Mama datang membawa rantang kosong.
Kalila melihatnya dari jendela dapur kecil: sebuah mobil berhenti di ujung jalan setapak, dan perempuan bersanggul rendah itu turun sendirian, menjinjing rantang susun tiga yang jelas ringan karena ayunannya. Biasanya Mama membawa rantang berisi lauk. Hari ini rantang itu dibawa seperti membawa tas kosong ke pasar: siap diisi.
“Ma.” Kalila membuka pintu. “Hati-hati, undakannya licin.”
“Kamu yang menyuruh Mama datang, jadi jangan menyalahkan undakan.” Mama melepas sandal di teras dan menyerahkan rantang itu padanya. “Mama kosongkan sengaja. Mama tidak mau tamu yang membawa makanan ke dapur koki. Itu tidak sopan.”
“Mama bukan tamu.”
“Ya, tapi untuk hari ini Mama jadi murid.”
Mama memasuki dapur itu dengan langkah pelan, seperti tamu di rumah orang yang dihormati. Matanya menyapu panci-panci, rak bumbu, timbangan, foto kedua orang tua Kalila di dinding. Dia berhenti sebentar di depan foto itu, lalu mengangguk, seolah menyapa mereka. Asti dan dua staf yang sedang menumbuk bumbu segera berdiri dan menunduk.
“Lanjut, lanjut,” kata Mama. “Mama ke sini untuk lidah.”
Kalila sudah menelepon Mama kemarin pagi, dengan kalimat yang dia latih tiga kali di depan cermin kamar mandi. Aku butuh lidah kedua, Ma. Asti satu, tetapi seratus lima puluh porsi terlalu banyak untuk satu lidah. Mama selalu tahu garam masakan Mama sendiri tanpa menimbang. Maukah Mama membantuku mencicip? Di seberang sana, Mama diam begitu lama sampai Kalila mengira sambungan terputus. Lalu Mama bilang, pelan sekali, “Mama datang.”
Kini Mama sudah mengikat celemek kain di pinggang. Asti menyodorkan sendok kecil dan mangkuk berisi rendang uji, tiga kilo daging yang sudah dimasak tiga jam, kuahnya hitam pekat dan mengilap.
Mama mencicip. Dia memejamkan mata, mengunyah, menelan. “Kurang,” katanya. “Garamnya. Sejengkal.”
“Sejengkal itu berapa, Ma?”
“Setengah sendok teh untuk panci sebesar ini. Dan cabainya terlalu berani untuk pengantin baru. Tamu-tamunya ada yang sudah tua.”
Asti mencatat di buku kecil. Kalila memperhatikan lidah Mama seperti memperhatikan guru. Dia tahu lidahnya sendiri akan kembali, sedikit demi sedikit, tetapi hari ini lidah yang paling dia percaya duduk di mulut perempuan yang dulu menyebut namanya di akad dengan mata berkaca-kaca, lalu hampir ikut kehilangannya.
Ayam bumbu kuning datang berikutnya. Mama mencicip kuahnya, mengernyit, lalu menyuruh Asti menambah kunyit setengah ruas. Sayur nangka dia cicip dengan wajah tenang sebelum berkata, “Ini enak. Jangan diubah apa pun.” Asti mencatat dengan serius, dan salah satu staf berbisik kepada temannya bahwa belum pernah dia melihat Bu Kalila dipuji tanpa membalas dengan angka.
“Keanu makan?” tanya Kalila tiba-tiba, sambil menimbang daun salam. Dia sendiri terkejut mendengar pertanyaannya.
Sendok di tangan Mama berhenti setengah detik. “Makan, Nak. Pelan-pelan. Mbok Darmi yang mengawasi.”
“Syukurlah.”
“Kamu tidak perlu bertanya kalau tidak mau.”
“Saya hanya ingin tahu dia makan,” kata Kalila. “Itu saja.”
Mereka bekerja berdampingan sampai tengah hari. Mama mengaduk, Kalila menimbang, dan jarak yang selama ini membentang di antara menantu dan mertua pelan-pelan menyempit tanpa ada yang menyebutnya.
*
Menjelang siang, ketika Asti dan kedua staf pergi mengantar pesanan harian, dapur itu tinggal berdua. Mama mengelap tangannya pada celemek dan duduk di bangku kayu di sudut.
“Kalila.”
“Ya, Ma.”
“Mama datang bukan hanya karena lidah, Nak.”
Kalila menaruh sendok dan menunggu.
“Mama selesai menolak.” Mama menatap lantai, lalu mengangkat mata. “Kamu tidak pernah meminta Mama menekan Keanu. Malam Mama berdiri di pintu apartemen itu, kamu bisa saja meminta Mama menekan Keanu. Kamu tidak. Kamu juga tidak pernah menjelek-jelekkan Keanu di depan Mama, padahal kamu bisa. Kamu menceritakan lidahmu tanpa meminta iba. Mama tidak punya hak menolak apa yang kamu putuskan, Nak. Itu hakmu.”
