Keanu tiba tiga menit lebih awal dan menunggu di dalam taksi.
Dia sudah berlatih menahan diri sejak berminggu-minggu lalu, dan menunggu tiga menit di bawah pohon mangga di ujung jalan setapak ternyata lebih berat dari rapat direksi mana pun. Jam tangannya menunjuk pukul tiga lewat lima puluh tujuh. Pak sopir taksi, yang tidak tahu apa-apa, menawarkan permen jahe dari laci dasbor. Keanu menerimanya dan tidak membukanya.
Hari ini hari terakhir masa iddah Kalila. Hari ini juga hari yang dia tunggu dengan jari-jari yang dingin.
Tepat pukul empat, dia turun. Kemeja putih polos, celana abu-abu, sepatu kulit yang sudah lama tidak disemir. Tanpa jas, tanpa kunci mobil, tanpa map. Dia berjalan menyusuri jalan setapak dengan telapak tangan kosong, dan baru di undakan teras dia sadar betapa asing rasanya datang ke tempat ini tanpa membawa apa pun yang hendak dia ambil.
Kalila sudah berdiri di teras. Kerudung biru muda, rok abu, tangan terlipat di depan. Di meja rotan di belakangnya terhidang teko dan dua cangkir. Pintu rumah di sisi lain terbuka lebar. Dari dalam terdengar bunyi panci diaduk, sengaja tidak pelan.
“Tepat waktu,” kata Kalila.
“Aku datang tiga menit lebih awal. Aku menunggu di taksi.”
Sudut bibir Kalila bergerak sebentar. “Silakan duduk, Keanu.”
Keanu duduk di kursi yang ditunjuk. Kalila menuang teh melati ke kedua cangkir dengan tangan yang mantap, dan menggeser satu ke arahnya tanpa menatap. Tidak ada kopi. Keanu menyesap tehnya. Hangat. Hanya hangat.
“Aku punya tiga pertanyaan,” kata Kalila. “Dua untukmu. Boleh kujalankan dulu?”
“Silakan.”
“Pertanyaan pertama.” Kalila menautkan jari-jarinya di meja. Matanya bertemu mata Keanu dan tidak mengelak. “Kamu datang untuk mengambil, atau untuk mendengar?”
Keanu tidak langsung menjawab. Dia ingin menjawab dengan benar, bukan dengan cepat. Dia menunduk pada cangkirnya.
“Dulu aku selalu datang untuk mengambil,” ujarnya. “Mengambil maaf. Mengambil kata-kata yang membuat aku merasa baik. Mengambil kamu, kalau perlu.” Suaranya serak. “Hari ini aku datang untuk mendengar, Kalila. Apa pun yang kamu ucapkan, aku tidak akan membantah.”
Kalila mengangguk sekali, dan Keanu merasakan sesuatu di dadanya mengendur sedikit, seperti kancing pertama yang akhirnya dilepas.
*
“Sekarang giliranmu,” kata Kalila. “Kamu boleh bertanya satu hal. Kamu minta itu di rumah Mama. Aku berjanji.”
Keanu menarik napas. Pertanyaan itu sudah dia hafal sejak malam dia pingsan di ruang rapat, dan sekarang di ujung lidahnya terasa terlalu besar untuk dikeluarkan.
“Adakah tempat di hidupmu,” katanya pelan, “untukku sebagai suami lagi?”
Hening panjang. Dari dalam rumah, bunyi panci berhenti. Seekor burung bernyanyi di atas atap seng, tidak tahu apa-apa.
“Tidak,” kata Kalila.
Satu kata, tanpa gemetar. Keanu menutup mata. Rasanya seperti ruang yang dia kira kosong ternyata sudah lama kosong. Hanya baru sekarang pintunya ditutup.
“Aku ingin menjelaskan alasannya,” lanjut Kalila. “Bukan supaya kamu merasa lebih baik. Supaya kamu tidak salah mengerti.”
“Katakan.”
“Aku mencintai Keanu yang dulu. Yang pulang malam-malam dan menaruh kepalanya di pundakku di sofa tanpa bicara. Yang waktu aku hamil mengelus perutku sambil berbisik janji-janji.” Dia memutar cangkirnya setengah putaran. “Aku tidak pernah berbohong soal dua tahun pertama itu.”
“Aku tahu,” kata Keanu pelan.
“Tapi yang duduk di depanku hari ini bukan dia.” Kalila menegakkan punggung. “Dan aku juga bukan Kalila yang dulu. Kamarnya masih ada, Keanu. Aku yang tidak mau masuk lagi.”
