Seluruh dapur terbuka beratap seng itu sudah berbau mentega sejak subuh. Hari jadi panti jatuh pada hari Senin, enam hari sesudah teh sore di beranda Eyang.
“Bu Kalila, ini loyang ketiga.” Asti menaruh cetakan bundar di meja kayu panjang. “Anak-anak sudah menghitung. Tiga puluh dua anak, ditambah pengasuh, ditambah tamu yayasan. Kuenya harus cukup untuk lima puluh dua potong, tapi mereka kira satu anak boleh minta dua.”
“Biarkan mereka mengira.” Kalila menimbang madu di timbangan kecil, empat ratus gram, dan menuangnya ke mangkuk berisi telur yang sudah dikocok. Madunya jatuh seperti benang emas yang malas, dan harumnya pelan-pelan naik, hangat, bunga-bunga. “Kita bikin sembilan potong cadangan. Anak-anak panti selalu minta dua.”
“Dua kali dua, Bu?”
“Dua kali dua itu hitungan Bu Pengurus. Hitunganku lebih longgar.”
Bu Pengurus, yang sedang menata gelas plastik di ujung meja, tertawa tanpa menoleh. Perempuan bertubuh bulat itu sudah dua hari tidak tidur nyenyak, tetapi hari ini matanya berbinar seperti orang yang dipercaya mengurus pesta pertama anak sendiri. Di luar dapur, anak-anak menempel balon dengan selotip di tiang-tiang taman, dan seseorang mengulang-ulang nada lagu yang tidak pernah selesai karena yang lain terus memotong.
Kalila mengaduk adonan dengan spatula. Pelan, merata, tidak terburu. Dia sudah menulis resep ini di buku catatannya dua malam lalu, dengan takaran yang dia hafal di luar kepala sejak lama: tepung, madu, mentega cair, sedikit kayu manis. Dia tidak mengharapkan apa pun dari pekerjaan ini selain kuenya selesai dan anak-anak senang.
Ketika adonan tinggal setengah jalan, tangannya melakukan hal yang selalu dia lakukan, terlepas dari apa pun yang terjadi di dalam mulutnya. Dia mencelupkan ujung jari kelingking ke adonan dan menaruhnya di ujung lidah.
Manis.
Bukan manis yang malu-malu. Bukan manis yang cuma dugaan. Madu itu menetes di lidahnya, hangat, bulat, dan benar-benar manis, dan sebelum dia sempat berpikir, tubuhnya sudah membeku dengan jari masih terangkat di depan mulut.
“Bu?” Asti menoleh dari kompor. “Ibu kenapa?”
Kalila menarik jarinya, menatapnya, lalu menjilatnya sekali lagi. Manis itu datang lagi, tidak berkurang, tidak melemah. Dia mengambil sedikit lagi, kali ini dengan sendok, dan membiarkan adonan itu menyebar di seluruh lidah.
“Asti.”
“Ya, Bu?”
“Manis.” Kalila tertawa, dan tawa itu pecah di tengah. “Ini manis. Ya Allah, ini manis sekali.”
“Coba yang lain, Bu. Gula dulu, siapa tahu cuma madunya.”
Kalila menyentuhkan ujung jari ke toples gula pasir, lalu ke kismis, lalu ke sisa pisang matang di sudut meja. Semuanya manis. Semuanya benar-benar manis, dengan bulat dan lembut yang selama ini hanya dia kenal sebagai kata. Garam masih kosong. Gurih masih senyap. Tetapi dua pintu sudah terbuka, dan pintu kedua ini tidak sempit.
“Dua, Asti,” bisiknya. “Aku punya dua.”
“Dua dari lima, Bu.”
“Dua dari berapa pun.” Kalila mengusap pipi dengan lengan baju. “Dua itu dua.”
Asti menjatuhkan lap. Bu Pengurus berhenti menata gelas. Dan Kalila, yang selama ini memegang sendok seperti memegang hukuman, mendapati dirinya menangis dan tertawa sekaligus, bahunya terguncang, tangan menutup mulut, adonan menetes dari spatula ke meja tanpa dia pedulikan.
Bu Pengurus datang dengan langkah cepat dan memeluknya dari samping, erat, bau minyak telon dan sabun cuci piring. Tidak ada kata-kata. Tangan perempuan itu menepuk punggung Kalila dengan irama lambat seperti menepuk bayi.
