Beberapa saat sebelum Keanu tiba di rumah
Dania masih terus saja mengoceh tanpa henti. Suara lembutnya yang tulus dan ramah terdengar memenuhi ruang makan, membuat ruangan itu menjadi lebih hidup. Dania menceritakan dengan polosnya betapa Keanu selalu tahu cara menenangkannya saat ketakutan atau saat serangan panik itu datang lagi.
Kalila hanya duduk diam di kursinya, berpura mendengar dengan tekun. Sesungguhnya dadanya terasa sesak dan hatinya panas mendengar rentetan kalimat yang seolah sengaja meniadakan posisinya sebagai istri sah, tapi dia lebih memilih mengunci rapat mulutnya, membiarkan apa yang dikatakan Dania masuk ke telinga kiri dan keluar lewat telinga kanannya tanpa perlu singgah sedetik pun. Bagi Kalila, topeng ketenangannya terlalu mahal untuk dirusak oleh rasa kesal atau cemburu.
Brak!
Suara pintu depan yang terbuka kasar seketika menghentikan ocehan Dania. Keanu melangkah masuk dengan napas memburu, dasinya miring dan kemeja kantornya tampak kusut. Langkah kakinya mendadak melambat saat matanya menyapu ruangan. Tatapan tajam Keanu langsung tertuju pada Kalila.
Ada binar kecurigaan dan ketakutan yang sangat kentara di sana. Keanu takut, Kalila yang baru pulang dari rumah sakit akan melakukan sesuatu yang buruk atau menyakiti Dania karena cemburu yang berlebihan.
"Eh…, Keanu? Kamu sudah pulang?" Dania langsung berdiri, menyambut Keanu dengan senyuman manis yang menentramkan. Wanita itu memegang lengan Keanu dengan lembut, seolah dia-lah istri sah Keanu, "tumben pulang jam segini.” Lanjut Dania lagi.
“Kamu sudah lama di sini, Dania?” tanya Keanu, menelisik Dania coba mencari barangkali ada luka, “kamu baik-baik aja?”
“Sudah lumayan lama, malah sampai gak kerasa karena asik mengobrol sama Kalila.” Jawab Dania dengan nada riang, “jangan tegang begitu, Keanu. Kalila menyambutku dengan sangat baik kok di sini. Kami bahkan sedang mengobrol santai ngalor-ngidul, iya kan, Kalila?"
Sementara Kalila sendiri sampai bingung mencerna apa yang dikatakan Dania dengan definisi ‘asik mengobrol’ karena sedari tadi hanya Dania yang berbicara, dia sendiri tidak ada minat untuk menanggapi.
Ketegangan di bahu Keanu perlahan mengendur mendengar penuturan Dania. Dia melirik Kalila sekilas yang masih duduk tenang di kursinya dengan wajah lempeng tanpa ekspresi, lalu menarik kursi tepat di sebelah Dania. Menempatkan dirinya sebagai pelindung janda muda ini, persis di hadapan Kalila.
Saat ini, mata mereka bersirobok. Kening Keanu berkerut melihat ketenangan Kalila yang luar biasa.
Tak lama kemudian, Mbok Darmi masuk sambil membawa sebuah paket, "Mbak Kalila, ini ada kiriman empat boks martabak dari Non Asti dari dapur katering. Katanya biar Mbak Kalila coba dulu menu tester pesanan klien besar yang minta dibuat martabak versi premium dengan telur omega dan bahan-bahan kelas atas."
Kalila menerima paket tersebut. Dari aroma yang menguar, dia tahu ada dua boks martabak manis dengan toping rasa cokelat, selai kacang tambah keju, satu boks martabak manis toping keju dan dua boks martabak telur premium.
Kalila menatap pelayan tuanya dengan senyum tipis, "Mbok, tolong ambil satu boks martabak manis dan satu boks martabak telur ini. Bawa ke belakang, bagikan ke semua pelayan untuk camilan sore."
Keanu yang duduk di depan Kalila sempat tertegun diam. Bibir gelas yang berisi air mineral dingin, hanya menempel di bibirnya tanpa ada yang masuk. Di dalam hatinya, sebuah rasa bersalah kembali mencubit egonya saat melihat kebaikan hati Kalila yang selalu memikirkan orang-orang di sekitarnya bahkan di saat dirinya sendiri sedang sakit. Tapi, Keanu memilih membisu, menahan kalimat itu di balik kerongkongannya yang kaku.
Sisa dua boks martabak di atas meja segera dibuka begitu saja oleh Dania dengan gerakan yang lincah. Tanpa canggung, Dania berjalan ke pantry, mengambil dua piring kecil, lalu meletakkan sepotong martabak manis di atasnya. Satu piring diberikan kepada Keanu dan satu lagi untuk dirinya sendiri.
"Wah, ini kelihatan enak banget deh Keanu. Ayo dicicipi yuk," ucap Dania riang.
Kedua orang itu mulai menikmati martabak manis tersebut, mengobrol dengan sangat akrab seolah ruang tamu itu adalah milik mereka berdua. Sementara itu, Kalila duduk diam di seberang mereka.
Sesungguhnya dia heran dengan kelancangan Dania yang mengambil begitu saja martabaknya tanpa ijin. Tapi yaa, sudahlah, mungkin dia lapar, pikir Kalila.
Kalila mengambil sepotong kecil martabak telur premium, mengunyahnya dengan perlahan berharap bisa merasakan nikmat seperti biasanya. Sayangnya, lidahnya yang baru sembuh dari mati rasa tidak mampu mengecap rasa gurih campuran telur omega dengan daging sapi tersebut. Semuanya mendadak berubah menjadi hambar di dalam mulutnya.
