“Om Dokter sudah di gerbang!”
Seruan itu menyambut Julian di gerbang panti pukul enam empat puluh lima pagi, dari mulut bocah berhidung beringus yang sedang menyuapkan sendok ke mulutnya sendiri dan menumpahkan separuhnya ke dagu. Anak-anak lain menoleh serempak. Dua pengasuh saling pandang. Bu Pengurus, yang sedang membagi bubur di meja panjang, berhenti dengan sendok bertengger di udara.
“Selamat pagi semuanya,” kata Julian. Batik birunya sudah rapi, tetapi rambutnya sedikit acak, bukti dia tidak tidur nyenyak. “Om tidak mengganggu sarapan, kan?”
“Tidak! Kak Kalila yang masak buburnya, Om. Bubur ayam. Enak. Ada daun jeruknya.”
“Om percaya.”
Kalila berdiri di ujung meja dengan celemek dan senyum yang tidak sempat dia atur. Pagi ini rambutnya terselip rapi di bawah kerudung kelabu, dan matanya, yang semalam masih basah di teras, hari ini bening seperti orang yang tidur delapan jam. Julian berhenti satu meter darinya, sebab itu satu-satunya jarak yang mereka berdua pahami.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Julian.”
“Kamu membuat bubur.”
“Anak-anak minta.” Kalila menaruh sendok. “Mau ikut jalan sebentar? Ke taman. Anak-anak selesai makan, mereka main di sini. Dari bangku itu semua terlihat.”
Itu bukan ajakan biasa, dan Julian tahu. Bangku kayu di taman belakang panti adalah bangku yang sama. Di sanalah malam hujan lalu dia duduk satu meter dari perempuan yang baru kehilangan segalanya, dan menaruh cup teh di tengah.
“Dengan senang hati.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak berbatu kecil. Jarak tetap terjaga. Di belakang mereka, tak ada yang berbisik, tetapi tiga puluh dua pasang mata menikmati pemandangan itu dengan khidmat. Bu Pengurus berdiri di teras dapur terbuka dan menahan seorang anak yang ingin mengikuti.
“Biarkan mereka, Nak.”
“Tapi Bu, Kak Kalila sama Om...”
“Sstt. Dilihat dari jauh saja. Yang begini jangan diganggu.”
Bangku itu masih ada. Catnya mengelupas di sandaran, dan kolam di belakangnya sekarang dipenuhi teratai kecil. Kalila duduk di salah satu ujung, Julian di ujung lainnya. Satu meter. Dari tempat mereka duduk, taman terbentang jelas hingga dapur terbuka, tempat anak-anak berkerumun di sekitar meja dan Bu Pengurus mengawasi dari kejauhan, tidak berpura-pura memandang ke arah lain.
“Aku ingat bangku ini,” kata Julian.
“Aku juga. Waktu itu aku mencengkeram pinggir kayunya sampai tanganku sakit.”
“Waktu itu kamu bilang belum siap ke mana pun.”
“Dan kamu bilang tidak apa-apa.” Kalila menatap permukaan kolam. “Dan sekarang aku duduk di sini dengan tanganku tidak mencengkeram apa pun.”
Julian menelan. Dia menatap tangan Kalila yang terlipat di pangkuan, kemudian tangannya sendiri.
“Kalila.”
“Ya?”
“Boleh?” Dia membuka telapak tangan di atas kayu bangku, di tengah jarak yang membatasi mereka, tidak lebih, tidak kurang. Menunggu. Telapak itu tetap terbuka, tanpa menggeser satu senti pun lebih dekat.
Kalila memandangnya. Kemudian dia mengulurkan tangan kanannya, pelan, dan meletakkannya di atas telapak tangan itu.
Jari Julian menutup lembut. Tidak mencengkeram. Hanya menggenggam, hangat dan sedikit gemetar, seolah dia memegang sesuatu yang bisa tumpah. Kalila menutup mata sesaat. Rasanya sederhana. Rasanya seperti tangan, bukan seperti kemenangan, bukan seperti pelarian. Hanya tangan seseorang yang tidak akan melepasnya sebelum dia minta.
“Hangat,” bisiknya.
“Kamu juga.”
Di kejauhan, bocah berhidung beringus berhasil melepaskan diri dari pengasuh dan berlari menuju taman. Dia berhenti tepat di ujung jalan setapak, mata bulat memandang dua orang di bangku, lalu menutup mulut dengan kedua tangan dan berbalik pergi dengan langkah berjingkat.
