“Mbak Kalila, makanlah dulu walau sedikit. Tadi mas Keanu minta simbok untuk masak sup ayam kampung.” Kata simbok di suatu siang, memaksa Kalila mengangguk dan patuhi apa katanya.
Selama dia sakit, untuk dapur di kateringnya dia pasrahkan pada Asti.
Di meja makan, Kalila duduk termenung seorang diri. Aroma kuah kaldu sup ayam buatan Mbok Darmi yang memenuhi ruang makan siang itu sama sekali tidak membuat Kalila tertarik untuk makan.
Dia hanya duduk diam di kursi, mengaduk mangkuk yang berisi sup sembari menatap taman belakang yang masih basah karena sisa hujan semalam. Di atas meja marmer, segelas air putih hangat miliknya sudah mendingin. Tubuhnya masih lemas setelah keluar dari rumah sakit dua hari lalu dan pikirannya terasa sangat lelah.
Rumah besar ini terasa semakin sepi karena sejak pagi Keanu sudah pergi ke kantor pusat Syailendra Corp.
Ting tong
Suara bel gerbang depan berbunyi, memecah kesunyian siang itu.
“Biar Simbok saja yang buka pintunya,” kata Mbok Darmi yang berjalan cepat menuju pintu.
Kalila tetap bergeming di kursinya, melanjutkan mengaduk sup. Beberapa menit kemudian, bukan langkah kaki pelayan tua itu yang kembali terdengar, melainkan ketukan sepatu yang ringan dan terburu-buru menyusuri lantai marmer dan berhenti tidak jauh dari meja makan. Harum parfum manis terhidu olehnya.
Kalila mendongak. Jantungnya mendadak berdegup kencang saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Dania.
Wanita itu terlihat cantik sekaligus rapuh. Dia mengenakan gaun terusan putih gading motif bunga. Rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai asal, membingkai sepasang mata bulat yang terlihat sedih dan berkaca-kaca. Entah kenapa bagi Kalila seolah nampak seperti karakter wanita tertindas yang butuh pertolongan.
Di kedua tangannya, Dania membawa sebuah keranjang rotan besar berisi buah-buahan impor mahal dengan pita ungu.
"Kalila..." Suara Dania terdengar sangat lembut, tulus dan penuh rasa simpati saat dia berjalan mendekat. Dia meletakkan keranjang buah itu di meja, lalu langsung memegang kedua tangan Kalila dengan mata penuh kekhawatiran.
Tangan Dania terasa hangat, sangat berbeda dengan tangan Kalila yang dingin. "Maaf ya aku baru sempat menjengukmu sekarang. Keanu menceritakan semuanya semalam. Aku sangat kaget mendengar kamu sampai pingsan dan harus dirawat di rumah sakit." Katanya dengan suara terdengar tulus.
Kalila membiarkan Dania menggenggam tangannya. Dia tidak menarik secara kasar, tidak juga menunjukkan wajah marah seperti seorang istri sah yang sedang dikunjungi oleh pelakor.
Malahan sebagai seorang tuan rumah yang sopan, Kalila hanya memasang senyum tipis yang sangat tenang. Di titik ini, jiwanya sudah terlalu lelah untuk mengamuk. Dia memilih diam dan mendengarkan apa saja yang ingin Dania katakan. Kalila memilih untuk mengikuti permainan kata Dania, mendengarkan setiap bait untaian kalimat yang meluncur dari bibir ranum wanita di hadapannya.
"Terima kasih buahnya, Dania," jawab Kalila pendek dan formal. "Kamu tidak perlu repot-repot datang ke sini, apalagi kondisimu sendiri belum stabil setelah kepergian Tanto."
Dania menghela napas panjang. Matanya langsung berkaca-kaca, menahan air mata agar tidak jatuh merusak riasan wajahnya. Wajahnya seketika nampak sedih.
"Tapi aku sudah sangat membaik loh, ini semua karena bantuan Keanu, Kalila. Kalau Keanu tidak datang setiap malam ke apartemenku untuk menenangkanku saat aku terserang panic attack…, aku mungkin sudah menyusul suamiku. Keanu benar-benar pria yang baik, kan? Dia memegang teguh janji terakhir Tanto untuk menjagaku. Kamu beruntung dan pasti sangat bangga punya suami seperti dia."
Kalila menelisik wajah Dania saat berkata itu, mencari sebuah kebohongan atau apa pun yang bisa membuatnya yakin bahwa Dania hanyalah berpura-pura.
Nyatanya, dia tidak temukan itu. Dania mengucapkannya dengan wajah yang sangat polos. Tidak ada raut licik seorang perebut suami orang, tidak ada juga nada mengejek. Masalahnya, hal itulah yang membuat Kalila merasa ngeri.