Kalila mendesah, sedih merasakan hal itu. Mungkin juga karena pemandangan di depannya yang semakin menghilangkan nikmatnya martabak telur itu.
Di depan matanya, Keanu dan Dania tampak begitu serasi. Cara Keanu yang antusias mendengarkan tawa renyah Dania dan bagaimana Dania menambah lagi potongan martabak untuk Keanu, semuanya menyajikan sebuah gambaran yang utuh tentang sebuah keluarga ideal.
Keluarga yang utuh, yang butuh saling melindungi. Dan di sana, di seberang mereka yang sedang tertawa riang di ruang makan mewah, Kalila merasa seperti hantu tak kasat mata yang terasing. Rasa sakit terpilin kembali mencengkeram dadanya, menegaskan bahwa perannya di rumah ini memang telah selesai.
Tiba-tiba, suasana hangat itu berubah menjadi sebuah kehebohan.
Dania sudah menghabiskan satu potong martabak manis, kemudian dia mengambil lagi potongan kedua. Dan di gigitan pertama di potongan kedua yang masuk ke mulut Dania, wajah wanita itu mendadak berubah merah. Napasnya memburu, tersengal kepayahan dan bintik-bintik merah berukuran besar mulai bermunculan di sepanjang kulit lehernya yang putih.
Dania mencengkeram tenggorokannya sendiri, dadanya naik turun dengan suara mengi yang nyaring menyerupai serangan asma akut. Matanya terlihat sangat takut melihat ke arah Keanu.
"Dania?! Dania, ada apa?!" Keanu seketika panik setengah mati melihat itu. Dia menangkap tubuh Dania yang mulai gemetar hebat dengan tangan masih mencengkeram lehernya.
Matanya menyapu meja ke arah martabak, lalu tatapan elangnya beralih menatap Kalila dengan kilatan kemarahan yang meluap. Keanu menunjuk wajah Kalila dengan kasar. "Kalila! Apa yang kamu masukkan ke dalam makanan ini?!”
Kalila meletakkan garpunya dengan ketukan yang sangat pelan di atas piring. Dia sandarkan punggungnya di sandaran kursi kemudian menatap Keanu dan Dania yang panik dengan wajah yang teramat kalem, santai dan dingin.
“Mungkin Dania punya alergi? Telur, s**u atau kacang?” tanya Kalila, masih tetap dengan nada datar seolah kepanikan Dania dan Keanu adalah biasa saja.
“K-kacang…” jawab Dania, putus-putus.
“Dania alergi kacang, kenapa kamu gak bilang kalau di satu martabak manis itu ada kacangnya?!” tanya Keanu, gusar. Dia sangat bingung melihat kondisi Dania yang susah napas seperti ini.
"Dengar, saya bukan ibunya, bukan juga saudaranya, Tuan Keanu. Jadi, dari mana logikanya saya harus tahu daftar alergi makanannya, huh?" ucap Kalila, suaranya sangat santai tanpa ada nada panik sedikit pun seolah menikmati penderitaan fisik Dania.
"Lagipula, sejak awal saya tidak pernah menawarkan atau menyuruhnya menyentuh martabak itu. Kalau dia memang tahu tubuhnya memiliki alergi parah terhadap kacang, seharusnya di gigitan pertama di potongan pertama, dia sudah berhenti makan, bukan malah lanjut menghabiskan dua potong besar!” tegas Kalila, savage.
"Kalila! Berhentilah bersikap tidak sensitif! Dania bisa mati! Telepon ambulans cepat!" bentak Keanu, suaranya meninggi memenuhi ruangan saat melihat Dania kian lemas menahan sesak dan Kalila yang tetap santai.
Kalila tidak membalas bentakan itu dengan kemarahan. Setelah hembuskan napas kesal, dia berdiri dengan anggun, berjalan santai menuju kotak P3K di dekat lemari kaca. Kalila mengambil satu obat anti-alergi yang tersedia di situ, CTM, berjalan kembali ke meja makan, lalu meletakkannya di depan Dania bersama segelas air putih baru.
"Minum ini. Ini obat anti-alergi."
Keanu dengan terburu-buru membantu Dania meminum obat tersebut. Tapi, apa yang terjadi berikutnya justru membuat jantung Keanu seolah berhenti berdetak.
Tidak sampai dua menit setelah butiran obat itu masuk ke tenggorokannya, tubuh Dania mendadak lemas total. Kepalanya terkulai lemas ke belakang dan seluruh kesadarannya hilang dalam sekejap. Tubuh mungil Dania ambruk, jatuh seutuhnya ke dalam pelukan Keanu dalam kondisi pingsan dan tidak sadarkan diri!
"Dania?! Dania, bangun!" Keanu mengguncang bahu Dania dengan kepanikan yang kian menggila.
Dia mendongak, menatap marah ke Kalila yang masih berdiri tegak diam saja di samping meja dengan tatapan mata yang sedingin es kutub. "Kalila! Obat apa yang kamu berikan padanya?! Apa yang kamu lakukan?! Kamu kasih racun?!"
Kalila menatap tubuh tidak bergerak Dania yang ada di dalam dekapan Keanu, suaminya, lalu beralih menatap manik mata Keanu yang dipenuhi ketakutan. Seulas senyuman tipis yang teramat misterius terukir di bibirnya yang pucat dan itu membuat Keanu merinding.