Julian tiba pukul enam lewat lima belas, empat puluh lima menit sebelum waktu yang diminta.
Dia memarkir jip hitamnya di bawah pohon mangga di ujung jalan setapak dan duduk di dalam selama lima menit penuh, hanya memegang setir, supaya jantungnya tidak lebih dulu masuk ke pagar. Kemeja putih lengan panjang, celana gelap, tanpa jas. Di jok sebelah tidak ada apa-apa. Dia sudah memikirkan membawa bunga, kue, atau sesuatu yang bisa diletakkan di meja sebagai alasan, dan dia membatalkan semuanya. Kalila memintanya datang saja.
Asti yang membuka pintu. Perempuan itu menatapnya sejenak, lalu menunduk dengan senyum yang ditahan.
“Dokter Julian. Masih terlalu awal, Dok. Bu Kalila masih di dapur.”
“Saya tahu. Saya bisa menunggu di teras?”
“Silakan. Saya buatkan teh.”
Teras itu bersih. Dua kursi rotan, meja bundar, lampu gantung kuning yang baru dinyalakan. Cangkir tembikar sudah terhidang sebelum Julian sempat duduk. Dia memilih kursi yang menghadap jalan setapak, bukan pintu, supaya Kalila tidak perlu merasa ditunggu dari belakang.
Dari dalam terdengar bunyi pisau di talenan, air mendidih, dan sesekali suara perempuan itu memberi instruksi pelan kepada Asti. Julian mendengarkan semuanya seperti mendengarkan musik yang dia kenal lagu dasarnya tetapi tidak pernah dia dengar versinya.
Empat puluh menit. Dia tidak membuka ponsel. Dia tidak mengeluarkan jam tangan untuk dilihat. Dia hanya duduk, menghirup bau tanah yang disiram sore tadi, dan sadar akan satu hal yang tidak dia rencanakan: kebalikan malam hujan itu. Dulu ada seorang perempuan berdiri di gerbang rumah besar, menunggu laki-laki yang berjanji makan malam pukul tujuh dan tidak datang sama sekali. Malam ini yang menunggu adalah dia, dan yang menunggu lebih awal, dan dia tidak keberatan satu detik pun.
“Dokter.”
Asti berdiri di pintu dengan nampan. “Bu Kalila siap.”
Julian berdiri.
*
Kalila keluar membawa mangkuk. Bukan nampan besar, bukan prasmanan, hanya dua mangkuk putih bundar dengan uap tipis yang naik. Dia mengenakan gamis hijau zaitun dan kerudung krem. Wajahnya bersih, dan di matanya ada sesuatu yang tenang, lelah, tetapi tidak mau lari.
Pukul tujuh tepat.
“Duduklah.”
Julian duduk. Kalila menaruh satu mangkuk di depannya dan satu lagi di sisinya sendiri, lalu duduk di kursi seberang. Asti mundur ke ambang pintu, pintu tetap terbuka.
Sup bening. Hanya kaldu jernih kekuningan, jagung manis, wortel yang dipotong tipis, dan daun bawang yang melayang di permukaan. Julian mengenali cara memotongnya: rapi, sabar, tiap potong sama besar.
“Ini sup paling sederhana yang bisa kubuat,” kata Kalila. “Resep pertama yang kuhafal, jauh sebelum aku jadi koki. Dan sup yang tidak bisa kurasakan sama sekali berbulan-bulan ini.”
“Kalila, kamu tidak harus...”
“Aku mau.” Kalila mengangkat sendok. “Aku ingin kamu ada di sini waktu aku mencicipnya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena kamu satu-satunya orang yang pernah menunggu aku tanpa bertanya apakah rasanya enak.”
Dia meniup uapnya sekali. Menyuapkan sendok ke bibir.
Julian memperhatikan wajahnya dan tidak bernapas.
Kalila menelan. Tangannya berhenti di udara. Sendoknya turun pelan ke mangkuk dan dia tidak menaruhnya, hanya memegangnya, seolah sendok itu sesuatu yang tiba-tiba menjadi berat.
Gurih.
Gurih yang bulat, hangat, mengisi seluruh lidah dari ujung hingga pangkal. Kaldu ayam yang direbus tiga jam. Manis jagung yang sabar, garam yang pas, sedikit asin yang menyatu, dan di bawah semuanya sebuah kedalaman yang belum pernah dia kenal sebagai kata sejak malam gala. Garam. Gurih. Dua pintu yang paling lama terkunci, terbuka bersamaan.
Untuk pertama kalinya sejak gala itu, lidahnya penuh.
Kalila tidak bergerak. Dia tidak berkata apa-apa. Air mata turun dengan sendirinya, deras, tanpa isak, jatuh ke dalam mangkuk dan membuat lingkaran kecil di permukaan kaldu yang jernih.
