Fahmi tidak tidur malam itu. Ia berbaring di kasur kosnya yang sempit, memandang langit-langit yang berjamur di pojok, dan di telinganya—dalam gelap, dalam diam—kalimat itu terus diputar. Selamat malam, ada yang bisa saya bantu. Suaranya. Bukan suaranya. Suaranya.
Ia sudah memutar kejadian itu berkali-kali sampai kejadian itu sendiri aus. Layar dengan label UJI PILOT. Perempuan tua yang takut salah bayar. Dan suara itu—suaranya—menenangkan dengan jeda yang pas, dengan kehangatan yang pas, dengan segalanya yang pas. Perempuan itu berterima kasih. Perempuan itu merasa didengar. Dan tidak ada manusia di sana.
Sekitar pukul dua, karena tidak bisa tidur dan karena tangannya mencari sesuatu yang hangat, ia menelepon ibunya—lalu membatalkannya sebelum dering pertama selesai, karena ibunya harus bangun jam empat untuk menanak. Ia memandang layar ponsel dengan nama IBU di atasnya dan merasa bersalah atas hal-hal yang bahkan tidak terjadi: bersalah karena tidak menelepon, bersalah karena ingin menelepon hanya untuk didengar, bersalah karena pekerjaannya—satu-satunya hal yang membuatnya bisa mengirim uang pulang—sedang diajarkan kepada sesuatu yang tidak punya ibu. Ia menarik ponsel itu kembali ke meja, dan berkata pada kamar kos yang gelap, pelan, hanya untuk mendengar suaranya sendiri masih ada: 'Nggak apa-apa, Mi. Besok dikerjakan.' Kalimat yang biasa ia ucapkan pada pelanggan. Aneh rasanya mengucapkannya pada diri sendiri—seperti menemukan obat di saku sendiri yang selama ini selalu kau berikan ke orang lain.
Menjelang subuh ia menyerah pada kantuk yang tidak datang, bangun, menyalakan lampu, dan mengambil buku kecilnya—buku catatan yang sudah menemaninya sejak hari pertama, yang isinya potongan-potongan pelajaran dari lantai tujuh. Ia membuka halaman kosong, membagi dua kolom dengan penggaris pulpen, dan menulis judul di atasnya: Yang ditiru. Dan di kolom kanan: Yang tidak.
Di kolom kiri ia menulis pelan-pelan, jujur, seperti orang membedah: Nada. Hangat. Jeda sebelum menjawab. Kata 'Nak' yang keluar alami dari mulut perempuan tua itu—mesin memancingnya dengan kelembutan, sama seperti aku. Kalimat pembuka. Kalimat penutup. Cara mengulang keluhan supaya pelanggan merasa didengar. Ia berhenti di situ, karena kolom kiri itu sudah penuh, dan kepenuhannya menakutkan. Semua yang diajarkan modul, semua yang diasahnya dua bulan, semua yang membuatnya merasa istimewa—ternyata bisa ditiru. Bisa dijahit dari rekaman. Bisa diputar tanpa lelah, tanpa gaji, tanpa jeda tiga detik.
Lalu kolom kanan. Ia menatapnya lama, dan menulis lebih pelan lagi, seperti orang menulis doa: Tahu kapan harus tidak mengikuti naskah. Tahu bahwa pelanggan yang menangis soal tagihan mungkin tidak sedang menangisi tagihan. Tahu kapan diam adalah jawaban. Pak Suryo. Panggilan jam tiga pagi itu. Ia berhenti pada dua entri terakhir itu, dan jarinya menekan kertas. Mesin itu menenangkan perempuan tua dengan sempurna—tapi apakah mesin itu akan tahu, jika perempuan tua itu mulai bicara tentang gelap? Tentang capek? Tentang tidak ingin ada di sini lagi?
Ia tidak tahu jawabannya. Dan ketidaktahuan itu, ia sadar, adalah satu-satunya pelipur yang jujur malam itu.
Ada satu hal lagi yang tidak bisa ia tulis di kolom mana pun, dan hal itu yang paling mengganggunya: perasaan aneh yang muncul saat ia mendengar mesin itu bekerja. Bukan benci. Justru bukan benci—dan itu masalahnya. Mesin itu baik. Di banyak panggilan, ia bahkan mengaguminya, sebagaimana orang mengagumi foto dirinya yang diambil pada hari terbaiknya. Yang membuatnya tidak bisa tidur bukan bahwa mesin itu buruk; melainkan bahwa mesin itu cukup baik—cukup baik untuk orang-orang yang menghitung biaya, cukup baik untuk rapat-rapat di mana tidak ada yang pernah mendengar pelanggan menangis pukul tiga pagi. Musuhnya bukan kegagalan mesin itu. Musuhnya adalah kecukupannya. Dan kecukupan, ia belajar malam itu, adalah lawan yang jauh lebih licin daripada keburukan—karena tidak ada yang bisa kau tunjuk sebagai rusak.
Ia menutup buku itu, memandang langit-langit lagi, dan untuk pertama kalinya sejak hari ia diterima kerja, Fahmi bertanya pada dirinya bukan apakah ia bisa bertahan di tempat ini—melainkan apakah tempat ini masih membutuhkan orang seperti dirinya. Lalu, karena ia Fahmi, karena ia tidak pernah bisa berhenti memikirkan orang lain bahkan di tengah ketakutannya sendiri, ia bertanya hal yang lebih berat: kalau suaraku saja cukup, bagaimana Pram? Bagaimana Tari? Bagaimana Joko yang bayinya baru lahir?
Di luar, azan subuh mengapung di atas Jakarta yang basah. Fahmi menutup matanya dan berusaha tidur, dan sebelum tidur benar-benar datang, satu pikiran terakhir mampir—pikiran yang aneh, yang akan ia ingat kemudian: mesin itu menyapa dengan kalimat pertamanya, kalimat yang dulu menjadi pintu masuknya ke rumah. Kalau mesin itu memang aku, maka aku harus tahu segalanya tentangnya. Bukan untuk melawannya. Untuk mengenalinya. Karena kau tidak bisa menjawab pertanyaan tentang dirimu sendiri sebelum kau membaca dirimu sampai habis.
Ia tertidur dengan buku kecil itu di dadanya, dua kolom terbuka, kolom kiri penuh, kolom kanan pendek—dan tegas. Dan untuk pertama kalinya sejak malam di kursi itu, mimpinya bukan tentang mesin. Mimpinya tentang langit Karawang—kosong, jauh, membentang di atas sawah, dan tidak menilai siapa pun, tidak menghitung siapa pun, tidak mencatat detik siapa pun, tidak pernah minta dibaca—hanya ada, hanya menunggu pagi, hanya menunggu dengan sabar, selalu sabar.