Sepuluh pekan sesudah lamaran di teras vila, Kalila terbangun pukul empat pagi tanpa bantuan alarm, dan hal pertama yang dia lakukan adalah membuka kotak kayu jati di sisi tempat tidurnya.
Julian benar-benar mengirim surat baru tiap Sabtu pagi, diantar sopir Eyang ke pagar vila, dan Kalila membacanya satu per satu di dapur. Sekarang kotak itu penuh dan hampir tidak bisa ditutup.
“Bu, sudah bangun?” Asti mengetuk pintu kamar dengan nampan. Matanya merah, entah karena begadang atau menangis. “Saya bawakan teh. Penata rias jam enam. Anak-anak sudah ribut di panti dari subuh.”
“Aku sudah bangun dari tadi.”
“Ibu gugup?”
“Tidak. Aku hanya ingin kopi. Aku mau menyeduh sendiri. Dua cangkir.” Dia bangkit, mengenakan kain panjang, dan berjalan ke dapur dengan kaki telanjang. “Satu untuk aku, satu untuk Keanu kalau dia datang.”
Asti menutup mulutnya dengan punggung tangan. “Dia datang, Bu. Mbok Darmi bilang sejak kemarin.”
“Kalau begitu yang itu kumasukkan ke termos kecil.”
Dia menaruh termometer di ketel. Delapan puluh lima derajat. Air mengucur pelan ke atas bubuk kopi di pagi gelap, uap naik, dan hidungnya membaca semuanya dengan jelas, lalu lidahnya menyahut dengan pahit yang bulat dan hangat. Satu cangkir dia tuang ke termos. Satu lagi dia minum sendiri, berdiri di depan foto Ayah dan Ibu yang tertawa.
“Hari ini, Bu,” bisiknya kepada foto itu. “Aku menikah.”
Perempuan di foto itu tertawa padanya seperti biasa.
Kebun panti pukul sembilan sudah penuh tenda sederhana dan kursi plastik. Pohon mangga di sebelah kolam digantungi untaian melati, dan anak-anak berbatik kecil berkerumun di tepi kolam. Eyang duduk di kursi paling depan dengan tongkatnya. Mama di sebelahnya tidak berusaha menyembunyikan air mata. Bu Pengurus berdiri sebagai wali, Mbok Darmi di sampingnya, dan di barisan lain tampak dokter pengganti berkacamata bulat yang tersenyum sambil memegang ponsel.
Julian berdiri di bawah pohon mangga bersama penghulu. Batik putih, kopiah hitam, dan wajah yang pucat seperti orang yang sudah menunggu lima tahun, sepuluh pekan, dan satu pagi dengan cara yang sama.
Penghulu membuka akad dengan suara tenang. Kalila duduk di sisi Julian, tangan terlipat di pangkuan. Ketika tiba pada bagian kabul, Julian mengucapkannya dalam satu tarikan napas, jelas dan tidak terbata, seolah kalimat itu sudah dia hafal sejak halaman panti lima tahun lalu. Para saksi berkata sah. Anak-anak bersorak sebelum disuruh diam, dan seluruh kebun tertawa.
*
Keanu duduk di barisan paling belakang, di kursi plastik biru, dengan kemeja putih dan kedua tangan terlipat di pangkuan. Dia tiba tepat pukul delapan lima puluh, sepuluh menit sebelum acara dimulai, dan tidak bicara dengan siapa pun kecuali satu kali, kepada seorang anak yang menawarkan permen.
Dia berdoa ketika akad dibacakan, pendek dan tanpa suara. Dia tidak minta apa-apa untuk dirinya.
Sebelum jamuan dibuka, dia berdiri dan menyelinap ke samping tenda, menuju pintu dapur kebun yang terbuka. Dia hanya ingin pergi sebelum ada yang melihat wajahnya.
“Mas Keanu.”
Mbok Darmi berdiri di ambang pintu dapur dengan cangkir keramik kecil di kedua tangan. Uap tipis naik darinya, dan harum jahe dan serai menyapa hidung Keanu sebelum lidahnya.
“Mbok,” katanya, “saya mau pulang.”
“Sebentar saja, Mas. Mbok buatkan ini sejak subuh.” Mbok menyodorkan cangkir itu. “Sup ayam kampung. Dua sendok jeruk nipis, seperti biasa.”
Keanu memandang cangkir itu. Dia ingin menolak dan tidak tahu caranya. Dia menerimanya, meniup sekali, dan menyesap.
Panas. Gurih.
Gurih.
Kata itu muncul begitu saja, bulat di ujung lidah, ketika kaldu ayam kampung itu meluncur ke tenggorokan dan meninggalkan jejak hangat di belakangnya. Lalu, di ujung kuah, tajam dan bersih, asam jeruk nipis menusuk seperti bunyi lonceng kecil di ruangan sunyi. Bukan sedetik. Cukup lama untuk dia pahami bahwa rasa itu sungguh ada, bukan kebetulan, bukan khayalan.
Dia terdiam. Cangkir di tangannya sedikit bergetar.
“Mas?”
“Gurih,” kata Keanu, serak. “Dan asam, Mbok. Dua-duanya.”
Mbok Darmi tidak menjawab. Dia hanya menyeka mata dengan ujung kain di bahunya. Dari balik pintu, Asti muncul membawa termos kecil, menyodorkannya dengan kedua tangan.
“Dari Bu Kalila, Pak. Kopi arabika, delapan puluh lima derajat. Katanya diseduh sendiri tadi pagi.”
