Hari kedua Kalila dirawat di rumah sakit. Keanu berdiri mematung di koridor lantai lima rumah sakit jauh lebih lama dari yang seharusnya.
Melalui celah sempit pintu kayu kamar rawat VVIP yang sedikit terbuka, sepasang mata elangnya terkunci pada pemandangan di dalam ruangan yang membuat darahnya mendidih.
Kalila terbaring pucat di atas ranjang rumah sakit. Helai-helai rambut sebahunya tergerai acak di atas bantal putih yang kontras. Mata Keanu tertumbuk pada satu sosok di samping ranjangnya, dr. Julian duduk dengan postur tubuh yang teramat tenang.
Kaki panjangnya disilangkan dengan elegan, sementara jemarinya mengetuk pelan di atas folder iPad rekam medis berlambang rumah sakit.
Bagi Keanu, gestur Julian terlalu familier sebagai seorang dokter bagi pasien.
Keanu melihat Julian sedikit mencondongkan tubuhnya, mungkin membisikkan sederet kalimat instruksi medis dengan nada bariton khas sang paman yang begitu meneduhkan. Detik berikutnya, sudut bibir Kalila bergerak halus. Bukan sebuah senyuman manis yang muncul, melainkan secercah gurat kelegaan yang teramat tipis, tapi itu yang sudah berbulan-bulan tidak pernah Kalila tunjukkan di rumah mereka.
Keanu tidak melangkah masuk. Dia menarik kembali tangannya yang sempat menggantung di atas knop pintu.
Dia hanya berdiri membeku di koridor luar, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di dalam saku jas. Tiba-tiba Keanu merasa ada sesuatu yang sangat panas, asing dan tajam, mendadak merayap naik, mencengkeram erat dadanya hingga dia sulit bernapas. Itu bukan sekadar rasa khawatir seorang suami atas kondisi fisik istrinya yang sedang sakit.
Cemburu.
Rasa itu datang tanpa izin, sangat menyiksa daripada amarah atau keangkuhan apa pun yang biasa Keanu kenal.
*
Dua hari kemudian, Keanu sudah duduk menunggu di sofa ruang tamu sejak pukul empat sore. Dia bahkan melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dia pedulikan, meminta kepala pelayan menyeduh teh melati hangat, menata beberapa kue kering kesukaan Kalila, hingga menurunkan volume televisi hingga senyap.
Pintu depan terbuka. Kalila melangkah masuk dengan kaki yang melangkah pelan dan hati-hati. Di sampingnya, sang paman, dr. Julian, berjalan mengawal sambil menjinjing sebuah tas kecil berisi pakaian ganti mantan pasiennya.
Wajah Kalila masih pucat seputih kertas, tapi sepasang matanya memancarkan ketenangan yang membuat Keanu bergidik.
"Terima kasih banyak sudah mengantar saya sampai ke rumah, Dokter Julian," ucap Kalila sopan.
Julian mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat wibawa khas seorang dokter juga paman. Pandangan matanya sempat bergeser sejenak, mengunci manik mata Keanu yang berdiri di dekat sofa. Ada sesuatu di balik lensa kacamata berbingkai tipis milik pamannya yang tidak bisa Keanu baca.
Tatapan itu bukan sebuah tantangan terbuka, bukan pula rasa bersalah seorang pebinor karena Julian memang tidak merebut Kalila darinya. Lebih seperti…, sebuah pemahaman tentang kehancuran rumah tangga keponakannya.
"Istirahatlah yang cukup, Kalila," tutur Julian, suaranya begitu profesional dan meneduhkan. "Jika gejala pusing, tremor tangan atau mual lambung itu muncul lagi, jangan ragu untuk langsung menghubungi nomor pribadiku." Julian pergi tanpa banyak basa-basi.
Keanu menunggu sampai suara mobil Jullian menghilang di kejauhan. Baru kemudian dia berbicara, "kamu... seharusnya bilang padaku kalau kamu merasa tidak enak badan akhir-akhir ini, Kalila." Katanya dengan nada super lembut.
Kalila berhenti, dia menoleh perlahan. Sorot matanya menatap Keanu dengan pandangan yang teramat datar, tanpa ada lagi binar ketakutan atau pemujaan yang dulu selalu ada.
"Saya sudah ditangani dan diurus dengan sangat baik oleh tim medis, Tuan Keanu. Anda tidak perlu membuang waktu Anda untuk khawatir."
