Kue madu itu sampai ke tangan sopir Eyang hari Selasa pagi, terbungkus kertas minyak dan diikat benang dapur, tanpa sepatah tulisan. Hanya itu yang Bu Pengurus tahu. Sepekan ini dia tersita urusan tenda dan kursi, jadi baru Minggu pagi dia sempat naik ke vila untuk melaporkannya, sambil mengatur napas di kursi rotan teras.
“Sopirnya bilang dokternya sedang rapat. Bungkusannya diserahkan ke perawat.” Bu Pengurus menepuk-nepuk tas kainnya. “Ibu tidak bertanya lebih jauh, Nak. Namanya juga titipan tanpa nama.”
“Memang tidak perlu ditanya, Bu.” Kalila menaruh dua cangkir teh di meja. Hari Minggu, pukul tujuh pagi, dan matahari baru menembus daun mangga di halaman belakang. Dia sendiri heran kenapa dadanya tidak terasa sesak menunggu kabar yang ternyata kosong. “Tapi Ibu naik jalan setapak sepagi ini bukan cuma untuk melapor soal kue.”
“Bukan.” Bu Pengurus menoleh ke arah pagar. “Ibu bawa tamu.”
Seorang perempuan muda berkerudung krem berdiri di sana, map plastik didekap di dada seperti perisai. Umurnya dua puluh enam atau tujuh. Kalila mengenalinya: perempuan yang Senin lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun paling sumbang di barisan depan.
“Ini anak Ibu yang besar di panti sampai SMA,” kata Bu Pengurus. “Bulan ini dia menikah.”
“Selamat.” Kalila mengulurkan tangan. “Silakan duduk.”
“Terima kasih, Kak.” Perempuan itu duduk di ujung kursi, dan map di dadanya bergeser ke pangkuan. “Saya cicip kue madu Kakak waktu hari jadi panti. Saya sampai minta potongan kedua, malu-maluin. Akadnya di aula panti, tapi resepsinya saya mau di kebun, seratus lima puluh orang. Saya takut Kakak menolak. Anggaran saya tidak besar.”
“Kamu mau menu apa?”
“Rendang. Ayam bumbu kuning. Sayur nangka.” Dia menelan ludah. “Dan kue madu itu, kalau boleh.”
Kalila membuka mulut hendak menghitung, lalu berhenti. Seratus lima puluh porsi berarti empat puluh kilo daging lebih, bumbu yang harus pas, dan asin yang tidak bisa dia rasakan sedikit pun. Seluruh keberhasilan rendang itu akan bertumpu pada lidah orang lain.
Dia melirik dinding di balik pintu dapur. Di sana, di bawah foto Ayah dan Ibu, tulisan tangannya sendiri masih terbaca: Senin. Hari ke-90. Tinggal tiga puluh enam hari. Orang yang sedang menghitung mundur tidak boleh menolak pekerjaan sebesar ini hanya karena takut.
“Rendangnya bisa,” kata Kalila. “Kuenya juga. Yang tidak bisa, truffle.”
Perempuan muda itu tertawa kaget, lalu matanya basah. Bu Pengurus pura-pura sibuk dengan tehnya.
“Siapa saja yang diundang?” tanya Kalila, sekadar untuk menghitung kursi.
“Anak-anak panti, para pengasuh, tetangga, teman kerja saya.” Dia mulai membuka map dan menyodorkan selembar daftar yang dicoret-coret. “Pengurus yayasan juga, Kak, karena mereka yang dulu membiayai sekolah saya. Mungkin ada donatur yang ikut hadir, saya tidak tahu siapa saja.”
“Tidak apa-apa. Orang yang datang boleh siapa pun, asal piringnya cukup.”
“Nah, itu.” Bu Pengurus mengacungkan jari. “Itu ucapan koki.”
Kalila tersenyum kecil dan tidak menjawab. Sudah lama sekali dia tidak disebut koki oleh seseorang yang tulus.
*
Sore itu enam anak panti datang berombongan bersama seorang pengasuh, sandal mereka berbaris di teras. Kalila sendiri yang meminta. Seratus lima puluh porsi butuh seratus tangan, dan dia tahu persis tangan siapa yang paling gembira dipinjam.
“Kak, saya kebagian apa?” Bocah berhidung beringus itu sudah berdiri di depan meja dapur, jinjit supaya kelihatan.
“Bawang merah. Dikupas, jangan dipotong.”
“Kenapa jangan dipotong?”
“Karena kalau dipotong, kamu menangis. Kalau dikupas saja, kamu cuma bersin.”
“Bersin boleh,” katanya mantap.
Anak berkepang dua mendapat kelapa parut. Dua anak lain ditugaskan menghitung potongan daun jeruk, sebab Kalila sengaja memberi mereka pekerjaan yang tidak bisa salah. Sementara itu Asti menimbang bumbu halus, mencicip kuah uji, dan menyebut angka garam dengan suara datar: “Kurang seperempat sendok teh, Bu.”
