Tari menghindarinya selama seminggu—bukan dengan sikap, melainkan dengan ketepatan: selalu ada di panggilan saat Fahmi istirahat, selalu di pantry saat Fahmi di panggilan, dua orang yang berputar seperti jarum jam yang tidak pernah bertemu angka.
Fahmi membiarkannya tiga hari, karena ia tahu rasa bersalah tidak bisa dipaksa sembuh. Pada hari keempat, ia menaruh sesuatu di meja Tari tanpa kata: sekotak kecil gulali kapas dari minimarket, jajanan yang dulu mereka bagi di malam-malam lambat. Tanpa catatan. Tanpa ceramah. Hanya itu. Dan pada hari kelima, Tari muncul di biliknya saat jam istirahat, menarik kursi, dan duduk dengan mata yang sudah siap bicara.
'Aku sudah seminggu mikirin cara minta maaf yang bener,' katanya. 'Dan semua versi kedengerannya kayak konten.'
Fahmi tertawa kecil. 'Coba versi yang jelek aja.'
'Mi.' Tari menatapnya. 'Aku nggak minta maaf karena videonya kena masalah. Aku minta maaf karena aku baru sadar apa yang kulakukan. Aku ngelihat kamu—suaramu, kebaikanmu—dan yang kupikir cuma: ini bagus buatku. Itu yang jahat, Mi. Bukan uploadnya. Cara aku ngelihat kamu. Kayak kamu pemandangan, bukan orang.'
Fahmi diam sebentar. Di lantai, dengung itu berjalan terus, puluhan suara di atas bilik-bilik. 'Kamu tahu apa yang paling aneh?' katanya akhirnya. 'Aku nggak marah soal videonya. Aku marah—bukan marah, takut—karena sekarang mesin itu pakai suaraku, dan rasanya kayak ada yang ngambil rumahku dua kali. Kamu nggak sengaja ngasih kuncinya. Tapi aku juga yang nggak pernah kunci pintu. Kita berdua belajar hal yang sama, Tar: kebaikan tanpa mikir arah itu bisa jadi bahaya.'
'Kebaikan yang salah arah,' kata Tari pelan, mengutip kalimat lama mereka. 'Aku beneran spesialisnya.'
'Makanya.' Fahmi mencondongkan badan. 'Bantuin aku. Beneran. Kamu jago ngomong ke orang banyak, aku nggak bisa. Kamu ngerti cara cerita ke dunia; aku cuma ngerti cara cerita ke satu orang di telepon. Kalau suatu hari kita perlu bilang ke orang-orang kenapa manusia penting di ujung telepon—aku nggak akan bisa melakukannya tanpa kamu.'
Tari menatapnya seperti orang yang baru diberi sesuatu yang tidak ia layak terima dan tahu itu. 'Kamu serius? Setelah semuanya, kamu masih mau kerja bareng aku?'
'Tari.' Fahmi tersenyum. 'Kamu itu bukan orang jahat yang berbuat baik. Kamu orang baik yang buru-buru. Buru-buru masih bisa diperbaiki. Jahat yang nggak.'
Mereka tidak berpelukan—lantai tujuh bukan tempatnya—tapi Tari mengangguk dengan dagu yang bergetar sedikit, dan sebelum kembali ke biliknya ia berkata, 'Oke. Tapi mulai sekarang aku tanya dulu sebelum apa pun. Tentang apa pun. Sumpah.'
'Tanya dulu,' Fahmi setuju. 'Itu satu-satunya aturan yang penting.'
Dan Tari menunjukkan bahwa ia serius dengan cara yang paling Tari: ia membuat aturan untuk dirinya sendiri, menuliskannya, dan menempelkannya di bawah standar ponselnya. Fahmi melihatnya dua hari kemudian—kartu kecil dengan tulisan spidol: 1) Tanya dulu. 2) Wajah orang bukan konten. 3) Kalau ragu, jangan unggah. 4) Kalau sangat ingin mengunggah, itu tanda harus tidak jadi. 'Aku bikin sendiri,' kata Tari, agak malu. 'Kayak pasal-pasal. Biar ada yang bisa kulanggar dan kusesali dengan jelas.' Fahmi membacanya dan mengangguk dengan serius, karena ia tahu betapa besar artinya aturan yang ditulis tangan sendiri oleh orang yang dua tahun tujuh bulan bermimpi viral. 'Pasal keempat itu bagus sekali,' katanya. 'Itu yang paling susah. Gairah itu selalu merasa benar.' Tari menyipitkan mata. 'Kamu ngomong kayak orang berpengalaman soal gairah yang merasa benar.' Dan Fahmi terkekeh, dan menjawab, 'Aku spesialis gairah yang merasa benar, Tar. Namanya nalangin.' Dan mereka tertawa bersama, pertama kalinya sejak klip itu, dan tawa itu terasa seperti semacam kunci yang akhirnya berputar.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak klip itu, mereka makan bareng di pantry lagi—gulali kapas dibagi dua, Pram bergabung dengan kopinya dan pura-pura tidak memperhatikan bahwa dua sahabatnya baru saja baikan. Tidak ada yang membahasnya. Tidak perlu. Di lantai itu, semua orang tahu cara membaca suasana tanpa kata; itu keterampilan dasar pekerjaan mereka. Dan Fahmi, menyeruput kopi yang encer, merasakan sesuatu kembali ke tempatnya—bukan keadaan seperti semula, karena tidak ada yang kembali seperti semula, melainkan sesuatu yang baru: persahabatan yang sudah diuji dan lulus, yang retak di tempat yang tepat dan menyambung lebih kuat di sana.
Sebelum tidur malam itu, ia menulis di buku kecilnya—bukan di kolom mesin, melainkan di halaman yang ia sisihkan untuk hal-hal yang tidak masuk hitungan: Hari ini Tari minta maaf dengan cara yang benar. Tidak dengan video. Tidak dengan janji besar. Dengan pasal-pasal yang ditulis tangan dan ditempel di mejanya sendiri. Aku belajar sesuatu: minta maaf itu ternyata mirip menangani panggilan. Yang penting bukan nadanya. Yang penting kau menunjukkan bahwa kau mengerti persis apa yang rusak—dan apa yang akan kau lakukan supaya tidak rusak dua kali. Ia berhenti menulis, memikirkan sesuatu, lalu menambahkan di bawahnya, lebih kecil: Mungkin itu juga yang kita minta dari NetraLink. Bukan janji. Pemahaman tentang apa yang rusak. Dan tanda bahwa mereka tidak akan merusaknya dua kali. Lalu ia menutup bukunya, mematikan lampu, dan untuk pertama kalinya dalam seminggu tidur tanpa memikirkan suaranya yang dijahit—karena hari itu, untuk sekali, ada keretakan yang berhasil dijahit oleh manusia.