Malam itu seharusnya malam migrasi yang membosankan—pemindahan sistem yang dijadwalkan, dua jam tanpa panggilan masuk, semua orang sudah dibriefing.
Migrasi itu gagal pada jam pertama, dan gagalnya bukan diam. Sistem antrean jatuh, lalu bangkit dengan keadaan gila: panggilan menumpuk dari dua jam pemeliharaan, mesin Asisten Suara kehilangan konteks dan menjawab dengan kalimat-kalimat yang tidak nyambung, dan seluruhnya tumpah ke agen-agen manusia yang tersisa seperti air dari pintu air yang jebol. Dasbor tidak merah. Dasbor padam—lalu menyala dengan satu kata: TINGGI. Lebih tinggi dari malam badai. Lebih tinggi dari apa pun yang pernah dicatat lantai itu.
Wulan berdiri di tengah lantai dan melakukan hal yang sudah direncanakan: menarik garis pertahanan. 'Dengar! Ini darurat satu malam. Prioritas: panggilan krisis dan gangguan massal. Semua lainnya—' ia menelan, karena ini bagian yang tidak pernah mudah, '—lainnya kita minta menunggu. Fahmi, kamu di garis krisis saja. Itu batasmu.'
Dan Fahmi duduk di garis krisis, dan untuk dua jam pertama, ia mematuhinya.
Dua jam pertama itu sendiri adalah neraka miniatur yang layak dicatat. Mesin yang kehilangan konteks menjawab orang panik dengan kalimat yang salah kamar: seorang pria yang melaporkan kebakaran kecil di gardu listrik dekat rumahnya dijawab dengan panduan reboot modem, sopan, tenang, gila. Seorang ibu yang menangis karena suaminya di rumah sakit dan internetnya mati mendapat penawaran upgrade paket. Setiap kegagalan itu berbalik ke antrean manusia dengan amarah yang berlipat—karena pelanggan yang disalahjawabi mesin tidak marah seperti orang yang tidak terlayani; mereka marah seperti orang yang dipermainkan. Fahmi menenangkan mereka satu per satu, dan di sela-selanya ia mencatat—bahkan di malam itu, bahkan dalam kekacauan itu, tangannya menulis nomor tiket di sticky notes, karena ia tahu malam ini akan menjadi bukti, dan bukti harus dicatat saat ia terjadi, bukan diingat kemudian.
Malam itu adalah malam yang menguji setiap aturan yang pernah ditulis di lantai itu. Mesin yang seharusnya menjadi tulang punggung justru menjadi beban—panggilan-panggilan yang salah tangani oleh mesin yang bingung kembali masuk dengan pelanggan yang dua kali marah. Agen-agen manusia menanganinya satu per satu, dan Fahmi melihat mereka dari sudut matanya: Tari dengan suara yang mulai serak, Joko dengan keringat di pelipis, Pram yang bergerak dari bilik ke bilik seperti perawat di bangsal perang.
Jam ketiga, sesuatu mulai retak. Bukan sistem—manusianya. Seorang agen baru menutup headset-nya dan berjalan keluar tanpa kata, dan tidak kembali. Lalu panggilan krisis masuk terlalu cepat untuk satu orang. Dan Fahmi—Fahmi yang sudah berjanji, yang sudah ke ruang kaca, yang sudah menulis semua aturan—Fahmi melihat antrean krisis berkedip empat panggilan dalam satu layar, dan ia melakukan apa yang selalu ia lakukan: ia menyambar.
Bukan satu. Bukan dua. Ia tidak menghitungnya, karena menghitung adalah hak orang yang masih punya sisa, dan malam itu ia berhenti punya sisa sekitar pukul dua. Ia menjawab dan menjawab dan menjawab. Suaranya yang sudah tipis menjadi parau, lalu menjadi bisikan yang dipaksa, dan ia terus menjawab. Di layar sebelah, Pram melihatnya dan mulai bergerak—tapi malam itu setiap orang terkunci di posisinya masing-masing, dan Pram hanya sempat menulis satu pesan yang tidak terbaca: mi. berhenti.
Pukul empat lewat dua puluh menit, antrean mulai turun. Sistem yang diperbaiki darurat mulai bernapas. Dan Fahmi, di tengah satu panggilan terakhir—seorang ibu yang WiFi-nya mati dan anaknya demam dan butuh telemedicine—Fahmi mendengar suaranya sendiri berhenti di tengah kalimat.
Bukan berhenti bicara. Berhenti bunyi.
Ia mencoba lagi, dan yang keluar adalah desis—udara tanpa suara, pintu tanpa orang. Ibunya masih bicara di ujung sana. Fahmi membuka mulutnya dan tidak ada apa-apa, dan ruangan itu mulai miring seperti malam badai dulu, tapi kali ini tidak berhenti di miring. Kali ini lantai datang menghampirinya, pelan dan pasti, dan hal terakhir yang ia dengar sebelum semuanya meredup adalah suara Pram—bukan di telepon, di sampingnya, dekat—yang berkata dengan tenang yang bergetar, 'Sini. Sini, Mi. Lepaskan headsetnya. Lepaskan. Sudah selesai. Semuanya sudah selesai.'
Dan lantai tujuh—lantai yang mencatat segalanya—untuk pertama kalinya menyaksikan agen terbaiknya dibaringkan di sofa ruang istirahat dengan jaket Wulan sebagai bantal, sementara di dinding, tanpa ada yang menoleh, antrean berubah hijau.
Yang terjadi setelahnya berjalan dengan ketenangan yang lahir dari latihan yang tidak pernah diumumkan. Wulan mengambil alih dalam tiga detik: satu orang menjaga Fahmi, dua orang menutup biliknya, satu menelepon klinik. Tari membawakan air dan tidak menangis—ia menangis kemudian, di lorong, setelah tugasnya selesai, karena ia sudah belajar bahwa panik boleh, tapi antre dulu. Joko mengambil alih panggilan krisis yang masih terbuka dengan tangan yang mantap. Dan Pram—Pram duduk di samping sofa itu, memegang pergelangan tangan Fahmi sebentar untuk memeriksa sesuatu yang hanya ia mengerti, lalu berkata kepada Wulan dengan suara yang tidak menyisakan ruang untuk dibantah: 'Dia masuk angkutan ke klinik dengan dua orang. Saya satu. Titik.' Tidak ada yang membantah. Malam itu tidak ada satu pun orang di lantai itu yang masih percaya bahwa ketahanan adalah satu-satunya bentuk kekuatan. Mereka telah melihat bentuk lainnya, terbaring di sofa, dengan headset yang akhirnya—akhirnya—dilepaskan dari kepalanya.