Kamar tamu itu masih menyimpan bau bedak dan kain lembap, dan Keanu duduk di tepi ranjangnya selama hampir satu jam sebelum berani menyentuh apa pun.
Delapan hari lalu dia pulang dari rumah Mama ke rumahnya sendiri. Tubuhnya sudah mau menerima nasi dua kali sehari, dua lubang ikat pinggangnya sudah kembali terisi, dan Mbok Darmi tidak lagi menaruh tangan di bawah sikunya setiap kali dia menuruni tangga. Tetapi kamar di ujung koridor lantai bawah ini belum disentuh siapa pun sejak Dania pergi. Seprainya masih kusut di sisi kiri, tempat orang pernah tidur sambil menunggu seseorang mengetuk.
“Mas, truknya sudah di depan,” kata Mbok Darmi dari ambang pintu.
“Suruh masuk, Mbok.”
Dua petugas pindahan menggotong lemari pakaian lebih dulu. Supri membantu dengan tangan kosong, sebab Keanu melarangnya mengangkat yang berat. Meja rias, ranjang, kursi baca, karpet bulu: satu per satu keluar dari pintu, dan kamar itu menjadi lebih luas dari yang pernah dia ingat. Kosong. Hanya sebuah kardigan abu yang ketinggalan di gantungan belakang pintu.
“Itu punya Non Dania,” ujar Mbok. “Mau dikirim ke rumah Ibu Tanto?”
“Kirim, Mbok. Dengan hormat.”
Mbok Darmi melipat kardigan itu sambil bicara pelan, tanpa menatapnya. “Malam itu, Mas, waktu Mas membawa Non Dania pulang jam dua pagi, Mbak Kalila turun dengan piyama biru. Mbok lihat dari dapur. Dia berdiri di tangga paling bawah, tidak bilang apa-apa, lalu naik lagi.”
“Saya tidak melihat.”
“Mas sedang memegang pundak Non Dania.” Mbok memasukkan kardigan ke dalam kantong kain. “Mbok bukan menyalahkan. Mbok cuma ingin Mas tahu ada yang berdiri di situ.”
Keanu mengangguk, dan itu satu-satunya jawaban yang sanggup dia berikan.
Ponselnya bergetar di saku. Pesan dari pemasok daging langganan perusahaannya, orang yang enam hari lalu dia titipi satu pesan pendek: Pak, potongan harganya ditolak Bu Kalila. Dibayar lunas harga biasa. Beliau bilang terlambat, tetapi terima kasih sudah jujur. Maaf, Pak.
Keanu membaca dua kali. Rahangnya mengeras, bukan karena marah. Dia memang ingin Kalila menerima, dan dia sudah tahu Kalila akan menolak, dan keduanya sama-sama benar.
“Mbok, ada telepon dari kantor?”
“Belum, Mas.”
“Kalau ada, bilang saya tidak bisa diganggu.”
Dia meneleponnya sendiri sebelum siang. Wakil direktur menjawab dengan suara yang terlalu hati-hati. Keanu menyerahkan semua urusan operasional harian kepadanya, kecuali tanda tangan kontrak besar, sampai akhir tahun.
“Maksud Bapak... beberapa bulan?”
“Beberapa bulan. Saya masih membaca laporannya tiap malam, tetapi bukan saya yang memegang pena.”
“Baik, Pak. Kalau boleh tanya, Bapak sakit?”
“Tidak. Saya sedang belajar makan.”
Wakil direktur diam sejenak dan tidak bertanya lagi.
Ketika dia keluar ke halaman, Supri sedang mengikat tali terpal di bak truk. Lelaki itu menunduk hormat, ragu, lalu bicara tanpa diminta.
“Mas, boleh Supri bilang sesuatu?”
“Bilang saja.”
“Dulu, waktu Non Dania tinggal di sini, Supri merasa diawasi. Tiap kali Supri pulang bawa Mbak Kalila, Non Dania selalu tanya Mbak ke mana saja, dengan siapa.” Supri menggaruk kepala. “Supri tidak berani cerita. Mas juga tidak pernah tanya.”
Kalimat terakhir itu jatuh ke dada Keanu seperti batu kecil. Dia tidak membela diri. “Betul. Saya tidak pernah tanya.”
“Maaf, Mas.”
“Jangan minta maaf, Pri. Itu salah saya.”
*
Perabot-perabot itu tiba di panti menjelang sore, dan Bu Pengurus menelepon sendiri untuk mengucapkan terima kasih. Keanu menjawab seperlunya, lalu menutup telepon dan memandang koridor yang lengang.
Mama datang pukul enam, membawa rantang yang kali ini benar-benar penuh. Dia meletakkannya di meja makan, lalu menatap Keanu lama sekali, dari rambut sampai ujung sandal.
