Amplop itu tidak ada bom di dalamnya — Surya memeriksanya tiga kali dengan tiga alat yang berbeda, karena di minggu-minggu ini, amplop apa pun yang ditujukan kepada Arenta adalah tersangka sampai terbukti sebaliknya. Amplop cokelat biasa, tanpa perangko, tanpa alamat pengirim, ditemukan terselip di bawah pintu apartemen Arenta pada pagi hari setelah map itu naik ke meja Hutahaean — waktu yang tidak mungkin kebetulan, waktu yang dibaca Arenta dengan dingin di tulang-tulangnya: dia tahu aku sudah berbicara.
Di dalam amplop: satu foto. Foto angkatan akademi, lima belas tahun lalu — barisan wajah-wajah muda di depan aula latih, dengan seragam yang masih kaku dan mata yang masih percaya bahwa pekerjaan ini adalah tentang menjadi pahlawan. Arenta mengenali foto itu. Semua orang di angkatan itu pernah memilikinya. Sebagian besar sudah membuangnya, seperti orang membuang foto-foto dari zaman sebelum hidup mengajarkan harga sebenarnya dari barang-barang.
Dua wajah di foto itu dilingkari dengan spidol merah. Wajahnya — muda, kurus, dengan rahang yang sudah keras sebelum waktunya — dan wajah di sebelahnya: Rendra Pakpahan, dua puluh tahun, dengan senyum yang sudah tahu bahwa ia yang paling cerdas di barisan itu.
Di belakang foto, dengan tulisan tangan yang sudah dikenalnya dari catatan-catatan laminasi, dari huruf P yang berekor melengkung ke dalam:
"Ujian akhir kutunda. Kau sudah menjawab di rumah itu — dengan kulit telanjang, di dua detik, seperti dulu, seperti selalu. Nilai: sepuluh. Tapi jangan bangga dulu, Arenta. Ujian yang sebenarnya butuh panggung yang pantas, dan panggung itu sedang kusiapkan. Sampai nanti. Kamu masih ingat caranya."
Dan di bawahnya: dua titik.
Surya mendokumentasikan semuanya — foto, tulisan, amplop, serat, sidik yang tidak ada karena tidak pernah ada — dan Hutahaean membaca kalimat itu dua kali di ruangannya dengan jendela yang menghadap lapangan apel, dan kemudian memandang Arenta dengan ekspresi yang sudah dipelajarinya dari map kemarin pagi.
"Dia tahu kau sudah bicara," kata komandan itu. "Bukan menebak — tahu. Dan dia tidak marah. Dia menilai." Ia meletakkan foto itu menghadap ke bawah, seperti orang meletakkan kartu yang sudah selesai dibaca. "Nilai sepuluh. Dia memberimu nilai sepuluh, Renta. Kau tahu apa artinya dalam kepala orang seperti dia?"
"Artinya ujian berikutnya tidak akan memberi kesempatan untuk dinilai sepuluh," kata Arenta. "Dia sudah melihat jawaban terbaikku. Sekarang dia menulis soal yang lebih sulit dari jawaban terbaikku. Itu polanya dari awal, Pak. Setiap surat adalah soal yang dibangun dari jawaban surat sebelumnya. Dia tidak pernah menulis dua soal yang sama — karena bagi dia, itu tidak sopan."
"Dan panggung yang pantas." Hutahaean berdiri, berjalan ke jendela, dan berdiri di sana dengan tangan di belakang punggung seperti orang yang sedang membaca cuaca yang tidak terlihat. "Tiga tempat tersisa di daftar Surya: kantor satuan lama, rumah sakit tempat jarimu dirawat, akademi. Kalau panggung itu satu dari tiga ini — aku bisa menebak yang mana. Dan kau juga bisa."
"Akademi," kata Arenta. "Tempat semuanya dimulai. Tempat dia dipecat. Tempat tanganku rusak. Tempat kami berdua belajar bahwa dua detik adalah satu-satunya jarak yang penting." Ia berhenti. "Tapi dia tidak akan menyerang akademi besok, Pak. Dia bilang sedang menyiapkan panggung — dan dia tidak pernah bohong soal persiapan. Dia akan diam. Berminggu-minggu, mungkin berbulan. Dan diamnya akan lebih mahal untuk kita daripada surat-suratnya, karena diam tidak bisa diprediksi, dan satuan tidak bisa siaga penuh selamanya."
"Kita tidak akan siaga penuh," kata Hutahaean. "Kita akan bekerja. Perburuan untuk Rendra Pakpahan dimulai hari ini — foto, nama, sejarah, semua yang ada di map-mu dan semua yang akan digali intelijen setelah ini. Dia sudah bukan hantu lagi, Renta. Kau sudah memberinya nama, dan hantu yang sudah bernama tinggal setengah hantu." Ia berbalik dari jendela. "Dan kau — kau kembali ke kelasmu. Kembali ke sembilan taruna itu. Kembali ke rutin. Dia ingin kau berdiri di jendela menunggu surat berikutnya; maka kau tidak akan berdiri di jendela. Kau akan mengajar. Itu perintah, dan itu juga obat, dan aku tidak peduli yang mana yang lebih kau dengar."
Arenta hampir tersenyum — hampir, gerakan kecil di sudut mulut yang tidak sampai menjadi senyum penuh. "Siap, Pak."
"Dan Renta." Hutahaean menunggunya sampai ke pintu. "Tentang dua minggu yang kuberikan dan kau jawab dalam tiga hari. Tentang nama yang kau simpan lebih lama dari yang seharusnya." Komandan itu tidak mengatakannya dengan keras; ia tidak perlu. "Aku mengerti kenapa kau melakukannya. Aku bahkan, di bagian diriku yang lebih tua dari jabatan ini, menghormatinya. Tapi jangan lagi. Apa pun yang datang berikutnya — kita membacanya bersama-sama. Surat itu dua arah, dan aku tidak mau kau membacanya sendirian di jam tiga pagi."
"Baik, Pak," kata Arenta. Dan kali ini, ketika ia mengatakannya, yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran, dan rasanya seperti meletakkan sesuatu yang berat yang sudah dibawanya terlalu jauh sendirian.
Di luar, di koridor, matahari pagi jatuh lewat jendela ke lantai markas dalam kotak-kotak cahaya yang rapi. Arenta berjalan ke ruang kelasnya, ke sembilan tarunanya, ke konvensi tata letak dan dua titik kecil di sudut papan tulis.
Dan di suatu tempat di kota yang berkedip itu, di ruangan yang tidak diketahui siapa pun, seorang perakit mulai membangun panggungnya — dengan kesabaran yang sudah dibuktikannya selama dua belas tahun, dengan tangan yang tidak pernah salah membangun, dengan dua foto berwajah dilingkari merah tergeletak di mejanya seperti janji.
Hening sudah dimulai. Dan hening, seperti dikatakan seorang perempuan yang tangannya tidak pernah salah kepada murid-muridnya, adalah satu-satunya soal yang tidak bisa dijawab dengan memotong apa pun.