Beranda rumah Eyang punya empat kursi rotan yang bantalannya sudah pudar, dan di meja bundar di antara kursi-kursi itu hanya ada teko dan tiga cangkir. Tatakan kayu kecil yang Kalila kenal terlalu baik tampak dari pintu yang terbuka, di meja rendah ruang tamu.
Di situlah pena hitam bergaris perak itu pernah tinggal, menunggu putusan. Kartu undangan Eyang, hanya dua baris tulisan tangan, tiba dua hari sesudah dia membawa sup ke rumah Mama. Kalila memandang tatakan di dalam itu sebentar ketika Asti membukakan pintu mobil untuknya, kemudian memandang ke bawah, merapikan ujung kebaya sederhana yang dia pilih pagi tadi dengan cermat, seolah rapi bisa jadi pelindung.
“Ibu tidak perlu gugup,” bisik Asti.
“Aku tidak gugup. Aku hanya merasa seperti anak sekolah yang dipanggil kepala sekolah untuk dipuji.”
“Itu lebih menakutkan dari dimarahi.”
“Memang.”
Eyang sudah menunggu di kursi paling ujung, tongkat kayunya tersandar di lengan kursi dan selendang kelabu tersampir di bahu. Perempuan itu sudah lebih dari tujuh puluh tahun, tetapi punggungnya tegak dan sorot matanya bening, seperti orang yang menolak membiarkan usia memutuskan sesuatu untuknya. Dia mengangkat tangan ketika melihat Kalila, bukan melambai, hanya mengisyaratkan: duduklah.
“Selamat sore, Eyang.”
“Sore, Nak. Terima kasih sudah datang di hari yang bukan hari sidang.” Eyang menuang teh melati dari teko tanah liat, tangannya mantap. “Asti, ya? Duduklah di ruang dalam, ada kue lapis di meja. Eyang perlu bicara berdua saja dengan Kalila.”
Asti mengangguk, nyaris tersenyum, lalu masuk. Pintu kasa menutup dengan bunyi lembut.
Kalila menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Lidahnya hanya merasakan hangat. Hangat itu sendiri sudah cukup untuk membuat tangannya berhenti gemetar.
“Eyang mengundang kamu bukan untuk membela anak Eyang,” kata Eyang tanpa basa-basi. “Eyang mengundang kamu karena Eyang tua, dan orang tua lebih baik bicara terus terang sebelum lupa.”
“Silakan, Eyang.”
“Lima tahun lalu, anak Eyang pulang dari panti itu pukul tujuh malam. Dia disuruh Eyang mengantar sumbangan, hanya itu. Dia pulang dan tidak makan. Duduk di meja makan, memandang piringnya, lalu bilang, ‘Mah, ada perempuan di sana yang tertawa seperti tidak pernah dilukai siapa pun.’ Eyang tanya siapa namanya. Dia bilang dia tidak tahu, dan dia lupa bertanya.” Eyang menyesap tehnya. “Dua tahun kemudian dia tahu namanya, di sebuah akad, dan dia tidak pernah lagi bilang apa pun soal itu kepada Eyang.”
Kalila memegang cangkirnya lebih erat.
“Hari akadmu,” lanjut Eyang pelan, “Eyang duduk di barisan depan dan Julian di belakang. Eyang menoleh sekali saja, dan sekali itu cukup. Di mobil pulang dia diam. Malamnya duduk di tempat yang sama di meja makan, memandang piring yang sama, dan berkata, ‘Dia kelihatan tenang, Mah. Itu cukup.’ Besoknya dia terbang ke London.” Mata tua itu menatap Kalila lurus. “Anak yang bilang ‘itu cukup’ padahal tidak cukup, itu anak Eyang. Eyang mau kamu tahu, bukan supaya kamu iba. Supaya kamu tahu dia tidak melakukan semua ini untuk menggantikan Keanu.”
“Saya tahu, Eyang.”
“Kamu tahu di kepala. Eyang ingin kamu tahu juga di tempat yang lain.” Eyang menaruh cangkirnya. “Dari kecil dia begitu. Datang ke sekolah sebelum penjaga membuka gerbang, berdiri di depannya sampai kunci diputar. Eyang kira itu sifat rajin. Ternyata itu sifat orang yang takut ditinggal dan lebih memilih menunggu daripada ditinggal.”