“Sudah, Nak. Sudah. Keluarkan saja.”
“Maaf, Bu. Saya kotori dapur Ibu.”
“Dapur ini bukan untuk bersih, dapur ini untuk hidup.”
Dari pintu belakang terdengar langkah kecil. Bocah berhidung beringus itu sudah berdiri di ambang, sandalnya sebelah, menatap Kalila yang menangis dan tertawa bergantian dengan mata bulat.
“Kak Kalila kenapa? Jatuh?”
“Enggak.” Kalila mengusap pipinya dengan punggung tangan, meninggalkan jejak tepung. “Kakak senang.”
Anak itu menimbang jawaban itu, kemudian mengangguk bijak, seperti orang tua yang sudah banyak melihat. “Kata Bu Pengurus, dulu Kakak juga ketawa kayak gini. Ada fotonya di dinding.”
Kalila tidak bisa menjawab. Dia hanya mengangguk berulang-ulang, dan Bu Pengurus mengusap bahunya lagi.
*
Kuenya keluar dari oven pukul sebelas, cokelat keemasan dan bergelembung di pinggir, dan Kalila memotongnya sendiri di meja panjang di taman. Anak-anak berbaris. Balon-balon berayun di tiang. Seseorang memutar lagu lewat pengeras suara kecil, dan para pengasuh menepuk tangan mengikuti ritme.
Dia menyuapkan potongan pertama ke anak yang berhidung beringus. Anak itu menggigit, mengunyah, lalu mengangkat jempol dengan mulut penuh. Tawa pecah di seluruh barisan. Kalila memotong lagi dan lagi, tangan-tangan kecil menjulur, dan di sela-sela itu dia menyadari sesuatu yang ganjil: dia tidak lagi menunggu pendapat siapa pun. Tidak Asti, tidak anak-anak, tidak dirinya sendiri. Dia sudah tahu kuenya enak. Karena dia sendiri yang merasakannya.
Seorang lelaki berbatik cokelat, yang tadi duduk di deretan tamu yayasan, menghampirinya sambil membawa piring kosong. Kalila mengenali suaranya sebelum wajahnya: ketua dewan yayasan yang pernah menelepon pukul enam pagi, ketika nama baiknya sedang dijadikan taruhan.
“Kuenya luar biasa, Bu Kalila. Terima kasih. Dan sekali lagi, maaf atas keputusan kami dulu. Kami terlalu cepat percaya pada suara tanpa nama.”
“Sudah lewat, Pak. Anak-anak butuh kue, bukan permintaan maaf.”
“Kalau begitu saya minta satu potong lagi.”
Kalila tertawa dan memberinya dua.
Pukul dua belas, ketika lagu selamat ulang tahun dinyanyikan sumbang oleh tiga puluh dua suara, Bu Pengurus menarik lengan Kalila ke sudut taman di bawah pohon mangga.
“Ibu mau menyampaikan satu hal. Jangan kaget.”
“Apa, Bu?”
“Tadi pagi, sebelum kamu datang, ada kiriman dari rumah sakit. Satu kardus besar kue kering untuk anak-anak. Diantar sopir Eyang.” Bu Pengurus menurunkan suara. “Dari dokter itu. Seperti biasa, dia bilang jangan ditulis namanya di mana-mana. Padahal Ibu sudah bilang di papan donatur ada tempat kosong.”
Kalila terdiam. Di kejauhan, anak-anak berebut potongan terakhir, dan balon-balon berayun pelan.
Dia berjalan kembali ke meja, mengambil sepotong kue madu yang paling utuh, yang pinggirnya paling emas, dan membungkusnya dengan kertas minyak. Tangannya sempat berhenti di atas bungkusan itu. Dia tidak menulis apa pun di kertasnya. Tulisan akan memaksanya memilih kata, dan hari ini dia belum ingin memilih. Dia hanya melipat ujungnya rapi, mengikatnya dengan benang dapur, dan menyerahkannya pada Bu Pengurus.
“Tolong titipkan, Bu. Tanpa nama.”
“Untuk siapa?” tanya Bu Pengurus, meski senyumnya sudah menjawab.
“Untuk dokter yang tidak mau namanya ditulis.”
Bu Pengurus menerima bungkusan itu dengan kedua tangan dan mengangguk dengan khidmat. “Besok pagi Ibu titipkan lewat sopirnya. Tanpa nama,” katanya. “Seperti kebiasaan kalian berdua.”