“Kamu mengosongkan kamar itu?”
“Seluruhnya, Ma. Perabotnya ke panti. Kardigan Dania ke rumah Ibu Tanto.”
“Mama tidak menyuruhmu.”
“Karena itu saya lakukan.”
Mama menarik kursi dan duduk. Tangannya merapikan taplak yang sudah rapi. “Tadi pagi Kalila menelepon Mama.”
Keanu menegakkan punggung. Dia tidak berkata apa-apa, sebab janji di tangga pengadilan masih terpasang di lehernya seperti kalung berat: dia tidak akan menghubungi Kalila, dia hanya akan menunggu sampai Kalila yang meminta.
“Bukan soal kamu,” kata Mama cepat. “Soal hal lain. Tetapi sebelum menutup, dia menitip satu kalimat untukmu. Mama sudah berjanji menyampaikannya persis.” Mama menarik napas. “‘Jangan membayar apa pun untukku. Kalau ingin menepati janji, mulai dari yang kecil.’”
Hening menyelimuti ruang makan. Dari dapur terdengar bunyi sendok beradu dengan panci, pelan.
“Pemasok itu bilang,” gumam Keanu, “potongan itu ditolak.”
“Pemasok apa?”
“Tidak penting, Ma.” Sudut bibirnya bergerak sendiri, dan dia baru sadar dia tersenyum ketika wajah Mama berubah. Mama menatapnya seperti menatap sesuatu yang sudah lama dikira hilang dari rumah itu.
“Mulai dari yang kecil,” ulang Keanu. “Dia tidak minta aku membeli apa pun. Dia minta aku berhenti membeli.”
“Itu beda, Nak.”
“Aku tahu, Ma. Aku cuma baru mengerti hari ini.”
“Apa yang kecil, menurut Mama?” tanya Keanu, dan nadanya begitu jujur sehingga Mama sempat tidak menjawab.
“Datang tepat waktu. Makan di meja, bukan di depan laptop. Menelepon Mama sore-sore, bukan menunggu Mama menelepon duluan.” Mama menghitungnya dengan jari. “Menjawab Mbok kalau ditanya sudah makan atau belum. Hal-hal begitu.”
“Aku tidak pernah mengira itu yang diminta.”
“Itu yang selalu diminta, Nak. Hanya dulu kamu mencari yang besar-besar.”
*
Mbok Darmi membawa dua mangkuk dari dapur dan menaruhnya di depan Keanu dan Mama dengan tangan yang tidak selancar biasa. Sup ayam kampung. Uapnya naik tipis, harum jahe dan serai, dan di permukaannya mengapung irisan bawang goreng yang menguning.
“Mbok buat sendiri hari ini, Mas. Mas tidak perlu belajar dulu.”
“Terima kasih, Mbok.”
Keanu mengaduk kuah itu, mengangkat sendok, dan menyesapnya seperti yang dia lakukan setiap hari sejak berminggu-minggu lalu: tanpa harapan, hanya sebagai kewajiban. Panas. Licin. Seperti biasa.
Lalu, di ujung lidahnya, sesuatu menusuk halus. Lebih halus dari jarum, lebih singkat dari kedipan. Sebuah sudut tajam yang segar, yang membuat air liurnya mengalir tanpa diminta.
Dia membeku. Sendok masih di bibirnya.
“Mbok.”
“Ya, Mas?”
“Tadi...” Keanu menelan. Suaranya tidak seperti suaranya. “Tadi... asam.”
Mbok Darmi berhenti dengan nampan di tangan. Mama menjatuhkan sendoknya ke piring, berdenting nyaring.
“Asam, Mas?”
“Sebentar saja. Sedetik.” Keanu menyendok lagi, lebih banyak, dan menahannya di lidah lama-lama. Tidak ada. Hanya panas dan licin. Dia menelan, menyendok lagi, dan lagi, tetapi rasa itu sudah lari seperti ikan yang menyentuh jari lalu menghilang ke dalam air.
“Pergi,” katanya lirih. “Hilang lagi.”
“Tidak apa-apa, Nak.” Mata Mama sudah basah. “Kamu merasakannya. Sedetik pun itu sudah ada.”
Mbok Darmi mengusap mata dengan ujung kain di bahunya. “Dua sendok jeruk nipis, Mas, seperti kata Mbak Kalila. Mbok taruh persis.”
Keanu menunduk menatap mangkuknya. Uap sup itu sudah tipis, dan dia teringat sebuah pesan yang baru dibacanya sore ini: mulai dari yang kecil.
“Mbok,” katanya akhirnya, “besok masih ada sup ini?”
“Ada, Mas.”
“Dua sendok jeruk nipisnya jangan kurang. Dan jangan kasih tahu siapa pun dulu, Mbok. Sampai saya yakin itu bukan kebetulan.”