Angka di dinding dapur sudah berubah menjadi enam ketika Kalila bangun pukul empat pagi dan, tanpa menyeduh apa pun, mengambil kerudung dari gantungan. Kerudung krem pemberian Mama itu dia pakai sejak pekan lalu setiap kali keluar vila, dan lama-lama bukan lagi soal wartawan, tetapi dia tidak mau menjelaskan alasannya kepada siapa pun.
“Bu mau ke mana?” Asti baru tiba untuk antaran pagi dan berdiri di pintu belakang dengan kantong belanja di kedua tangan.
“Ke makam Ayah dan Ibu. Temani aku, kalau kamu mau.”
“Antarannya?”
“Dua staf bisa membawanya sebelum jam enam. Aku sudah bilang mereka tadi malam.”
Asti menaruh kantong belanja di meja tanpa menawar dan mengambil bunga melati dari mangkuk di dekat jendela, melati yang kemarin dibawa anak-anak panti dan masih segar. Mereka berjalan kaki. Pemakaman itu hanya lima ratus meter dari vila, di balik rumpun bambu dan sebuah kebun singkong, tempat yang bertahun-tahun hanya dia kunjungi sebentar dan selalu terlalu cepat pulang.
Embun masih menempel di rumput. Pintu pagar besi pemakaman berderit ketika Kalila mendorongnya, dan suara itu mengagetkan seekor burung kecil yang terbang dari nisan terdekat. Dua nisan sederhana berdiri berdampingan di sudut paling teduh, di bawah pohon kamboja yang cabangnya menjuntai rendah. Kalila berlutut di antara keduanya, menarik napas panjang, lalu mulai mencabuti rumput liar dengan tangan.
“Saya yang bawa air, Bu.”
“Terima kasih.”
Asti menyiram kedua pusara itu pelan-pelan dari botol, sementara Kalila meletakkan melati di atas tanah yang masih basah. Hening. Hanya terdengar suara daun bambu saling bergesek di kejauhan.
“Aku jarang ke sini,” kata Kalila. “Aku selalu bilang tidak sempat. Padahal waktu itu ada saja.”
“Ibu tidak harus menjelaskan.”
“Aku bicara kepada mereka, Asti, bukan kepadamu.” Kalila tersenyum samar. “Tapi boleh kamu dengar.”
Dia menunduk dan menatap nisan di sebelah kiri. Suaranya turun menjadi hampir bisikan.
“Ayah, Ibu. Aku sudah bercerai. Maaf tidak datang waktu itu. Aku tidak sanggup membawa kabar itu ke sini.” Tangannya mengusap pasir halus di tepi nisan. “Aku sudah punya rasa lagi. Asam, manis, pahit. Sebentar lagi mungkin garam. Ibu pasti suka tahu kalau lidahku kembali.”
Angin menggoyang cabang kamboja. Satu bunga putih jatuh ke pangkuannya.
“Ada satu hal lagi yang belum pernah aku ceritakan kepada kalian,” bisiknya. “Ada cucu yang tidak sempat datang. Aku sendirian waktu itu, Bu, meski banyak orang di sekitarku. Aku tidak berani menyebut namanya, karena aku belum sempat memberinya nama.” Suaranya patah di kata terakhir, dan dia menunggu sampai patahan itu mereda. “Sekarang aku bisa menyebutnya. Aku hanya belum tahu bagaimana mengucapkan selamat tinggal.”
Asti, yang berdiri agak jauh sambil memegang botol air, mengalihkan pandangan ke arah bambu supaya Kalila tidak merasa ditonton.
“Dan ada seseorang,” lanjut Kalila. Dia berhenti. Sepuluh detik dia hanya mendengar napasnya sendiri. “Seseorang yang selama ini tidak meminta apa-apa. Aku takut, Bu. Aku takut aku hanya lari ke arahnya karena aku lari dari yang lain. Takut aku tidak memilih, aku cuma pergi.”
Kata-kata itu keluar tanpa persiapan, mentah, dan sesudah terucap, dadanya terasa seperti ruangan yang akhirnya dibuka jendelanya. Dia belum pernah mengatakan itu kepada siapa pun. Waktu Eyang menamai ketakutan itu di bawah pohon sawo, dia hanya diam dan merobek daun. Sekarang, di depan dua nisan yang tidak bisa menjawab, dia mengatakannya dengan suaranya sendiri.
Asti meletakkan botol air. Dia berlutut di sisi Kalila, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
“Bu,” katanya hati-hati. “Boleh saya bertanya? Bukan sebagai staf.”
“Tanya saja.”