Keanu menerima termos itu. Dia menatap Asti, kemudian Mbok, kemudian pintu dapur yang membuka ke arah tenda tempat tawa anak-anak terdengar. Tidak ada yang bisa dia katakan, dan dia menyadari itu justru yang benar.
“Mbok,” katanya akhirnya, “tolong sampaikan kepadanya: selamat, dan terima kasih untuk dua sendok jeruk nipisnya.”
“Akan Mbok sampaikan, Mas.”
Dia menghabiskan sup itu di tempat, lalu mengembalikan cangkir kosong ke tangan Mbok. Dia berjalan menuju gerbang tanpa menoleh, dan di luar pagar dia membuka tutup termos. Uap kopi naik. Dia menyesap pelan.
Pahit, samar dan jauh. Tapi ada.
*
Jamuan dibuka pukul sebelas. Tamu antre di meja panjang berkain krem: nasi kuning, ayam bumbu kuning, sayur nangka, rendang. Anak-anak berebut kerupuk.
Kalila berdiri di ujung meja bersama Julian, mengenakan kebaya putih gading dan kerudung bunga melati. Julian berdiri di sampingnya, setengah langkah di belakang, siap.
Bocah berhidung beringus menarik ujung kebaya Kalila. “Kak, sekarang Kakak istrinya Om Dokter?”
“Iya.”
“Berarti Om Dokter datang lebih awal terus?”
“Mungkin,” kata Julian sebelum Kalila sempat menjawab. “Om sedang belajar kebiasaan lain. Tapi yang itu tidak akan Om hentikan.”
Dia mencicipi satu per satu: nasi kuning yang gurih, ayam dengan kunyit yang tidak berlebihan, rendang yang asin dan legit dan dalam, kue madu. Dia terus menyadari hal sederhana yang paling sulit dipercaya: semuanya terasa.
Di ujung meja, di tengah nampan, ada sebuah panci kecil bertutup berisi sup ayam kampung. Kalila menyendokkan setengah sendok ke mangkuk kecil dan menyesapnya.
Gurih yang jernih. Lalu asam, dua sendok jeruk nipis, persis seperti yang dia ajarkan kepada Mbok Darmi bertahun-tahun lalu di dapur rumah Syailendra.
“Mbak Kalila,” bisik sebuah suara di belakangnya. Mbok Darmi berdiri dengan wajah sembab dan senyum yang gemetar. “Mas Keanu titip salam. Selamat, katanya. Dan terima kasih untuk dua sendok jeruk nipisnya.”
Kalila memandang jauh ke arah gerbang yang kosong. “Dia datang?”
“Datang tepat waktu, Mbak. Dia merasakan supnya. Gurih sama asamnya.”
Kalila menarik napas. Dadanya terasa hangat dan agak sakit, dua hal yang bisa hadir bersamaan dan tidak saling meniadakan.
“Terima kasih, Mbok,” katanya. “Itu kabar terbaik hari ini.”
Julian, yang mendengar semuanya, tidak berkata apa-apa. Dia hanya menggeser berdiri setengah langkah lebih dekat, dan Kalila tidak menjauh.
*
Malam turun di vila dengan angin lembut dari kebun singkong. Tamu-tamu sudah pulang. Eyang dan Mama beristirahat di kamar tamu, dan Asti mengaku akan tidur di rumah dengan alasan yang tidak ada yang percaya.
Julian dan Kalila duduk di teras, pintu tetap terbuka. Dua kursi rotan yang sama, meja bundar yang sama, lampu gantung kuning yang sama. Tidak ada teh. Hanya kotak kayu jati di pangkuan Kalila.
“Kamu tidak harus membacanya sekarang,” kata Julian.
“Aku mau membaca yang pertama. Yang ini kusimpan untuk malam ini.”
Dia mengangkat tutup kotak itu dan mengambil amplop paling bawah, amplop yang kertasnya sudah menguning di pinggir. Dia membuka lipatannya dengan hati-hati. Tulisan tangan Julian rapi, tegak, sedikit miring ke kanan, tiga baris saja.
Kalila, hari ini kamu bilang jangan hubungi aku, dan aku mengerti. Aku akan menulis saja dan menyimpannya. Aku menunggu, dan tidak apa-apa kalau jawabannya tidak.
Dia membacanya sekali, lalu sekali lagi. Matanya basah, tetapi bibirnya tersenyum.
“Tiga baris,” katanya.
“Itu yang paling pendek.”
“Dan yang paling jujur.” Dia melipatnya kembali dan menaruhnya di pangkuan. “Julian.”
“Ya?”
“Kamu tahu apa yang paling kuingat dari hari ini? Bukan akad. Bukan kebaya.” Dia menoleh. “Tadi pagi kamu sudah berdiri di bawah pohon mangga sebelum aku keluar dari tenda rias. Jam berapa kamu tiba?”
Julian tersenyum, malu sekaligus bangga, seperti anak yang ketahuan membawa hadiah. “Jam lima. Penjaga gerbang belum membuka pintu. Aku menunggu di jip sampai gerbangnya dibuka.”
“Kenapa?”
“Aku datang lebih awal,” kata Julian.
Kalila menatapnya lama. Di bawah lampu kuning itu, wajah laki-laki di sebelahnya tampak sama seperti pada malam di bangku taman: tenang, jujur, tidak menuntut apa pun. Hanya sekarang dia tidak lagi duduk satu meter darinya.
“Aku tahu,” katanya. “Aku sudah menunggumu.”
TAMAT