“Boleh,” kata Kalila.
Kata itu keluar lebih mudah dari yang dia kira. Dia mengira akan ada tarik-ulur, ragu, atau pembelaan diri. Tetapi yang ada hanya selembar foto hitam putih di tangan seorang laki-laki yang berdiri satu anak tangga di bawahnya, dan perempuan di dalam dirinya yang dulu berbaring di rumah sakit tanpa seorang pun di sisi tempat tidur.
Keanu naik kembali. Dia tidak duduk. Dia menaruh foto itu di tengah meja rotan, di antara teko dan dua cangkir, dan mundur setengah langkah supaya tangannya tidak mendekati tangan Kalila. Kalila menyadari jarak itu dan menghargainya tanpa berkata apa-apa.
Mereka berdua menatap foto itu. Bentuk kecil, melingkar, seukuran kacang, yang dulu dia selipkan di antara lembar-lembar catatan sebagai penyemangat untuk dirinya sendiri.
“Aku tidak pernah memberinya nama,” kata Kalila.
“Aku juga tidak.” Suara Keanu bergetar. “Waktu itu aku bahkan tidak bertanya nama apa yang kamu bayangkan.”
“Aku membayangkan terlalu banyak. Aku tidak berani menyebut satu pun.”
Angin sore menggerakkan tirai dan dahan mangga di halaman. Dari dalam rumah tidak terdengar apa pun. Asti sengaja diam.
Kalila menarik napas dalam-dalam dan menatap foto itu, bukan dengan mata seorang pasien, tetapi dengan mata seorang ibu.
“Selamat tinggal, Sayang,” bisiknya. “Ibu tidak sempat memasak apa pun untukmu. Ibu mau kamu tahu, Ibu menunggumu. Ibu menyiapkan semuanya. Dan Ibu tidak marah pada siapa pun lagi, termasuk pada diri Ibu sendiri.”
Bahu Keanu bergetar. Dia menutup mulut dengan punggung tangan, namun suaranya lolos juga, kasar dan rendah, bukan tangisan laki-laki yang sedang bersandiwara.
“Ayah di sini,” katanya terputus-putus. “Ayah dulu tidak ada. Ayah bilang Ayah akan melindungi kalian dengan nyawa Ayah, dan di kamar rawat itu Ayah justru menyalahkan Ibumu, padahal Ibumu yang paling kesakitan.” Dia menarik napas yang tersangkut. “Maaf. Maaf, Nak. Ayah tidak menepati satu pun yang Ayah ucapkan.”
Kalila menangis. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipi dan kerudung biru mudanya, dan dia tidak menyekanya. Di depan foto sekecil itu, ada dua orang dewasa yang pernah menikah, kini berdiri dengan jarak yang tidak dilanggar siapa pun, menangis untuk seseorang yang sama.
Beberapa menit berlalu tanpa kata. Sesekali terdengar sedu pendek. Burung di atas atap seng sudah diam sejak tadi.
“Terima kasih,” kata Keanu akhirnya. Dia menyeka wajah dengan lengan kemejanya, tanpa malu. “Aku tidak pernah membayangkan bisa mengucapkannya.”
“Bawa fotonya,” kata Kalila. “Aku sudah menyimpan dia di tempat lain.”
Keanu menunduk, mengambil foto itu dengan dua jari seperti mengangkat sehelai bulu, dan memasukkannya kembali ke dalam dompet. Lipatan paling dalam, tempat selama ini dia menyimpannya.
“Mama menunggu teleponku,” katanya. “Selamat sore, Kalila.”
“Selamat sore, Keanu.”
Dia pergi. Tidak menoleh. Kalila memperhatikan punggungnya sampai hilang di kelokan jalan setapak, lalu duduk kembali di kursi rotan.
Asti keluar dari pintu dengan sehelai selendang di lengan. Dia menyampirkannya di bahu Kalila tanpa bicara, kemudian berdiri canggung di samping kursi.
“Saya dengar sebagian, Bu,” katanya akhirnya. “Panci saya sengaja berisik. Telinga saya yang tidak mau diajak kerja sama.”
“Tidak apa-apa. Aku tidak menyuruhmu menutup telinga.”
“Ibu tidak menyentuh Pak Keanu sama sekali.”
“Itu memang yang kuinginkan.” Kalila meraih ujung selendang dan merapatkannya. “Menangis boleh. Menyentuh tidak. Kami berdua sudah terlalu sering saling menyentuh waktu belum saling mendengar.”
“Ibu mau makan?”