“Ibu sebenarnya mau apa?”
Kalila tidak menjawab seketika. Dia memandang tangannya yang kotor oleh tanah, lalu menyeka tanah itu pada rok.
“Aku bisa menjawab dengan cara yang gampang, Asti. Bilang saja karena dia menolongku. Waktu aku pingsan di studio, dia yang merawatku. Waktu aku tidak punya tempat, dia yang menawarkan. Semua orang akan mengerti alasan itu.” Dia menggeleng pelan. “Tapi itu bukan alasanku. Kalau alasanku cuma itu, Eyang benar. Aku sedang berutang budi, bukan memilih.”
“Jadi alasan Ibu apa?”
“Karena waktu aku hambar, diam, dan sama sekali tidak berguna, dia tidak pernah menuntutku merasakan apa pun.” Suaranya tidak naik. “Tidak menuntut aku sembuh dengan cepat. Tidak menyuruhku berterima kasih. Tidak menyuruhku memilih dia supaya impas. Dia duduk satu meter dari aku, menaruh cup teh di tengah bangku, lalu menunggu. Dan rasa itu kembali bukan karena dia menarik keluarnya. Rasa itu kembali karena aku mulai tenang. Aku, Asti. Dia hanya tidak mengganggu prosesnya.”
“Itu alasan yang bagus, Bu.”
“Itu alasan yang jujur. Aku tidak tahu apakah itu cukup bagus.”
Mereka berdua diam. Seekor kupu-kupu kuning hinggap sebentar di atas melati lalu terbang lagi.
“Aku sudah memutuskan,” kata Kalila pelan. “Diam-diam, sejak dari teh sore di rumah Eyang, mungkin lebih awal dari itu. Aku tidak mengatakannya karena kalau aku bilang sebelum waktunya, kalian semua akan berusaha ikut menjawab untukku. Aku tidak mau jawabanku keluar dari mulut orang lain. Bahkan dari mulutmu, Asti.”
“Saya tidak akan bilang, Bu.”
“Aku tahu. Tapi aku ingin kamu yang pertama tahu.” Kalila menoleh. “Aku akan memilih dia. Dokter Julian.”
Asti tidak bergerak. Matanya berkaca-kaca, namun dia hanya mengangguk sekali dan menelan ludah.
“Syaratnya,” lanjut Kalila, “aku mengucapkannya sendiri, dengan mulutku, setelah hari terakhir iddah. Bukan sebelum. Bukan lewat kartu, bukan lewat Eyang, bukan lewat siapa pun.”
*
Mereka berjalan pulang pelan-pelan, melewati kebun singkong yang daunnya berkilau oleh embun. Matahari baru menyembul di balik atap-atap rumah warga.
“Lalu bagaimana, Bu?” tanya Asti. “Hari Senin itu?”
“Senin sore untuk Keanu. Di teras vila, kamu di dalam rumah. Kamu tidak perlu mendengar, tapi pintu tetap terbuka.” Kalila menghitung dengan jari. “Aku sudah punya tiga pertanyaan, dua untuknya. Aku ingin dia menjawab dengan jujur, dan aku ingin menjawabnya dengan jujur juga.”
“Dan hari yang satu lagi?”
“Jumat malam. Pukul tujuh.” Kalila berhenti di ujung jalan setapak. “Untuk satu orang. Kamu siapkan dua hari itu. Dapur, bahan, teras. Tidak boleh ada yang bocor ke Mama atau Bu Pengurus.”
“Satu orang itu sudah tahu, Bu?”
“Belum. Aku menulis pesannya sesudah Senin.”
Asti menarik napas panjang, menahan sesuatu yang hampir menjadi tawa, hampir menjadi tangis.
“Bu, Mbok Darmi bilang Pak Keanu menelepon Mama tiap sore sejak minggu lalu. Jam lima tepat. Katanya cuma menanyakan Mama sudah makan atau belum.”
“Mama juga bilang begitu.”
“Itu kelihatannya kecil, Bu.”
“Memang kecil.” Kalila melangkah lagi. “Tapi berminggu-minggu dia tidak telat satu hari pun. Yang kecil itu yang membuatku mau membuka pintu untuknya Senin nanti, Asti. Bukan untuk kembali. Hanya supaya dia boleh bertanya dan aku boleh menjawab.”
“Kalau Pak Keanu menangis di teras, Bu?”
Kalila memandang jauh ke arah vila, ke atap seng yang dipanasi cahaya pagi.
“Maka aku membiarkan dia menangis,” katanya. “Tapi jawabannya tetap tidak. Itu bukan kejam, Asti. Itu jujur.”