Jaket itu sudah dicuci tiga kali, disetrika, dilipat empat, dan dimasukkan ke dalam kantong kertas cokelat. Kalila menggantung kantong itu di paku dekat pintu dapur belakang tenda sejak pukul lima pagi, dan sepanjang pagi dia berusaha tidak menoleh ke sana.
Sejak Mama pulang membawa rantang rendang, panti sibuk, dan hari ini kebun panti berubah menjadi tempat pesta. Tenda putih dipasang di bawah pohon mangga. Meja-meja panjang dibungkus kain krem. Di ujung kebun, di bawah rimbun bunga kertas, sepasang pengantin yang tadi pagi mengucapkan akad di aula sudah duduk di pelaminan kecil, dikelilingi anak-anak yang berebut ingin berfoto.
“Rendang tahap dua keluar, Bu!” seru salah satu staf dari belakang.
“Cicip dulu, Asti.”
Asti mencicip dari ujung sendok, mengangguk, dan mengacungkan jempol. Kalila mengambil nampan sendiri dan membawanya ke meja prasmanan. Seratus dua puluh orang sudah hadir, dan jumlahnya masih bertambah. Para pengasuh bolak-balik membawa piring. Bu Pengurus memakai kebaya hijau dan tersenyum sepanjang pagi seolah wajahnya lupa cara berhenti.
Di barisan kursi paling belakang, Mama duduk dengan tas di pangkuan, mengenakan kerudung abu-abu yang sangat sederhana. Dia hanya melambaikan dua jari ketika Kalila lewat. Kalila membalas dengan anggukan, dan dadanya menghangat sebelum sempat dicegah.
Pukul sebelas, mobil jip hitam berhenti di gerbang panti.
Kalila tidak melihatnya. Dia sedang mengatur hidangan penutup, menyusun kue madu di atas piring-piring kecil, satu demi satu. Yang melihat adalah bocah berhidung beringus, yang tiba-tiba menjatuhkan jeruk di tangannya dan berteriak sekeras-kerasnya.
“OM DOKTER!”
*
Julian sebenarnya sudah mengatur segalanya. Dia datang sebagai tamu yayasan, mengenakan batik biru tua, duduk di meja donatur paling pinggir, dan berniat tinggal sebentar saja. Bu Pengurus sendiri yang mengundangnya dengan alasan yang sulit ditolak: tanpa donasi atap seng itu, dapur terbuka panti sudah bocor sejak musim hujan lalu.
Dia tidak menyangka akan disambut tubrukan seorang anak yang langsung melingkarkan lengan ke kakinya.
“Om Dokter datang lebih awal lagi!”
“Om datang tepat waktu,” kata Julian, berjongkok dan merapikan kerah baju anak itu. “Yang lain datang telat.”
“Kak Kalila di sana. Lagi pakai celemek.”
“Om lihat.”
Dia memang sudah melihat. Dari balik bahu anak itu, di bawah tenda, Kalila berdiri membelakanginya, menata sesuatu di atas meja dengan gerak yang dia kenal tapi sudah lama tak dia saksikan: tangan yang tahu persis ke mana harus bergerak. Rambutnya sebahu, diikat rendah. Pipinya lebih penuh daripada terakhir kali, dan bahunya tidak lagi terangkat seperti orang yang menahan beban.
Hampir empat bulan. Dia menghitungnya sejak dia melangkah turun dari mobil, tanpa sengaja, seperti menghitung langkah di tangga.
Dia tidak mendekat. Dia duduk, menerima segelas teh dari seorang pengasuh, dan membiarkan acara berjalan. Seratus orang lebih memenuhi kebun. Ketua dewan yayasan berbatik cokelat menyalaminya dan mengucapkan terima kasih atas donasi atap, dan Julian menjawab seperlunya. Matanya hanya sesekali bergeser ke arah tenda.
Sampai Kalila yang datang.
Dia datang bukan dengan tergesa. Dia melepas celemek, menaruhnya di sandaran kursi kosong, dan berjalan melintasi karpet rumput dengan sebuah kantong kertas di tangan. Tidak ada yang berdua. Meja donatur dikelilingi lima orang yayasan, dua pengasuh, dan Bu Pengurus yang pura-pura sibuk dengan serbet. Jarak satu meter. Kalila berhenti tepat di satu meter itu, seolah dia telah mengukurnya sebelum berangkat.
“Dok.”
“Kalila.” Julian berdiri. Suaranya lebih tenang dari yang dia kira. “Selamat atas pestanya. Rendangnya wangi sampai gerbang.”
“Terima kasih.” Kalila menaruh kantong kertas itu di tepi meja, di tengah antara mereka, seperti yang dulu Julian lakukan dengan cup teh di bangku taman. “Jaketmu. Sudah dicuci.”