“Ma, saya belum memutuskan apa pun.”
“Mama tahu. Tetapi kalau kamu memutuskan, Mama tidak mau jadi tembok.” Mama menarik napas pendek. “Dulu Mama juga hampir tidak diterima. Keluarga mendiang suami Mama dulu menganggap Mama anak penjual kain di pasar, tidak pantas duduk di meja mereka. Mama sampai takut masuk rumah itu.”
Kalila mendengarkan. Mama jarang bercerita tentang dirinya.
“Yang berdiri di sebelah Mama waktu akad, yang memegang tangan Mama di depan semua orang dan bilang ‘dia anakku’, itu Eyang.” Mama tersenyum sedikit, getir dan hangat sekaligus. “Mama tidak mungkin lupa. Karena itu, kalau sekarang Mama yang menolak orang yang dipilih seseorang dengan mata terbuka, rasanya seperti menghina Eyang. Dan menghina Mama yang dulu.”
“Ini beda, Ma. Julian paman Keanu.”
“Beda, ya. Itu sebabnya Mama menangis dua bulan.” Mama menyeka sudut mata dengan lipatan celemek. “Orang akan bicara. Mama sudah siap. Mama hanya meminta satu hal.”
“Apa, Ma?”
“Jangan jadikan Keanu musuh.”
Kalila tidak langsung menjawab. Di luar, seekor ayam jantan berkokok sumbang dan seseorang tertawa jauh. Dia memandang kedua tangannya sendiri, tangan yang tiga tahun menyeduh kopi pada delapan puluh lima derajat.
“Dia bukan musuh, Ma,” katanya. “Dia orang yang dulu saya cintai.”
Mata Mama membulat, lalu dia menutup mulut dengan telapak tangan. Bahunya naik turun, tetapi tidak ada suara. Kalila menyeberang, berlutut di depan bangku, dan memegang tangan perempuan itu.
“Ma, ada satu hal yang belum saya kabari.”
“Apa, Nak?”
“Lidah saya sudah dua. Asam, lalu manis.” Kalila tersenyum, dan senyumnya gemetar. “Saya menunda mengatakannya karena saya takut kalau cuma disebut, dia pergi lagi.”
Mama menatapnya lama. Bibirnya bergerak seakan ada kalimat yang sudah di ujung lidah, kalimat besar yang dia tahan sekuat tenaga, lalu ditelannya kembali. Kalila melihat itu, dan tidak bertanya.
“Mama bahagia sekali,” bisik Mama akhirnya. “Terima kasih sudah memberi tahu Mama.”
“Mama tadi hampir mengatakan sesuatu.”
“Tidak. Cuma batuk.” Mama berdiri, merapikan celemeknya, dan cepat-cepat mencari mangkuk rendang lagi. “Ayo, kita selesaikan panci ini sebelum kuahnya terlalu kental.”
*
Menjelang sore, Mama berdiri di pintu dapur dengan rantang yang sudah terisi rendang percobaan untuk dibawa pulang. Dia sudah mengenakan kerudung kembali, lalu meletakkan selembar kerudung krem berlipat rapi di meja, tanpa kata, untuk Kalila pakai kalau wartawan masih berjaga di ujung jalan.
“Mama akan datang ke resepsi anak panti itu,” katanya. “Kamu yang memimpin, kan?”
“Iya, Ma.”
“Mama duduk di barisan paling belakang. Mama hanya mau lihat.”
“Mama boleh duduk di mana saja.”
“Orang-orang yayasan juga datang, kan? Yang membiayai sekolah anak itu.” Mama berkata hati-hati, tanpa menatap. “Dan donatur lama panti.”
“Iya, Ma. Saya tahu.”
“Berarti kamu juga tahu siapa saja yang mungkin ada di sana.”
“Saya tahu.” Kalila tidak menghindar. “Kalau bertemu, di depan semua orang, dengan jarak satu meter dan sepuluh orang di sekitar kami. Itu aturan saya, Ma. Bukan aturan pengacara.”
Mama mengangguk lambat, dan matanya kembali basah, tetapi kali ini dia tersenyum.
Mata Mama jatuh pada sesuatu di belakang Kalila: sebuah jaket pria berwarna arang yang tersampir di punggung kursi dekat jendela, sudah berbulan-bulan di sana dan tidak lagi berbau apa pun selain bau lemari.
“Itu bukan jaket Keanu.”
“Bukan, Ma.” Kalila menoleh ke arah jaket itu, dan tangannya meraihnya pelan-pelan. “Titipan. Sudah waktunya dikembalikan.”