Foto-foto dari Pasar Kapuk itu sudah empat belas bulan tersimpan di folder yang tidak pernah dihapus Arenta dan tidak pernah dibukanya — folder yang ada di laptop kerjanya seperti satu kamar di rumah yang pintunya dipaku dari dalam: semua orang tahu kamar itu ada, dan tidak ada yang pernah membukanya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Arenta membukanya.
Bukan untuk berkabung. Berkabung sudah dijalaninya empat belas bulan, dengan caranya sendiri, di jam-jam tiga pagi. Malam ini ia membuka folder itu sebagai pembaca — dengan mata yang sudah membaca lima device dari tangan yang sama, dengan pengetahuan yang belum dimilikinya empat belas bulan lalu: tanda tangan, konvensi, kebiasaan, ruang yang disisakan.
Dan kamar itu pun dibuka, dan di dalamnya, Kapuk menunggu seperti ditinggalkan.
Foto demi foto. Device kedua yang distabilkannya tiga meter dari gang selebar bahu — papan yang sopan, jalur yang bersih, ruang yang disisakan untuk tangan operator. Device pertama, yang ditangani Dimas di dalam gang yang tidak bisa dimasuki robot: foto-foto yang diambil setelahnya, dokumentasi forensik yang dingin dan menyeluruh, papan yang sudah hangus di satu sudut, jalur-jalur yang sudah menjadi arang.
Dan Arenta membaca arang itu dengan mata yang sudah membaca tangan Rendra di lima surat berikutnya, dan menemukannya — di sana, di dalam hangus, seperti tanda tangan yang tidak ikut terbakar: konvensi lama. Positif di kiri, jalur pengaman di kanan. Ruang yang disisakan untuk tangan, di tempat yang sama, dengan ukuran yang sama, dengan kesopanan yang sama.
Kapuk adalah tangan Rendra. Bukan kemiripan — kepastian. Orang yang sama yang menulis surat di Pulogadung, di sekolah di Cengkareng, di gudang amunisi, di rumah masa kecilnya, sudah menulis surat pertamanya empat belas bulan lalu di sebuah pasar, dan surat itu ditujukan kepada pembaca yang sama, dan pembaca itu datang — dan mengirim rekannya ke dalam gang, dan rekannya tidak kembali.
Arenta menutup laptop dengan pelan, seperti menutup pintu kamar itu kembali, dan duduk dalam gelap.
Bagian kedua dari kebenaran itu datang tidak malam itu juga — bagian kedua butuh dua hari lagi, butuh foto-foto yang diperbesar sampai pecah, butuh satu telepon kepada Surya dengan pertanyaan yang disamarkan sebagai pertanyaan umum: "Kalau sebuah rangkaian berperilaku berbeda dari desainnya di detik-detik terakhir — berubah pikiran, katakanlah — apa saja yang secara teknis bisa menyebabkannya?" Dan Surya, yang tidak pernah bertanya kenapa sebuah pertanyaan diajukan, memberikan daftarnya: komponen gagal, interferensi ekstrem, kesalahan konstruksi — atau pemicu sekunder yang tidak tercatat di desain asli. Radio. Timer cadangan. Sesuatu yang diaktifkan dari luar.
Komponen gagal: Surya sudah memeriksanya empat belas bulan lalu, tidak ada. Interferensi: tidak ada sumber yang cukup kuat di pasar itu. Kesalahan konstruksi: rangkaian itu tidak punya kesalahan konstruksi — sekarang Arenta tahu itu, karena ia sudah membaca lima device lain dari tangan yang sama dan tangan itu tidak pernah salah membangun, tangan itu hanya salah memilih untuk apa membangun.
Sisa satu. Pemicu sekunder yang diaktifkan dari luar.
Dan malam itu, jam tiga pagi, Arenta duduk di mejanya dengan dua kebenaran yang akhirnya menyatu menjadi satu kalimat yang tidak bisa ditulisnya tanpa berhenti tiga kali: Rendra berada cukup dekat dari Pasar Kapuk untuk melihat device-nya. Ia menonton. Ia menonton Dimas turun ke gang selebar bahu itu, menonton tangan Dimas bekerja di atas papan yang dibangunnya — dan Dimas, Dimas yang tangannya tidak pernah salah memotong, Dimas yang membaca dengan benar — Dimas hampir menyelesaikan rangkaian itu.
Dan Rendra mengubah pikiran rangkaiannya dari kejauhan, karena seorang perakit tidak boleh kalah dari pembaca.
Itu bukan bom yang membunuh Dimas. Bom itu hanya alat tulisnya. Yang membunuh Dimas adalah satu keputusan yang diambil seseorang dari jarak aman, di detik terakhir, karena egonya tidak menerima bahwa seorang operator membaca suratnya lebih cepat dari yang ia tulis.
Arenta tidak tidur lagi malam itu. Ia duduk di jendela sampai kota berkedip memudar dan langit berubah dari hitam menjadi abu-abu menjadi warna pagi, dan dalam cahaya yang berubah itu ia mengambil satu keputusan yang sudah dua hari berdiri di depannya seperti kusen pintu: map yang sudah selesai itu tidak menunggu sisa dua minggu. Map itu naik ke meja Hutahaean hari ini. Bukan karena dua minggunya habis. Karena kebenaran tentang Dimas sudah terlalu lama menjadi milik satu orang, dan kebenaran yang disimpan satu orang terlalu lama berubah menjadi sesuatu yang lain — menjadi dendam, menjadi surat, menjadi hal-hal yang dirakit dalam gelap.
Ia tidak akan merakit apa pun dalam gelap. Ia sudah melihat ke mana jalan itu pergi, di sebuah pasar, empat belas bulan lalu.
Pagi itu, sebelum kelas pertamanya, Arenta mengetuk pintu ruangan Hutahaean dengan map di tangan dan dua minggu yang masih tersisa sembilan hari di sakunya, dan berkata kepada komandannya yang mengangkat wajah dari kertas-kertas:
"Pak. Tidak perlu dua minggu. Namanya Rendra Pakpahan. Dan aku bisa membuktikannya — tetapi sebelum Bapak membuka map ini, Bapak harus tahu dulu apa isinya, karena isinya bukan hanya nama. Isinya adalah Pasar Kapuk. Isinya adalah bahwa Dimas tidak mati karena rangkaian yang gagal. Dimas dibunuh, Pak — dibunuh dengan sengaja, dari jarak aman, oleh orang yang sama yang menulis lima surat terakhir kepada kita. Dan orang itu pernah duduk di ruang latih yang sama dengan saya."
Dan di ruangan itu, untuk pertama kalinya, nama yang tidak boleh disebut itu akhirnya disebut — dan begitu disebut, ia tidak bisa lagi ditarik kembali, seperti potongan yang sudah menutup, seperti jarak dua detik yang sudah diseberangi.