Kalila berjalan melewati tubuh Keanu begitu saja, melangkah lurus menuju koridor belakang area servis. Dia tidak berbelok ke arah tangga menuju kamar utama mereka di lantai dua. Langkah kakinya membawa tubuh ringkihnya langsung menuju kamar pelayan di ujung dapur.
Keanu mengekor di belakangnya, langkahnya tergesa-gesa seolah sedang mengejar bayangan yang akan segera hilang jika tiada sumber cahaya, "Kalila."
Istrinya berhenti tepat di ambang pintu kamar sempit itu, tapi punggungnya tetap membelakangi Keanu.
"Kamar utama kita... euum masih kosong dan rapi," kata Keanu, suaranya mendadak merendah, kehilangan seluruh keangkuhannya, "kamu bisa kembali tidur di atas ranjang kita."
Kalila mengangguk dengan sopan santun yang teramat formal, masih tanpa sudi menolehkan wajahnya pada sang suami. "Terima kasih banyak atas tawarannya. Tapi tubuh dan jiwa saya merasa jauh lebih aman dan nyaman di kamar ini."
Pintu kamar pelayan tertutup pelan. Bunyi kunci berputar terdengar jelas di keheningan rumah.
Keanu berdiri mematung di depan pintu kamar itu untuk waktu yang teramat lama. Dadanya bergemuruh hebat oleh rasa hampa yang menyiksa. Dulu... Kalila selalu menjadi pihak yang akan membuka kembali pintu untuknya. Kalila akan menangis, meminta maaf atas kesalahan yang mungkin tidak dilakukannya, lalu memeluk punggung Keanu dari belakang sambil berbisik bahwa dia tidak bermaksud membuat masalah.
Tapi sekarang itu tidak terjadi, seberapa pun Keanu coba menunggu.
*
Malam itu, jam dinding berdentang menunjukkan pukul tiga dini hari, namun Keanu tidak bisa memejamkan matanya.
Pikirannya kembali ditarik paksa pada pemandangan di ruang rawat rumah sakit, Julian yang duduk terlalu dekat dan suara bariton pamannya yang sanggup membuat Kalila merasa tenang karena merasa dilindungi.
Keanu pejamkan matanya rapat. Dia tahu dirinya yang menyebabkan semua neraka ini terjadi. Dialah pria egois yang membawa wanita lain, Dania, masuk ke rumah ini.
Dialah yang membentak Kalila di ruang kerja hingga mental istrinya hancur. Dialah yang membuat Kalila malu dan membiarkan istrinya menunggu sendirian di kafe hingga kafe itu tutup dan dialah yang membiarkan Kalila berdiri basah kuyup kedinginan di depan gerbang rumahnya sendiri bagai pengemis.
Tapi mengetahui seluruh daftar dosanya tidak serta-merta membuat Keanu tahu harus berbuat apa untuk memutar kembali waktu.
Keesokan paginya, Keanu mencoba lagi.
Dia turun lebih awal dari biasanya, berdiri menunggu di area dapur bersih. Begitu pintu kamar pelayan terbuka dan Kalila muncul untuk mengambil segelas air putih hangat, Keanu langsung bergeser memotong jalur langkah istrinya di dekat meja bar.
"Aku... bisakah aku minta dibuatkan secangkir kopi arabika?" Suara Keanu terdengar sangat kaku, “seperti yang biasa kamu siapkan untukku."
Kalila menatap Keanu. Tidak ada kilatan kejutan di sepasang mata bulat indahnya, tidak ada pula secercah harapan yang bangkit. Yang tersisa hanyalah sebuah kesopanan yang formal.
"Kepala pelayan rumah ini bisa menyiapkannya untuk Anda, Tuan Keanu. Saya sudah mengundurkan diri dan tidak lagi mengurus keperluan pribadi Anda."
Kalila menuangkan air ke dalam gelas, lalu berjalan pergi meninggalkan area dapur tanpa sudi menunggu jawaban dari bibir suaminya.
Panggilan “Tuan Keanu” yang keluar enteng dari mulut istrinya terasa seperti belati berkarat yang ditusukkan lalu diputar perlahan di dalam rongga dadanya. Sakit!
Kalila benar-benar sedang menghapus status dirinya sebagai suami.
Sepanjang hari, Keanu bekerja dengan pikiran yang berantakan. Setiap kali ponsel pribadinya bergetar, jantungnya berdegup gila, berharap itu pesan singkat dari Kalila.
