“Lebih awal.”
Kalila mengucapkannya sekali lagi dengan suara sangat pelan, sambil menyeka meja stainless yang sudah bersih. Resepsi di kebun panti sudah lama dibongkar, tetapi kalimat bocah berhidung beringus itu masih berdiam di kepalanya seperti lagu yang tidak mau selesai.
“Apa, Bu?” Asti berhenti di ambang pintu dapur dengan tas di bahu dan wajah kuyu. Pesanan harian terakhir baru selesai dibungkus pukul sebelas malam.
“Bukan apa-apa. Pulanglah.”
“Ibu tidur, ya. Besok antaran pertama jam enam.”
“Iya.”
“Jangan iya-iya saja, Bu. Janji.”
“Janji.” Kalila tersenyum. “Aku hanya membereskan meja ini dulu.”
Asti tidak beranjak. Dia memainkan tali tasnya, tanda ada yang ingin dia katakan tetapi belum menemukan pintunya.
“Bu, tadi sore pesanan baru masuk. Ibu butik yang dulu menarik diri, yang pas gosip itu. Lima puluh porsi untuk arisan.”
“Ibu butik itu?” Kalila mengangkat alis. “Dia sendiri yang pesan?”
“Dia bilang malu, Bu. Tapi ibu itu ke resepsi anak panti waktu itu, makan dua piring rendang, lalu telepon saya paginya.”
“Terima kasih sudah mencatat. Harga biasa.”
“Kalau mau, saya naikkan seribu per porsi, Bu. Sebagai denda malunya.”
“Asti.”
“Bercanda, Bu.” Asti nyengir, lalu senyum itu memudar. “Satu lagi. Ibu masih belum cerita Ibu mau jawab apa kepada Pak Keanu. Atau yang satu lagi.”
“Karena aku belum menuliskannya.”
“Menulis apa, Bu?”
“Pertanyaannya dulu.” Kalila melipat lap menjadi persegi kecil. “Jawaban baru datang kalau pertanyaannya jelas. Pulanglah.”
Asti memandangnya sepersekian detik terlalu lama, kemudian pergi. Suara motornya menjauh di jalan setapak sampai senyap, dan vila itu kembali menjadi rumah yang besar untuk satu orang. Jam dinding di sudut tetap menunjuk pukul empat lewat dua puluh, berhenti entah sejak kapan. Foto Ayah dan Ibu tertawa di atas kompor.
Kalila membuka lemari bawah dan mengeluarkan toples kaca berisi biji kopi arabika. Biji itu dia beli dua minggu lalu di toko kecil dekat pasar, sengaja, tanpa alasan yang berani dia sebut. Selama ini toples itu hanya ditatap, seperti benda yang belum boleh disentuh.
Dia menggiling segenggam. Aroma gelap dan hangat naik dari penggiling, dan hidungnya membaca semuanya dengan jelas: cokelat pahit, kayu, sedikit asap, sedikit buah kering. Hidungnya tidak pernah kehilangan itu. Yang hilang selalu mulutnya.
Dia menaruh termometer ke dalam ketel. Delapan puluh lima derajat. Angka itu sudah menempel di tangannya bahkan sebelum dia menyadarinya, dari tiga tahun yang dilewatkan pada pukul lima pagi menyeduh untuk seseorang yang tidak pernah sekali pun berkata bahwa kopinya enak. Malam ini, tidak ada yang akan membaca laporan suhu itu. Malam ini kopi itu miliknya.
Air mengucur pelan ke atas ampas. Uap naik. Dapur dipenuhi bau yang dulu membuat dadanya mengencang dan kini hanya membuatnya berdiri diam, menatap tetesan jatuh ke dalam cangkir putih.
Dia mengangkat cangkir itu dengan kedua tangan, meniupnya sekali, dan menyesap.
Pahit.
Bukan getir yang menusuk. Bukan pahit yang menampar. Pahit itu masuk dari ujung lidah, merambat ke pangkal, dan menetap di sana. Ada sedikit rasa cokelat di baliknya, ada hangat yang bulat, dan sesudah itu, sesuatu yang tidak dia duga: tidak ada rasa sakit.
Selama ini dia mengira, kalau suatu hari pahit kembali, dia akan menangis. Ternyata tidak. Dia hanya berdiri di dapur kecil itu dengan cangkir di tangan, dan membiarkan pahit itu mengisi mulutnya penuh-penuh.
*
Teleponnya berdering di sisi lain jaringan sebanyak empat kali sebelum diangkat.
“Bu?” Suara Asti serak, setengah tertidur. “Bu Kalila? Ada apa? Ibu sakit? Saya ke sana sekarang.”