“Aku mau duduk dulu.”
“Baik, Bu.” Asti ragu sebentar. “Kalau Ibu perlu apa-apa, saya di dapur. Saya tidak akan berisik lagi.”
Kalila tersenyum kecil dan membiarkan Asti pergi.
*
Dia duduk di teras sampai langit berubah dari jingga ke ungu, lalu ke biru tua yang pekat. Teh di cangkirnya sudah dingin, tidak diminum. Kunang-kunang pertama muncul di semak singkong. Asti beberapa kali melongok dari pintu, kemudian mundur lagi.
Beban besar tidak hilang tiba-tiba, dan rasa menang pun tak datang. Yang ada hanya lapang, seperti kamar yang akhirnya sudah dibersihkan dan tidak perlu dilihat lagi.
Pukul tujuh malam, Asti membawa lampu teras dan menyalakannya.
“Bu, sudah gelap.”
“Aku tahu.” Kalila mengangkat wajah. “Ambilkan ponselku, Asti.”
Asti membawakannya, lalu mundur ke ambang pintu seperti orang yang tahu dia sedang menyaksikan sesuatu yang bukan miliknya.
Kalila membuka nama itu. Dia menatap layar yang kosong lama sekali. Sudah empat bulan lebih dia tidak mengirim satu kata pun. Jarinya bergerak ragu, menghapus, menulis ulang. Dia tidak ingin kalimat panjang. Dia tidak ingin salah memaknai apa pun.
Julian. Jumat pukul tujuh, di vila. Datang saja. Kalila.
Dia membaca pesan itu dua kali dan hampir menambahkan sesuatu. Tidak. Empat hari. Empat hari cukup untuk mengubah “kasihan” menjadi “aku”, supaya jawaban yang akan dia ucapkan nanti benar-benar milik kepalanya yang tenang, bukan milik hari ini yang basah oleh air mata. Itu permintaan Eyang. Itu juga janjinya.
Dia menekan kirim.
*
Julian sedang berdiri di lorong rumah sakit, menunggu hasil laboratorium seorang pasien, ketika ponselnya bergetar di saku jas putih.
Dia mengira itu pesan dari bangsal. Dia membukanya dengan satu tangan.
Nama di layar membuatnya berhenti bernapas.
Julian. Jumat pukul tujuh, di vila. Datang saja. Kalila.
Dia membaca sekali. Lalu sekali lagi. Lalu sekali lagi dengan jari menahan layar, seolah kata-kata itu bisa lenyap bila dia lengah. Tanpa gelar, tanpa “Dok”. Hanya namanya, tanpa embel-embel, ditulis oleh tangan yang dulu memanggilnya Paman.
“Dokter Julian?” Seorang perawat berhenti di depannya. “Hasilnya sudah keluar. Dokter baik-baik saja?”
“Sebentar,” ujarnya. “Beri saya lima menit.”
Dia tidak langsung menelepon. Dia berdiri di dekat jendela sambil membayangkan laci kayu di rumahnya, laci terkunci yang berisi belasan amplop tanpa perangko, satu tiap Sabtu sejak hari Kalila memintanya untuk tidak menghubungi. Surat pertama pendek, hanya tiga baris. Surat-surat berikutnya makin panjang tanpa dia rencanakan, dan tidak satu pun yang meminta apa-apa. Dia selalu menutupnya dengan kalimat yang sama: aku menunggu, dan tidak apa-apa kalau jawabannya tidak.
Sekarang jawaban itu belum datang. Hanya sebuah undangan. Dan undangan, dia tahu, jauh lebih berat daripada jawaban.
Dia berjalan ke ujung lorong, ke jendela yang menghadap tempat parkir, lalu menelepon nomor yang tidak pernah dia lewatkan sejak kecil.
“Mah.”
“Julian.” Suara Eyang di seberang tenang, tetapi sudah terjaga, seolah dia menunggu telepon itu seharian. “Sudah?”
“Dia mengirim pesan. Jumat pukul tujuh, di vila.”
Hening yang pendek. Julian mendengar tongkat kayu bersandar pada kursi dan napas Eyang yang pelan.
“Pergilah, Nak,” kata Eyang. “Dan datanglah seperti kebiasaanmu.”
Julian tersenyum, hampir tertawa, meski matanya panas. “Jumat pukul tujuh, Mah. Aku berangkat jam lima.”
“Jam lima, untuk pukul tujuh?”
“Jam setengah enam saja.”
“Itu baru anak Eyang,” kata Eyang, dan sambungan terputus.