Dania bertingkah seperti wanita polos yang benar-benar tidak sadar bahwa setiap telepon daruratnya di tengah malam pada Keanu, ketergantungan fisiknya, dan air matanya telah merebut waktu, perhatian, dan hak Kalila sebagai istri sah secara perlahan.
Kalila tersenyum miris menyadari hal itu.
Sambil mendengarkan Dania bercerita tentang betapa telatennya Keanu menemaninya agar tidak terkena panik berlebihan, Kalila memalingkan pandangannya ke arah jendela kaca yang berembun.
Ada bayangan blur dirinya di kaca itu. Dia mulai membandingkan dirinya dengan Dania yang duduk di hadapannya.
Kenapa Keanu akhirnya selalu mengabaikan dirinya dan lebih memilih mengutamakan Dania? Pertanyaan yang selama ini mengganggunya akhirnya terjawab siang ini.
Kalila melihat dirinya sendiri, dia adalah tipikal wanita yang mandiri, pemilik bisnis katering yang terbiasa bekerja keras sejak subuh, kuat, dan memiliki uang sendiri dari hasil keringatnya selain dari warisan orang tuanya. Tapi yang terutama, dia selalu menahan setiap masalahnya sendirian agar tidak merepotkan suami. Bisa jadi, di mata Keanu, Kalila adalah wanita yang kuat dan aman untuk ditinggalkan sendirian di rumah ini.
Sementara Dania adalah kebalikannya. Dania adalah gambaran dari kelemahan seorang wanita yang justru disukai pria. Dia adalah tipe wanita yang tidak bisa membuka tutup galon air mineral, tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, gampang ketakutan saat malam tiba apalagi saat hujan dan selalu membutuhkan kehadiran seorang pria untuk menenangkannya.
Dania adalah tipe wanita yang memang layak untuk dilindungi dan butuh sosok suami.
Kesadaran itu membuat hati Kalila semakin terasa dingin. Tidak ada rasa marah, tidak ada dendam. Kalila akhirnya tahu bahwa dia tidak akan pernah mungkin bisa menang bersaing dengan Dania. Bukan karena dia kurang percaya diri atau kurang cantik atau tidak berbakti, melainkan karena Keanu memiliki karakter sifat pelindung yang hanya akan berfungsi jika berhadapan dengan wanita yang lemah seperti Dania.
Kalila perlahan menarik tangannya dari genggaman Dania. Dia berdiri, merapikan blus putihnya, lalu menatap keranjang buah di meja dengan senyuman tipis. Keputusannya sudah bulat.
"Kamu memang butuh seorang suami, Dania... Dan Keanu adalah pria yang tepat untuk memenuhi amanah itu," bisik Kalila lirih.
Dania tertegun karena samar mendengar ucapan Kalila. Dia menghentikan ceritanya, lalu mendongak dengan wajah bingung. "Maaf, Kalila... kamu barusan bicara apa? Ponsel di dalam tasku bergetar, sepertinya Keanu sedang meneleponku." Kata Dania, fokusnya terbelah antara melihat ke Kalila dengan mengubek tasnya.
Kalila menggeleng pelan, wajahnya kembali datar tanpa emosi. "Bukan apa-apa, Dania. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas buah-buahan yang kamu bawa." Katanya, menyentuh plastik wrapping parcel buah.
"Ah, syukurlah kalau kamu suka," Dania tersenyum manis, jemarinya kembali sibuk merogoh tas tangan untuk mencari ponselnya yang terus bergetar.
“Tuh kan benar, Keanu yang nelpon!” seketika wajah Dania berseri saat melihat nama tertera di layar ponselnya.
Kalila mendecih dalam hati, dia kembali menatap keluar jendela. Tapi di dalam hatinya, dia berucap dengan rasa perih yang nyata.
“Sayangnya, Dania... untuk membuat Keanu menjadi seorang lelaki yang memenuhi amanat temannya, menjadi seorang suami sempurna untukmu, aku harus secepatnya mengundurkan diri sebagai istri sahnya. Karena di sini, akulah yang menjadi penghalang kebahagiaan kalian.”
Brak!
Tepat di menit yang paling menegangkan itu, pintu utama rumah didorong kasar dari luar. Keanu Syailendra melangkah masuk dengan napas memburu dan wajah panik. Kemeja kantornya berantakan dan dasinya miring, akibat langsung pulang setelah mendapat laporan darurat dari pos satpam bahwa mobil Dania ada di halaman rumahnya.
Langkah kaki Keanu membeku seketika di ambang pintu. Wajah tampan sang konglomerat itu memucat pasi saat melihat Kalila sedang berduaan dengan Dania. Dia takut Kalila akan mengamuk atau mengomeli Dania.
Kalila memutar tubuhnya perlahan, menatap suaminya dengan sepasang mata yang telah mati rasa sepenuhnya. Yang Keanu tidak tahu adalah Kalila sudah menyiapkan selembar draf surat gugatan cerai resmi yang sudah ditandatangani dan tergeletak di atas meja marmer.