“Mama bercerita kamu datang ke rumahnya membawa sup,” lanjut Eyang. “Dan kamu bilang dua tahun pertama itu memang bahagia.”
“Iya, Eyang.”
“Itu jawaban yang tidak mengubah sejarah. Eyang menghormatinya.” Eyang mengangguk pelan. “Keanu cucu Eyang, jangan lupa. Eyang tidak sedang memilih siapa yang pantas dan siapa yang tidak. Eyang cuma tidak mau salah satu dari mereka menderita lebih lama dari perlu.”
*
Mereka pindah ke kebun belakang ketika matahari rendah. Eyang berjalan pelan dengan tongkatnya, dan Kalila di sampingnya menyesuaikan langkah. Di antara deretan pot anggrek dan semak kemuning, ada bangku batu yang diteduhi pohon sawo. Mereka duduk di sana, dan daun sawo yang kering berjatuhan satu per satu di pangkuan Kalila.
“Eyang tidak meminta kamu memilih anak Eyang,” kata Eyang, memandang anggrek. “Eyang tidak sedang menjual dia. Eyang sedang meminta kamu memilih dirimu sendiri.”
“Saya sedang mencoba, Eyang.”
“Eyang tahu. Dan Eyang tidak akan berpura-pura ini mudah.” Eyang meluruskan tongkat di antara kakinya. “Orang akan bicara. Paman dan mantan istri keponakannya. Itu tabu, Nak, dan Eyang tidak akan menutup mata. Mamanya Keanu sudah menangis sampai lelah soal itu. Keluarga ini akan merasakannya lama, entah kamu memilih dia atau tidak, karena orang tidak butuh alasan untuk bergunjing.”
“Saya tahu.”
“Tetapi tabu bukan dosa. Itu cuma pagar yang dipasang orang karena tidak pernah ada yang memilih berbeda.” Eyang menoleh sekilas. “Eyang tidak mau kamu melompatinya. Eyang mau kamu berdiri di depannya, melihat, dan memutuskan dengan mata terbuka.”
Kalila memandang daun sawo di pangkuannya. Ada yang bergetar halus di dadanya, bukan karena kata-kata Eyang, melainkan karena nada di baliknya: nada seseorang yang sudah lama menunggu kesempatan untuk berkata jujur kepada orang yang tepat.
“Eyang, saya...” Kalila berhenti. “Saya tidak tahu apa yang saya rasakan.”
“Itu bukan jawaban orang yang tidak tahu.” Eyang tersenyum, tipis dan lelah. “Itu jawaban orang yang takut. Kamu takut dia hanya tempatmu lari dari Keanu, bukan? Takut kalau kamu memilih dia, kamu bukan sedang memilih, kamu cuma sedang pergi dari sesuatu.”
Kalila tidak menjawab. Dia menunduk, dan daun sawo di tangannya sobek jadi dua tanpa dia sadari.
“Dan dia takut jadi pelarianmu,” lanjut Eyang, kali ini lebih lembut. “Dia takut menjadi tempat yang kamu singgahi karena lelah, bukan karena kamu memilihnya. Itu sebabnya dua orang yang paling jujur di keluarga ini tidak bicara satu sama lain sudah lama. Kalian saling menahan, dan masing-masing mengira sedang melindungi yang lain.”
Angin bertiup, menggoyangkan ranting sawo. Sinar sore menyapu wajah Eyang dari samping, dan untuk sesaat Kalila melihat rupa Julian di sana, di garis rahang dan cara menahan senyum.
“Eyang hanya minta satu hal,” kata Eyang. “Pada hari terakhir iddahmu, jangan pilih karena kasihan. Bukan kasihan kepada Keanu yang kurus, bukan kasihan kepada Julian yang menunggu. Pilihlah karena kamu sudah selesai menjadi orang yang dikasihani.”
Kalila mengangkat kepala. Matanya basah, tetapi suaranya tidak.
“Tidak akan, Eyang.”