“Kamu ingat kalimat terakhirmu malam itu, sebelum aku masuk kamar?” tanya Kalila.
“‘Masuk ke kamarmu, jangan membuat keributan.’” Keanu menjawab tanpa berpikir. “Aku mengingatnya setiap hari. Kata demi kata.”
“Aku patuh. Aku masuk, mengunci pintu, dan tidak membuat keributan.” Kalila menunduk ke cangkirnya. “Kamu menyuruh, dan aku menurut. Itu yang membuat kita berdua pantas berhenti. Bukan karena kamu satu-satunya yang salah, tetapi karena aku tidak mau lagi jadi orang yang menurut seperti itu, dan kamu tidak akan bisa jadi orang yang tidak menyuruh dalam semalam.”
“Aku bisa belajar.”
“Aku percaya kamu bisa. Aku hanya tidak mau menjadi tempat kamu belajar.”
Keanu tidak membela diri. Dia hanya mengangguk, kali ini sangat pelan, dan menaruh kedua tangannya di atas lutut seperti anak yang menerima putusan dari guru yang dia hormati.
Keanu membuka mata. Kalimat itu tidak menikam. Itu lebih buruk: itu adil.
“Jawabanku bukan hukuman,” tambah Kalila. “Aku tidak memakainya untuk membalas. Jawabanku tentang aku.”
“Aku mengerti.” Keanu menelan sesuatu yang besar di kerongkongannya. “Aku sudah menduga. Tapi aku harus mendengarnya dari kamu.”
“Sekarang pertanyaan kedua.”
“Silakan.”
“Kalau jawabanku tidak, dan aku sudah mengatakannya, apa yang tetap kamu lakukan besok pagi?”
Keanu tidak segera menjawab. Dia memandang tehnya, memandang tangannya sendiri, memandang jauh ke kebun singkong di balik pagar. Besok pagi. Pertanyaan itu bukan untuk hari ini, melainkan untuk hari-hari yang menunggu setelahnya.
“Aku akan bangun, Kalila,” katanya perlahan. “Aku akan makan sarapan walau tidak terasa apa pun. Aku akan datang ke kantor tepat waktu dan tidak membawa pekerjaan pulang. Sore hari aku akan menelepon Mama jam lima, seperti sekarang. Aku akan belajar menepati yang kecil, satu per satu, sampai aku tahu yang besar-besar itu bukan untuk dijanjikan, tetapi untuk dikerjakan.” Dia menarik napas. “Dan aku tidak akan menghalangi apa pun yang kamu pilih. Aku sudah mengatakannya pada Julian di rumah Mama. Hari ini aku mengatakannya padamu.”
Kalila menatapnya lama. Di mata perempuan itu ada sesuatu yang tidak bisa Keanu namai, bukan iba, bukan benci. Sesuatu yang lebih bersih, mungkin: penghormatan.
“Terima kasih sudah menjawab dengan jujur,” katanya.
“Lidahmu?” Keanu bertanya, nyaris tanpa sengaja. “Maaf, itu bukan pertanyaan yang harus kujawab.”
“Boleh.” Kalila tersenyum samar. “Sebagian kembali. Bertahap. Bukan hadiah dari siapa pun, Keanu. Aku sendiri yang mengambilnya.”
“Aku senang.” Dan dia sungguh-sungguh. Itu yang paling mengejutkannya.
*
Keanu berdiri. Kursinya bergeser di lantai teras, bunyinya terlalu nyaring di sore yang senyap itu.
“Terima kasih sudah menerima aku datang.” Dia merapikan kemejanya. “Aku pergi sekarang. Mama menunggu teleponku jam lima.”
Dia sudah menuruni satu anak tangga ketika tangannya, di luar kehendaknya, masuk ke saku belakang dan mengeluarkan dompet. Kulit cokelatnya sudah lecek di sudut. Dari balik lipatan paling dalam, dia menarik selembar kertas kecil, yang tepinya sudah lembut oleh terlalu sering dilipat dan dibuka.
Kalila memandang kertas itu, dan wajahnya pelan-pelan kehilangan warna.
Selembar foto USG. Seberkas hitam putih dengan bentuk kecil yang melingkar di tengahnya.
“Aku menemukannya di map biru,” kata Keanu. Suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu selipkan di antara catatan-catatanmu. Aku membawanya sejak malam itu.” Dia berbalik menghadap Kalila, kertas itu di kedua tangannya seperti sesuatu yang bisa pecah. “Aku belum pernah mengucapkan selamat tinggal padanya, Kalila. Waktu itu aku justru menyalahkanmu. Bolehkah aku, kali ini, bersamamu?”