"Dania! Bangun, Dania!"
Suara Keanu meninggi hingga berubah menjadi lengkingan panik yang membuat kehebohan di ruang tamu. Berkali-kali dia mengguncang bahu Dania yang sudah lemas total di dalam pelukannya. Kepala wanita itu terkulai pasrah ke belakang, dengan sepasang mata yang tertutup rapat.
Keanu mendongak tajam, mencari siapa pun yang bisa membantunya. Dia berteriak dengan urat leher yang menegang. "Mbok Darmi! Mbok! Minta Supri untuk siapkan mobil sekarang juga!"
Rumah megah yang semula senyap seketika riuh oleh derap langkah panik para pelayan yang berlari ke arah garasi. Herannya, di tengah kegilaan situasi tersebut, Kalila tetap berdiri tegap di samping meja marmer. Dia tidak melangkah maju untuk membantu, tidak pula menunjukkan gurat ketakutan.
Kalila hanya melipat kedua tangan di d**a, mengamati kepanikan suaminya dengan sorot mata yang teramat dingin dan kosong.
"Kamu kasih apa ke Dania?! Bilang sekarang, Kalila!" bentak Keanu, suaranya bergetar hebat oleh amarah dan tuduhan yang meluap. "Jangan diam saja! Kalau sampai terjadi apa-apa pada Dania, kamu harus bertanggung jawab!" Dia melotot marah ke arah Kalila.
Kalila menarik napas pendek yang sangat tenang, lalu menjawab dengan suara yang teramat datar, “CTM, Tuan Keanu. Obat antihistamin biasa yang ada di dalam kotak P3K rumah kita."
Inginku sih kasih sian1da tapi aku tidak mau wanita ular ini mati dengan mudahnya.
Keanu tertegun, namun matanya masih memancarkan ketidakpercayaan.
"Kenapa? Tidak percaya, huh? Efek sampingnya memang memicu kantuk yang sangat berat sampai bisa membuat orang pingsan seketika. Apalagi jika dosisnya agak tinggi, dan kondisi tubuhnya sedang mengalami serangan alergi akut," lanjut Kalila, melirik sobekan pembungkus CTM di atas meja sebelum kembali mengunci tatapan mata Keanu.
"Kalau Anda berpikir aku memberi racun, itu terserah Anda saja, Tuan Keanu, obat itu memang racun bagi orang-orang yang tidak tahu diri di rumah ini. Tapi secara medis, itu tetap obat penolong yang mencegah tenggorokannya membeku karena lemas."
"Bohong! Kamu sengaja, kan?!" Keanu tidak langsung memercayai penjelasan medis tersebut. Egonya yang terluka membuat kepalanya dipenuhi asumsi bahwa Kalila telah berubah menjadi wanita nekat akibat cemburu buta pada mantan kekasihnya itu, "kamu sengaja membuat Dania pingsan di rumah ini untuk membalas dendam padaku, Kalila! Kamu sungguh keterlaluan!"
Kalila tidak membalas tuduhan kejam itu dengan makian. Dia justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis, sebuah senyum formalitas yang begitu hambar.
"Aku tidak butuh membalas dendam pada wanita yang tidak tahu diri memakan martabak tanpa dipersilakan oleh si empunya, Keanu. Seorang wanita yang dengan sengaja menghabiskan hampir dua potong martabak kacang padahal dia alergi kacang. Entah karena dia terlalu bodoh atau memang sengaja," ucap Kalila, suaranya terdengar santai tanpa ada niat untuk membela diri lebih panjang karena merasa percuma saja.
"Jika kamu memang jauh lebih takut kehilangan dia daripada kehilangan istrimu, lebih baik angkat tubuhnya dan segera bawa dia ke rumah sakit sekarang juga. Jangan buang waktumu untuk berteriak di hadapanku. Kalau sampai kenapa-napa pada Dania, itu salahmu karena kamu lambat.” Pungkas Kalila, menggigit satu potongan terakhir martabak telurnya tadi yang belum habis.
Dia semakin tidak bisa menikmati rasa enaknya tapi berusaha untuk menikmati getirnya rasa, melihat suaminya lebih ketakutan kehilangan mantan kekasih dibanding istrinya.
Tersungging senyum kecil penuh kesakitan tanpa Keanu tahu.
*
Saat Keanu bergerak panik hendak mengangkat tubuh mungil Dania dari atas lantai marmer, wanita di dalam dekapannya tiba-tiba mengerang sangat lirih. Kelopak mata Dania bergerak sedikit, sedikit terbuka meski kesadarannya belum pulih sepenuhnya dari efek kantuk akibat obat tersebut.
Dengan gerakan yang sangat lemah cenderung manja, jemari Dania meremas kemeja kantor Keanu yang kusut. "Keanu... jangan... jangan tinggalkan aku…, aku takut," gumam Dania terbata-bata sebelum kepalanya kembali terkulai lemas di d**a Keanu.
Keanu mengeratkan pelukannya, “sst, aku di sini. Aku tidak kemana-mana.”
Kalila melihat adegan itu tanpa berkedip. Senyum tipis yang sangat dingin sempat menyentuh sudut bibirnya sebelum menghilang lagi. Tidak ada air mata yang jatuh di pipinya yang pucat; wajahnya benar-benar bersih dari emosi. Tangannya terkepal, berusaha menahan segala u*****n dan sumpah serapah yang ingin dia lontarkan.
Tapi di balik itu, tercetak senyuman yang teramat dingin, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan drama murahan yang sudah dia ketahui akhir ceritanya.
Di detik yang sama, ponsel Keanu bergetar dan berdering kencang di saku celananya. Nama yang muncul di layar membuat keningnya berkerut dan terdiam sejenak.
Paman Julian.
Keanu terpaksa menggeser tombol hijau, mendekatkan ponsel itu ke telinganya sementara tangan satunya masih erat mendekap tubuh Dania yang pingsan.
"Halo, Paman..." suara Keanu parau, tercekat di tenggorokan. Berusaha setenang mungkin.
Di seberang telepon, suara bariton dr. Julian terdengar begitu tenang, berwibawa, tapi penuh ingin tahu. "Keanu, aku baru saja menerima laporan dari mbok Darmi katanya ada yang pingsan di rumahmu. Ada apa di sana? Kalila baik-baik saja, kan? Jawab aku!"
Keanu membeku.
Di pelukannya, Dania masih terkulai lemah, wajahnya bersandar di dadanya. Sementara tepat di depan matanya, Kalila, sudah berdiri dan bersiap pergi. Dan di seberang telepon, pamannya sendiri terdengar panik… pada Kalila, istrinya.
Sementara dia, sang suami, malah lebih memeluk perempuan lain. Keanu tidak menjawab. Napasnya tertahan, baru kali ini dia kebingungan.
Mata Kalila bersirobok dengan mata tajam Keanu. Dia berkata pelan, seeperti berbisik tapi cukup jelas untuk didengar.
“Pilihan ada di tanganmu, Keanu. Silakan pilih, walau aku sudah tahu hasilnya.” Pungkas Kalila kemudian pintu tertutup pelan di belakangnya meninggalkan Keanu yang masih duduk di lantai marmer dengan Dania di pelukan, telepon Julian masih aktif di telinganya menuntut penjelasan.