Julian memandang kantong itu. Seluruh yang ingin dia katakan menumpuk di tenggorokan dan dia memilih yang paling kecil.
“Terima kasih sudah menyimpannya.”
“Aku sudah tidak membutuhkannya.”
Hening. Seorang anak tertawa jauh di ujung kebun. Julian menatap Kalila, bukan kantong itu, dan melihat sesuatu yang tidak dia lihat di bangku taman malam itu: perempuan di depannya tidak sedang mencari pegangan.
“Itu kabar baik,” katanya pelan.
“Iya.”
“Kue madunya sampai.” Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Tanpa nama, tanpa tulisan. Aku makan sepotong sambil berdiri di lorong rumah sakit, dan perawatku bertanya kenapa aku tersenyum seperti orang bodoh. Manis sekali, Kalila.”
Ujung bibir Kalila bergerak. “Madunya empat ratus gram.”
“Aku tidak tahu itu angkanya. Aku cuma tahu rasanya.”
“Aku belum bisa menjawab apa pun,” kata Kalila, terang dan tanpa gemetar. “Aku ingin kamu tahu itu.”
“Aku tidak bertanya.”
Kalimat itu keluar dari mulut Julian begitu cepat dan begitu pasti, sampai Kalila menatapnya sekejap, dan sekejap itu terasa lebih lama dari seluruh percakapan mereka. Di belakang Julian, Bu Pengurus berhenti melipat serbet. Seorang pengasuh pura-pura memandang awan.
“Kalau begitu,” Kalila mengangguk kecil, “selamat menikmati rendangnya, Dok.”
“Terima kasih, Kalila.”
Dia berbalik. Julian memperhatikan punggungnya sampai kembali ke tenda, dan baru ketika Kalila hilang di antara tamu, dia sadar tangannya mengepal di sisi tubuhnya, bukan karena marah, tetapi karena menahan diri untuk tidak melangkah satu kali pun.
*
Di dapur belakang tenda, Asti menyodorkan segelas air tanpa bertanya, dan Kalila meminumnya sampai habis.
“Tangan Ibu gemetar.”
“Itu karena nampan rendang tadi berat.”
“Nampan rendang tadi saya yang bawa, Bu.”
Kalila mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti tawa setengah jadi. Dia bersandar di tiang tenda dan menutup mata sejenak. Tidak ada yang runtuh. Kakinya masih berdiri, kata-katanya tidak patah, dan dia masih bisa menimbang apakah kue madu di meja penutup perlu ditambah dua belas potong lagi. Itu saja sudah merupakan jawaban atas satu pertanyaan yang diam-diam dia ajukan pada dirinya sendiri sejak pagi.
“Mama dengar,” kata sebuah suara di belakangnya.
Kalila membuka mata. Mama berdiri di mulut tenda dengan tas di lengan, dan wajahnya sangat tenang.
“Mama dengar kamu bilang belum bisa menjawab. Dan dia bilang tidak bertanya.” Mama menggeleng kecil. “Itu dua kalimat paling sopan yang pernah Mama dengar dari dua orang yang saling menghormati. Mama tidak akan menyimpulkan apa pun.”
“Terima kasih, Ma.”
“Tapi Mama boleh minta kue madu yang kedua?”
Kalila tertawa, benar-benar tertawa, dan mengambil sepotong dari piring terdekat. Dia sendiri menggigit ujungnya. Manis, bulat, hangat, dan tetap manis. Itu tidak lari.
*
Julian pergi sebelum hidangan penutup dibagikan. Dia menyalami pengantin, mengucapkan selamat kepada Bu Pengurus, menitipkan sampul kecil untuk dapur panti, dan membawa kantong kertas itu ke mobil tanpa membukanya. Dia memberi alasan sedang jaga malam. Itu benar, tetapi bukan alasan sebenarnya. Orang-orang bergunjing lebih cepat daripada kue habis, dan dia tidak ingin satu pun mata menyimpulkan apa pun dari kebun ini.
Di gerbang, bocah berhidung beringus menarik ujung batiknya.
“Om Dokter, sudah mau pulang? Belum makan kue madu!”
“Om sudah makan kuenya beberapa minggu lalu, di rumah sakit.”
“Kok bisa?”
“Ada yang mengirimkan.” Julian mengusap rambut anak itu. “Rahasia, ya. Om pasti datang lagi nanti, dan Om datang lebih awal.”
Dari jauh Kalila melihat jip hitam itu menjauh, dan Mama, yang sudah berdiri di sebelahnya tanpa dia sadari, tidak berkata apa-apa. Beberapa menit kemudian bocah berhidung beringus berlari menghampiri mereka dengan napas tersengal.
“Kak! Tadi Om Dokter bilang sesuatu!”
“Bilang apa?”
“Katanya nanti dia datang lagi. Lebih awal.”