Tapi nihil. Yang masuk hanyalah laporan dari sekretaris dan satu pesan singkat dari Dania yang dia baca tanpa benar-benar memahami isinya.
Sore harinya, ia pulang lebih awal.
Keanu melangkah pelan menuju koridor belakang area servis pelayan, tempat favoritnya sekarang ini. Langkah kakinya mendadak terhenti tepat dua meter di depan pintu kamar Kalila yang sedikit terbuka. Dari dalam ruangan, sayup-sayup terdengar suara Kalila sedang berbicara dengan suara yang pelan di telepon genggamnya.
“…iya, Dok. Kondisi lambung saya sudah jauh lebih baik hari ini. Tidak, tidak perlu datang ke sini. Saya tidak ingin merepotkan.”
Jeda.
“Terima kasih… karena sudah berkali-kali menolong saya.”
Keanu membeku.
Seluruh aliran darahnya seolah berhenti mengalir saat mendengar suara Kalila berubah drastis saat mengucapkan kalimat terakhir itu. Suara istrinya terdengar jauh lebih lembut dan tulus, kentara sebuah intonasi penuh rasa aman yang sudah lama tidak pernah Keanu dengar diarahkan kepadanya.
Telepon diputus. Kalila meletakkan ponsel di atas nakas. Baru kemudian dia menyadari ada seseorang di ambang pintu.
Kalila mendongak, menatap suaminya dengan wajah datar tanpa riak emosi. "Ada perlu apa, Tuan Keanu?"
Keanu menelan ludah. “Kamu… sering bicara dengan Jullian?”
Kening Kalila berkerut dan menatap Keanu, "beliau adalah kepala tim dokter spesialis yang bertanggung jawab atas hidup dan kesembuhan psikologis saya, Tuan Keanu. Sangat wajar jika ada komunikasi medis di antara kami."
"Dia pamanku yang lebih muda, Kalila!" suara Keanu meninggi satu oktaf, dipicu oleh rasa cemburu.
"Saya tahu," jawab Kalila pendek.
Keanu nekat melangkah masuk satu langkah ke dalam kamar. Ruangan sempit terasa kian menekan, mengurung ego mereka berdua.
"Kamu... terlihat jauh lebih tenang dan nyaman saat berbicara dengannya," desis Keanu dengan mata yang mulai memerah menahan luka batin.
Kalila tidak langsung menjawab. Dia berdiri dari tepi ranjang single-nya, lalu menatap manik mata elang Keanu dengan tatapan paling savage yang pernah dia miliki dan berkata dengan suara yang teramat pelan, “karena beliau tidak pernah membuat saya merasa harus meminta maaf hanya untuk bisa bernapas.”
Keanu terdiam seribu bahasa. Dia ingin membantah, ingin berteriak bahwa dia juga peduli. Dia menyesal dan ingin merawat Kalila dengan caranya sendiri. Sialnya, seluruh kata-kata itu macet total di tenggorokannya karena dia tahu, semuanya sudah terlampau terlambat untuk diucapkan. Percuma.
“Kalau tidak ada lagi yang ingin disampaikan, saya ingin istirahat. Dokter menyarankan saya untuk banyak tidur.”
Dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur, Keanu mengangguk kaku, membalikkan badannya, dan melangkah keluar dari kamar pelayan.
Keanu kembali ke ruang kerja dengan langkah berat. Dia duduk dan hanya menatap dokumen yang tidak dia baca. Di kepalanya, suara Kalila terus terngiang.
Karena beliau tidak pernah membuat saya merasa harus meminta maaf hanya untuk bisa bernapas.
Bayangan Jullian yang duduk di samping ranjang rumah sakit muncul lagi. Tapi kali ini menatap sinis ke arahnya.
Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tiga tahun hidupnya, seorang Keanu Syailendra merasakan ketakutan yang teramat sangat. Sebuah ketakutan yang sanggup melumpuhkan seluruh kewarasannya.
Bukan ketakutan karena Kalila akan melemparkan surat gugatan cerai kepadanya. Melainkan, suatu hari nanti, ketika dia akhirnya menurunkan seluruh egonya dan tahu harus berkata apa untuk memohon maaf... Kalila sudah tidak lagi berada di kamar sempit ujung koridor itu.
Dan yang lebih mengerikan, Keanu tidak yakin apakah yang akan membawa Kalila pergi darinya adalah karena selembar kertas putusan pengadilan atau sosok pria sempurna yang pernah memeluk tubuhnya di bawah hujan badai, di saat suaminya sendiri sedang menghibur wanita lain.