“Tambah seperempat.” Kalila mengaduk panci kecil itu pelan-pelan. Santan, lengkuas, serai, dan jeruk purut naik sebagai uap, dan hidungnya membaca semuanya dengan jujur. Hanya lidahnya yang masih diam di bagian paling penting. “Asti, seratus lima puluh porsi itu tiga puluh kali lipat dari ini. Kalau meleset sedikit saja, rasanya ikut meleset tiga puluh kali.”
“Makanya saya yang cicip tiap panci, Bu. Bukan cuma panci pertama.”
“Dan anak-anak?”
“Mereka khusus tukang protes soal manis.” Asti melirik ke meja. “Itu pun sudah jadi bagian Ibu, kan? Yang manis sekarang Ibu sendiri yang menilai.”
Kalila mengangguk. Itu benar, dan kebenaran itu masih terasa seperti sepatu baru yang belum selesai dia pakai.
Dari ujung meja, bocah berhidung beringus berhenti mengupas. Matanya menatap dinding di atas kompor kecil.
“Itu siapa, Kak?”
Kalila menoleh. Foto itu sudah bertahun-tahun di sana: lelaki berkemeja batik dan perempuan berkerudung bunga-bunga, keduanya tertawa pada kamera yang tidak kelihatan. Selama ini dia menghindarinya seperti menghindari lubang di jalan.
“Ayah dan ibu Kakak.”
“Mereka lagi apa?”
“Lagi ketawa.”
“Oh.” Anak itu mengangguk, kembali menekuri bawangnya. “Kayak Kakak kemarin.”
Kalila mengambil lap, pura-pura membersihkan meja yang sudah bersih. Tidak ada yang bicara. Hanya terdengar suara kulit bawang dikupas dan seseorang bersin dengan khidmat.
*
Senin pagi, sebuah mobil bak berhenti di depan pagar vila. Asti mengintip dari jendela dan mendengus.
“Bu, itu pemasok daging yang dulu menunda kirim. Yang bilang ‘arahan dari atas’.”
“Persilakan masuk.”
Lelaki gempal bertopi itu turun membawa dua boks pendingin dan berdiri di teras dengan topi di tangan. Wajahnya seperti orang yang sudah berlatih kalimat di sepanjang jalan, lalu lupa semuanya.
“Pagi, Bu Kalila. Saya dengar dari Bu Pengurus Ibu terima pesanan seratus lima puluh porsi. Daging saya kirim. Kualitas seperti dulu.”
“Dulu Bapak menunda kirim ke saya.”
“Iya, Bu. Dulu...” Dia menggosok tengkuk. “Waktu itu ada arahan dari atas. Tapi sudah dicabut, Bu. Pak Keanu sendiri yang nyuruh cabut, empat bulan lalu. Katanya jangan diceritakan ke Ibu. Kami kira dapur Ibu sekarang kecil, tidak butuh pemasok besar. Kami cuma menunggu Ibu buka lagi. Eh, keceplosan.”
Asti menahan napas. Kalila tidak. Dia menatap lelaki itu dengan tenang.
“Saya sudah tahu, Pak. Dari beliau sendiri.”
“Oh. Syukurlah, Bu.” Lega menyapu wajahnya, lalu cepat berganti cemas. “Satu lagi, Bu. Beliau titip pesan. Kalau Ibu pesan dari kami, harganya dipotong seperempat. Selisihnya beliau yang tanggung.”
Teras itu sunyi sejenak. Seekor burung hinggap di pagar lalu terbang lagi.
Yang diambil Keanu sudah dia kembalikan, pikir Kalila. Itu kewajiban, bukan hadiah. Tetapi potongan ini lain. Potongan ini tangan yang terulur lewat orang ketiga, minta dipegang tanpa terlihat.
“Terima kasih atas titipannya, Pak. Tolong sampaikan, potongan itu saya tolak.” Kalila mengambil buku pesanan dari tangan Asti. “Harga biasa, Pak. Seperti yang tertulis di nota. Saya bayar lunas hari ini juga.”
“Tapi, Bu...”
“Terlambat, Pak. Tetapi terima kasih sudah jujur.”
Lelaki itu mengangguk berkali-kali. “Saya sampaikan, Bu. Beliau pasti cuma bilang ‘ya sudah’. Kurus sekali sekarang, Bu, waktu terakhir saya ke kantornya.”
“Itu bukan urusan nota ini, Pak.”
“Iya, Bu. Maaf.” Dia memakai kembali topinya, lalu memindahkan boks-boks itu ke dapur dengan hati-hati sekali, seakan isinya telur.
Sesudah mobil bak itu menjauh, Asti mengeluarkan ponsel dari saku celemek. Wajahnya aneh.
“Bu, ada pesan dari Mbok Darmi. Pak Keanu sudah pulang dari rumah Mamanya dua hari lalu. Minggu ini dia mau mengosongkan kamar tamu, semuanya. Katanya perabotnya mau dikirim ke panti.”
“Itu urusan rumah itu, Asti.”
“Iya, Bu. Tapi kata Mbok, Pak Keanu sendiri yang menyuruh Supri menyiapkan truk untuk Sabtu depan.”
Kalila tidak menjawab. Dia menuangkan air panas ke cangkir, dan uapnya naik, hangat, tanpa bau apa pun yang bisa dia baca sebagai kabar.