Telepon dari Karawang masuk pada Kamis malam, ketika Fahmi baru saja menutup panggilan terakhirnya, dan nama di layar itu—DIMAS—membuat perutnya turun sebelum ia menjawab. Dimas tidak pernah menelepon tanpa kabar. Dimas menelepon hanya untuk dua hal: rindu, atau uang.
'Kang.' Suara adiknya terdengar lebih muda dari umurnya ketika ia salah. 'Ini, cicilan motornya. Yang bulan ini. Aku telat.'
Fahmi memijit pangkal hidungnya. Di luar kaca gedung, Jakarta berkilau tidak peduli. 'Telat berapa hari?'
'Sembilan.'
Sembilan hari. Denda. Dan Dimas butuh motor itu untuk kuliah sambil kerja antar galon—Fahmi tahu itu, mereka semua tahu itu, motor itu bukan gaya-gayaan, motor itu kaki. 'Berapa kurangnya?'
'Empat ratus.'
Empat ratus ribu. Fahmi membuka aplikasi dompetnya dalam hati: gaji baru masuk, kiriman ibu sudah dipotong, kos belum bayar, tabungan mimpi RT/RW yang menetes sebulan sekali seperti keran rusak. Kalau ia menalangi empat ratus, tabungan mimpi itu bulan ini kosong. Lagi.
'Kang? Masih denger?'
'Masih.' Fahmi menarik napas. 'Besok kutransfer. Tapi Dimas—kita ngomong serius, ya. Bukan marah. Serius.'
Dan mereka bicara panjang—dua bersaudara, satu di lantai tujuh yang sepi, satu di kamar kos di pinggir Karawang. Fahmi tidak mengomeli; ia bertanya. Tentang kerjaan antar galon, tentang kuliah, tentang kemana uangnya pergi. Jawabannya tidak mengejutkan dan menyakitkan karena itu: Dimas tidak boros; Dimas cuma miskin dengan cara yang biasa, cara yang tidak punya margin untuk satu pun kejutan. Seperti ibu mereka. Seperti Fahmi sendiri. Kemiskinan keluarga itu bukan jurang; ia pasir—tidak menelanmu, hanya membuat setiap langkah dua kali lebih berat.
Setelah telepon ditutup, Fahmi membuka catatan keuangannya—kolom-kolom kecil di ponsel yang ia rawat seperti orang merawat luka. Kiriman ibu. Kos. Makan. Cicilan Dimas, sekarang dengan dendanya. Dan di baris paling bawah, baris yang ia beri warna beda, baris yang tidak pernah ia sentuh kecuali di malam-malam putus asa: RT/RW. Jumlahnya tertulis di sana, kecil, hampir lucu—tabungan sembilan bulan yang tidak akan sanggup membeli satu tiang bekas. Ia memandanginya lama. Lalu ia memindahkan empat ratus ribu ke Dimas, dan baris RT/RW itu bulan ini kembali ke angka yang sama seperti tiga bulan lalu, seperti katak dalam cerita yang naik sehari dan turun semalam—hanya saja cerita itu lucu, dan ini tidak.
Ia tidak menyesalinya. Itu bagian yang selalu membingungkan orang tentang Fahmi: ia tidak pernah menyesali menalangi. Yang ia sesali—kalau larut seperti ini dan ia jujur—adalah bahwa menalangi tidak pernah menyelesaikan apa pun. Empat ratus ribu bulan ini akan jadi empat ratus ribu bulan depan, karena lubangnya bukan di Dimas, melainkan di sesuatu yang lebih besar yang tidak bisa ia jangkau dengan transfer. Tapi malam itu bukan malam untuk memikirkan struktur. Malam itu hanya malam untuk memastikan adiknya tidak kehilangan motornya. Struktur bisa menunggu subuh. Adik tidak bisa.
'Aku usahain, Kang. Beneran. Jangan bilang Ibu.'
'Ibu harus tahu,' kata Fahmi lembut. 'Tapi biar aku yang bilang. Pelan-pelan.'
Dan itulah hal terakhir yang ingin ia lakukan malam itu—tapi ia melakukannya, menelepon ibunya sebelum subuh, ketika warung baru buka dan suara penggorengan jadi latar. Ia menjelaskan tentang Dimas dengan hati-hati. Ia tidak menjelaskan tentang mesin. Tentang Asisten Suara, tentang pilot, tentang kemungkinan bahwa pekerjaannya sedang dihitung ulang oleh orang-orang yang tidak pernah mendengar suaranya—itu semua ia simpan rapat, sebagaimana anak perantauan menyimpan kabar buruk: di kantong yang dalam, jauh dari rumah.
'Alhamdulillah kerjaan Kakak lancar, Bu,' katanya, dan kalimat itu bukan bohong, belum, tidak secara teknis, dan ia membenci dirinya karena menghitung kebohongan dengan kalimat seperti orang menghitung denda.
'Yang penting kamu sehat, Mi,' kata ibunya, dan suara penggorengan berhenti sebentar. 'Uang bisa dicari. Kamu jangan sakit di sana. Kamu kalau capek suaranya beda. Ibu tahu.'
Fahmi menutup telepon dan berdiri lama di lorong, dan menyadari sesuatu yang menohok pelan: bahkan ibunya, lewat telepon, membaca jeda. Seluruh hidupnya dikelilingi orang-orang yang membaca jeda. Mungkin itu sebabnya ia jadi begini. Mungkin itu sebabnya ia tidak akan pernah bisa berhenti.
Ada satu hal lagi yang tidak ia ceritakan kepada ibunya, dan hal itu mengendap lebih dalam dari soal mesin: bahwa untuk pertama kalinya, penghasilannya bukan satu-satunya hal yang dipertaruhkan. Kalau lantai tujuh berubah, kalau manusia dihitung ulang, maka yang ikut bergetar adalah warung kecil di Karawang, motor Dimas, dan baris kecil bernama RT/RW yang sudah setahun tidak pernah tumbuh. Ia bukan sedang mempertahankan pekerjaan. Ia sedang mempertahankan satu-satunya tangga yang dipanjangkan keluarganya ke dinding yang tinggi—dan tangga itu, ia baru sadar malam itu, tidak pernah dipasang kuat. Ia hanya berdiri di anak tangga paling bawah sambil menahan seluruhnya dengan bahu. Di layar ponselnya, sebelum ia mematikannya, foto ibu dan Dimas di depan warung tersenyum ke arahnya dari tiga tahun yang lalu. Fahmi memandanginya sebentar, lalu berdiri, lalu kembali ke lantai—karena bahu boleh lelah, tapi tangga tidak boleh jatuh. Besok pagi antrean akan merah lagi, dan ia akan menarik napas tiga detik, dan untuk sekarang itu cukup. Itu harus cukup. Cukup untuk hari ini, cukup untuk malam ini, cukup untuk satu demi satu panggilan yang menunggu di ujung sana.