*
Siangnya, teras vila dipenuhi kursi pinjaman. Eyang duduk di kursi rotan utama dengan tongkat bersandar di lengan, mengenakan kebaya putih gading. Mama di sebelahnya, kerudung biru tua dan wajah yang sudah menangis sebelum acara dimulai. Bu Pengurus duduk di sisi Kalila sebagai wali, sebab orang tua kandung sudah tiada. Asti berdiri di ambang pintu dengan nampan teh.
Julian duduk di seberang, dengan jarak yang tidak menyisakan prasangka.
“Eyang tidak akan berpidato,” kata Eyang. “Eyang sudah terlalu tua untuk basa-basi.” Dia menatap Kalila lurus. “Kami datang meminta kamu menjadi istri anak Eyang, Julian. Kalau kamu bersedia. Kalau tidak, kami tetap makan siang bersama, dan Eyang tetap akan menikmati rendangmu.”
Beberapa orang tertawa gugup. Kalila menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah.
“Eyang, Mama, Bu Pengurus,” katanya. “Saya akan menjawab dengan kata-kata saya sendiri. Saya bersedia.”
Hening sejenak. Lalu Mama menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis, tersedu, tidak ditahan. Eyang menepuk punggungnya.
“Kamu bilang tidak sekali,” bisik Eyang. “Sekarang?”
“Sekarang Mama bilang ya.” Mama mengusap wajah dan menatap Kalila dengan mata merah. “Mama menyetujui, Nak. Mama minta maaf pada kalian berdua karena sempat menjadi tembok. Dan Mama berterima kasih pada Julian, yang tidak melangkahi apa pun.” Dia beralih menatap adik iparnya. “Jaga dia, Julian.”
“Aku berjanji, Mbak.”
“Jangan berjanji. Lakukan.”
“Baik,” kata Julian, dan sudut matanya basah.
Tanggal ditetapkan setelah teh dihidangkan. Sepuluh pekan lagi, hari Sabtu, pagi. Kalila menyebut tempatnya tanpa ditanya: kebun panti.
“Di bawah pohon mangga di sebelah kolam,” katanya. “Sederhana. Anak-anak ikut.”
“Di tempat aku pertama kali melihatmu,” kata Julian pelan.
“Aku tahu. Bu Pengurus sudah cerita.”
Ponsel Mama bergetar di pangkuannya. Dia membaca layar, wajahnya berubah lembut dan sedih sekaligus. Dia mengulurkan ponsel itu kepada Kalila.
“Anak itu mengirim ke Mama, bukan ke kamu. Dia menepati janjinya tidak menghubungimu. Dia minta Mama meneruskan kalau kamu mau.”
Hanya satu kata di layar: Selamat.
Kalila membacanya, lalu memejamkan mata. Dia mengembalikan ponsel itu dan menoleh kepada Asti.
“Asti.”
“Ya, Bu?”
“Pada hari akad nanti, sediakan secangkir kopi arabika, delapan puluh lima derajat. Aku sendiri yang menyeduh. Simpan untuk Keanu.”
“Siap, Bu.” Asti menyeka hidung dengan punggung tangan dan pergi ke dapur secepat mungkin.
*
Menjelang sore, ketika Eyang dan Mama beristirahat di kamar tamu dan Bu Pengurus pamit pulang, Julian berdiri di teras dengan sebuah kotak kayu jati yang tadi dia titipkan di mobil. Dia membawanya di depan dada, dengan langkah lambat.
“Ini surat-suratku,” katanya. “Satu tiap Sabtu, sejak hari kamu meminta aku tidak menghubungimu. Tidak pernah kukirim.”
Kalila menerimanya. Kotak itu lebih berat dari kelihatannya, dan tutupnya halus oleh minyak kayu.
“Kamu tidak harus membacanya,” lanjut Julian. “Isinya tidak meminta apa pun. Kalau kamu mau membakarnya, aku tidak akan keberatan.”
“Aku akan membacanya,” kata Kalila. “Satu tiap Sabtu. Sampai akad.”
Julian tersenyum, benar-benar tersenyum, lebar dan malu-malu seperti anak yang ketahuan membawa hadiah.
“Kalau begitu masih ada banyak Sabtu yang harus kuisi.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa menulis yang baru.”
“Tulislah,” kata Kalila. “Tapi kali ini kirimkan.”