“Jangan ke sini.” Kalila berdiri di dekat jendela dengan cangkir masih di tangan. Jam di ponselnya menunjuk pukul dua belas lewat sepuluh. “Asti, dengar dulu.”
“Saya dengar, Bu.”
“Aku bisa merasakannya.”
Hening di seberang. Lalu terdengar derit ranjang dan napas yang cepat.
“Apa, Bu?”
“Pahit. Kopi. Aku menyeduhnya sendiri, delapan puluh lima derajat. Rasanya pahit, Asti, dan... tidak sakit.” Kalila tertawa kecil, tawa yang sedikit retak di tengahnya. “Ini rasa keempat.”
“Ya Allah, Bu.” Asti tidak lagi berbisik. Suaranya pecah. “Saya... sebentar. Saya menangis dulu.”
“Menangislah. Aku tunggu.”
Mereka berdua diam. Di telepon terdengar bunyi hidung dibersihkan dengan kain, dan di dapur itu angin malam menggoyang tirai kuning. Kalila menyesap lagi, kali ini pelan, ingin memastikan rasa itu tidak hanya sekali datang lalu pergi.
“Lalu garamnya, Bu?” tanya Asti akhirnya, dengan suara yang sudah terkendali.
“Belum. Gurih juga belum.”
“Pelan-pelan saja, Bu.”
“Ibu sudah punya jawaban untuk hari itu?” tanya Asti hati-hati. “Maaf, Bu, saya nanya lagi.”
“Aku punya dugaan. Dugaan belum jawaban. Jawaban harus keluar dari mulutku hari itu, bukan malam ini.” Kalila memejamkan mata. “Tapi aku tidak ragu lagi pada satu hal, Asti. Aku tidak akan memilih karena kasihan.”
“Eyang yang minta itu, kan?”
“Eyang yang minta. Dan aku yang berjanji.”
“Kalau begitu cukup, Bu.” Suara Asti hangat. “Sekarang Ibu tidur.”
“Maaf aku menelepon tengah malam.”
“Ibu boleh telepon saya jam berapa pun untuk kabar begini,” kata Asti tegas. “Jam berapa pun.”
Kalila menutup telepon dan memandang layar yang gelap itu cukup lama. Dua belas hari lagi. Dia hanya perlu bertahan dua belas hari lagi menuju hari yang telah dia hitung dari dinding dapur.
*
Dia membersihkan cangkir, mematikan lampu kecil di atas kompor, lalu mengambil selembar kertas dari laci. Kertas polos, pulpen hitam bergaris perak yang Eyang kembalikan lewat sopirnya. Dia duduk di meja dapur dan menulis dengan hati-hati, satu huruf demi satu, sebab tangannya masih ingin gemetar.
Pertanyaan pertama untuk Keanu. Dia menulisnya tanpa ragu.
Kamu datang untuk mengambil atau mendengar?
Kalila menatap kalimat itu. Kalimat itu pendek, tetapi seluruh tiga tahun terkumpul di dalamnya: kopi, bekal, kamar utama, kamar pelayan, kata-kata “jangan membuat keributan.” Selama ini Keanu selalu datang untuk mengambil. Mengambil perhatian, mengambil maaf, mengambil kebenaran yang nyaman. Jawaban kali ini harus datang dari lidahnya sendiri.
Pertanyaan kedua. Pulpen berhenti sejenak di atas kertas, kemudian bergerak lagi.
Kalau jawabanku tidak, apa yang tetap kamu lakukan besok pagi?
Dia tidak sedang ingin menyakitinya. Dia ingin tahu apakah janji-janji kecil itu sungguh bertahan ketika tidak ada yang menontonnya.
Pertanyaan ketiga lebih lama. Dia mengetuk kertas dengan ujung pulpen berkali-kali. Lalu dia menulis:
Kalau aku minta kamu menunggu lagi, itu masih janji atau tinggal kebiasaan?
Dia membaca ketiganya dari atas ke bawah. Dua untuk laki-laki yang pernah dia nikahi. Satu untuk laki-laki yang tidak pernah meminta apa pun. Tidak ada yang berisi jawaban. Hanya pertanyaan, dan Kalila merasa hidupnya, kali ini, benar-benar miliknya sendiri, karena orang yang bertanya adalah dia.
Dia menempelkan kertas itu di dinding dapur, di sebelah foto Ayah dan Ibu, di bawah tulisan lama yang sudah memudar: Senin. Hari ke-90. Lalu dia mengambil pulpen dan menambahkan angka di bawahnya, besar-besar, supaya terbaca dari ambang pintu.
Dua belas hari lagi.
Dari foto, Ibu tertawa padanya, dan Kalila memandang balik lebih lama dari biasanya, tanpa memalingkan mata.