Lantai tujuh keesokan paginya seperti rumah yang baru kemalingan: semua orang bekerja, tapi semua mata mengawasi pintu.
Gosip berjalan dari bilik ke bilik dengan kecepatan yang hanya bisa dikalahkan antrean panggilan. Ada yang bilang mesin itu sudah menangani empat puluh persen panggilan semalam. Ada yang bilang dua site lain sudah mulai merumahkan. Ada yang bilang NetraLink akan mengganti semuanya dalam tiga bulan. Tidak ada yang tahu apa-apa, dan justru karena itu semua orang tahu segalanya. Fahmi menangkap potongan-potongan itu sambil berjalan ke biliknya, dan ia melihat apa yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di lantai ini: ketakutan yang tidak disembunyikan. Joko mengetik dengan rahang mengeras. Dua agen baru berbisik tentang lamaran kerja. Bahkan Pram duduk lebih tegak dari biasanya, baju zirahnya terpasang penuh.
Wulan mengumpulkan tim sebelum briefing—bukan di ruang kaca, di tengah lantai, di depan dasbor yang merah seperti biasa. Ia tidak naik podium. Ia berdiri di antara mereka dengan kopi di tangan, dan ia melakukan hal yang Fahmi kemudian sadar jarang dilakukan atasan: ia tidak berbohong.
'Dengar, ya,' katanya. 'Kalian semua sudah dengar soal mesin itu. Saya nggak akan bilang tenang-tenang aja, karena saya sendiri nggak tenang.' Beberapa orang tertawa kecil, gugup, lega. 'Yang saya tahu: ini percontohan. Terbatas. Keputusan belum dibuat. Yang saya juga tahu: kalian berhak takut, karena hitung-hitungannya memang menakutkan. Saya nggak akan pura-pura nggak ada hitung-hitungan itu.'
'Terus kita ngapain, Mbak?' tanya seseorang dari belakang. 'Duduk manis nunggu diganti?'
Wulan menatapnya. 'Kita kerja. Bukan karena saya motivator. Karena dua alasan yang bener.' Ia mengangkat satu jari. 'Satu: selama percontohan ini jalan, setiap panggilan yang kalian tangani adalah data. Mesin dinilai dari angka. Kalian juga. Kalau kalian mau bukti bahwa manusia dibutuhkan, buktinya bukan demo, bukan protes—buktinya panggilan-panggilan yang kalian selesaikan dengan benar. Tiap hari. Itu satu-satunya bahasa yang dibaca orang atas.'
Jari kedua naik. 'Dua: pelanggan. Di luar sana, sekarang, ada orang yang WiFi-nya mati dan panik dan butuh manusia. Mereka nggak peduli rapat kita. Mereka nggak tahu apa-apa soal NetraLink. Mereka cuma tahu ada yang ngangkat atau nggak ada. Selama kalian masih di kursi itu, pekerjaannya masih ada. Kerjakan. Sejarah kantor ini urusan nanti.'
Briefing itu tidak menghapus ketakutan—Fahmi bisa melihatnya, ketakutan tidak pernah hilang oleh kata-kata—tapi ia memberinya bentuk. Orang-orang kembali ke bilik dengan bahu yang sedikit lebih turun. Joko berhenti mengetik dengan rahang keras. Bahkan dua agen baru itu diam, memikirkan.
Siangnya, di pantry, ketakutan itu mencair menjadi bentuknya yang lain: rencana-rencana kecil. Tari duduk dengan ponsel kontennya menghadap meja untuk pertama kalinya, tidak di standar—seperti bendera yang diturunkan setengah tiang. 'Aku mulai serius cari kerja lain,' katanya, tanpa membuka pembicaraan. 'Bukan karena takut. Karena aku ngitung. Kalau mesin itu jadi, yang bertahan itu yang kayak kalian—yang bisa hal-hal sulit. Aku kan...' ia memutar gelasnya. 'Aku kan jualannya kehangatan, Mi. Dan sekarang kehangatan bisa dicetak.'
'Kehangatan nggak bisa dicetak,' kata Fahmi, sebelum ia sadar ia bicara.
'Kamu denger sendiri mesin itu. Suaranya kamu. Hangatnya kamu.'
'Suaranya iya.' Fahmi duduk di seberangnya. 'Tapi kemarin aku denger dia nangani orang nangis, Tar. Nadanya pas, jawabannya salah total. Dia bisa niru hangatnya. Dia nggak tahu kapan harus hangat.' Tari menatapnya, dan Fahmi melihat sesuatu yang jarang di wajah sahabatnya itu: bukan harapan, tapi keinginan untuk berharap yang ditahan. 'Aku lagi ngumpulin buktinya. Pelan-pelan. Jangan resign dulu. Belum waktunya.'
Pram, yang mendengarkan dari pintu pantry dengan gelas kopinya, hanya berkomentar satu baris sebelum pergi: 'Dengerin dia, Tar. Anak ini kalau ngomong "belum waktunya", biasanya dia lagi nyiapin sesuatu. Dan sesuatu yang disiapin Fahmi biasanya bener.' Ia berhenti di ambang pintu. 'Tapi catat juga ini, kalian berdua: nyiapin sesuatu itu beda dengan berharap. Siapkan, jangan harapkan. Harapan bikin orang ceroboh.'
Fahmi berjalan ke kursi empat puluh tiga dengan sesuatu yang aneh di dadanya: bukan tenang, melainkan hormat. Ia selalu tahu Wulan baik. Ia baru tahu pagi itu bahwa kebaikan Wulan punya bentuk yang spesifik—kejujuran pada orang yang takut, pada saat berbohong lebih mudah. Ia duduk, memasang headset, dan sebelum menyalakan available, ia melirik dasbor yang merah. Antrean: 31. Manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa, menunggu.
Ia menarik napas. Satu, dua, tiga. Dan menjawab.
Panggilan pertama itu—seorang mahasiswa yang koneksinya putus di tengah sidang daring—ia tangani seperti biasa: tenang, jelas, hangat. Tapi sesuatu telah berubah di dalam dadanya, sesuatu yang baru ia sadari ketika panggilan ditutup dan mahasiswa itu berkata, 'Makasih banyak, Kak, suaranya nenangin banget.' Dulu, kalimat seperti itu membuatnya melayang. Pagi ini, kalimat itu membuatnya berpikir. Nenangin. Kalau itu yang kubawa, dan mesin itu bisa menirunya, maka yang kubawa bukan itu. Yang kubawa harus sesuatu yang lebih dalam. Ia tidak tahu persis apa, belum. Tapi ia tahu bahwa mencarinya bukan pekerjaan untuk mesin—melainkan pekerjaan untuk orang yang masih punya malam untuk memikirkannya. Ia menyalakan available lagi. Antrean masih merah. Tapi kali ini, di balik headsetnya, ada yang berbeda dari biasanya: bukan keberanian yang lugu, melainkan pertanyaan yang sudah mulai berbentuk.