Julian tidak berdiri. Dia tidak mengulurkan tangan. Dengan gerak sangat pelan, dia mengeluarkan saputangan dari saku, melipatnya sekali, dan menaruhnya di tengah meja, tepat di antara dua mangkuk, seperti dulu dia menaruh cup teh di bangku taman.
Kalila mengambilnya. Menekan ke wajah. Lama.
“Gurih,” katanya akhirnya, dari balik kain. “Semuanya. Penuh.”
“Aku di sini,” kata Julian.
“Aku tahu.”
Beberapa saat kemudian dia tertawa kecil di balik kain, tawa yang basah. “Aku harus memastikan, Julian. Aku sudah terlalu lama percaya pada lidah orang lain. Cicipi supmu. Katakan apa adanya, asin, hambar, atau pas.”
Julian menyendok kuahnya, mencicip dengan serius seperti seseorang yang sedang diuji. “Pas,” katanya. “Tidak kurang, tidak lebih. Dan jagungnya manis.”
“Itu juga yang kurasakan.”
“Berarti lidahmu benar.”
“Berarti lidahku benar,” ulang Kalila, dan kali ini dia tersenyum penuh, tanpa menyembunyikan apa pun.
*
Dia baru bisa bicara lagi setelah menghabiskan setengah mangkuk. Dia sengaja makan pelan, membiarkan rasa itu tinggal di lidahnya, menghafal dan memastikan. Julian menghabiskan supnya tanpa suara, kecuali satu kali, “enak sekali”, yang diucapkan seperti seseorang yang tidak tahu cara lain mengatakan kebenaran.
“Aku sudah punya jawaban,” kata Kalila. Dia melipat saputangan itu rapi dan menaruhnya di sisi mangkuk. “Dan aku mau mengatakannya dengan kata-kataku sendiri. Tolong jangan memotong.”
“Aku tidak akan memotong.”
“Senin lalu, sesudah Keanu pergi, aku duduk di kursi ini sampai gelap. Aku ingin memastikan satu hal: bahwa aku bisa hidup tanpa memilih siapa pun, jadi kalau aku memilih, itu karena mau, bukan karena butuh.” Dia menatap uap yang tersisa. “Aku bisa. Aku punya dapur, punya Asti, punya Mama, punya anak-anak panti, punya lidahku. Hidup seperti itu utuh.”
Julian mengangguk pelan, tidak bergerak.
“Aku sanggup hidup utuh tanpa kamu, tapi aku tidak mau.” Suaranya sedikit bergetar, kemudian pulih. “Aku memilihmu, Julian. Bukan karena kamu merawatku. Bukan karena aku merasa berutang. Karena kamu menaruh teh di tengah bangku, bukan menyodorkannya. Karena kamu datang lebih awal.”
Dia berhenti. Mengambil napas.
“Ada satu pertanyaan lagi. Yang ketiga.”
“Tanyakan.”
“Kalau aku minta kamu menunggu lagi, itu masih janji, atau sudah tinggal kebiasaan?”
Julian menunduk, lalu tertawa pendek yang terdengar seperti menahan sesuatu di dadanya agar tidak tumpah.
“Aku sudah menunggu lima tahun,” katanya. “Aku tidak keberatan menunggu lagi, Kalila. Kalau kamu minta, aku akan menunggu lima tahun lagi. Tapi aku ingin menunggunya sebagai suamimu, bukan sebagai pengamat.” Dia mengangkat mata. “Itu bukan kebiasaan. Itu satu-satunya hal yang pernah kuinginkan dengan sungguh-sungguh.”
Hening. Lampu teras bergoyang pelan oleh angin. Di pintu, Asti menyeka mata dengan lengan baju dan pura-pura mengecek panci.
“Aku tidak akan berjanji tidak akan membuatmu menangis,” lanjut Julian. “Orang yang berjanji begitu pembohong. Tapi aku berjanji tidak akan pergi saat kamu perlu didengar.”
“Itu cukup,” kata Kalila.
Julian berdiri. Kursi rotan berderit lembut. “Sudah malam. Aku tidak boleh lama.”
“Aku tahu.”
“Besok pagi kamu mengantar sarapan ke panti, kata Bu Pengurus. Boleh aku datang ke sana?”
“Anak-anak akan senang.”
“Dan siangnya...” Dia ragu sepersekian detik. “Aku akan datang membawa dua orang yang harus mendengar jawabanmu langsung dari mulutmu.”
“Eyang dan Mama.”
“Ya.”
Kalila ikut berdiri. Jarak mereka masih satu meter, dan keduanya sama-sama tahu tak seorang pun akan melanggarnya malam ini.
“Sampai besok, Julian.”
“Sampai besok, Kalila.”
Dia menuruni undakan teras dan berjalan ke jalan setapak tanpa menoleh. Kalila berdiri di tempatnya sampai lampu jip hitam itu hilang di balik rumpun bambu, dan baru ketika Asti menyentuh bahunya dia sadar tangannya sudah lama menggenggam saputangan Julian.