjang, karena antrean panjang berarti tidak ada waktu untuk merasa. Kelelahan telah menjadi pelarian dari kelelahan. Ia menuliskannya di buku kecilnya dengan huruf yang lebih jelek dari biasanya, karena jujur pada buku adalah satu-satunya kejujuran tanpa penonton: Aku kambuh. Aku tahu aku kambuh. Dan mengetahui tidak menghentikannya. Itu bagian yang tidak diajarkan siapa pun: kesadaran bukan rem. Kesadaran cuma lampu indikator—menyala merah, tapi mesinnya jalan terus.
Ada satu malam yang kemudian ia tandai sebagai malam peringatan yang tidak ia dengar. Ia menangani tujuh panggilan eskalasi berturut-turut, dan di panggilan ketujuh, seorang perempuan berkata di akhir, 'Terima kasih, Mas. Mas ini baik banget. Mas nggak apa-apa? Suaranya kayak orang capek.' Fahmi menjawab otomatis, 'Saya baik, Bu,' dan menutup panggilan—dan baru beberapa detik kemudian kalimat itu sampai ke dirinya: seorang pelanggan, orang asing yang tidak punya apa-apa selain masalahnya sendiri, membaca kondisinya lewat suara, lebih cepat daripada ia membacanya sendiri. Ia memandang headsetnya seperti memandang cermin yang retak. Bahkan pelanggan pun bisa mendengarnya. Hanya dirinya yang tidak.
Dan tetap ia menyalakan available lagi. Karena itulah wajah kekambuhan yang sebenarnya: bukan orang yang tidak tahu, melainkan orang yang tahu dan tetap menekan tombol—karena ada yang menunggu, karena antrean merah, karena kalau bukan dia siapa lagi. Kalimat terakhir itu, kalimat penyebab semua kejatuhan di lantai itu, berdiri di kepalanya seperti mantera. Kalau bukan aku, siapa lagi. Ia bahkan menuliskannya di buku kecilnya dengan tanda seru, sebagai tanda bahaya yang ia kenali—dan tetap, malam berikutnya, kalimat itu kembali, dan tombol itu kembali ditekan. Lampu indikator menyala merah. Mesin jalan terus.