“Mama tidak meminta kamu datang,” kata suara di telepon. “Mama hanya bilang, Keanu sudah enam hari di rumah Mama, dan dia makan sedikit lebih banyak. Itu saja.”
Kalila memegang ponselnya dengan satu tangan dan sendok pengaduk dengan tangan lain. Hampir dua pekan sudah lewat sejak taksi putih menghilang di ujung jalan itu, dan satu kalimat Dania masih mengendap di kepalanya seperti kerikil di dasar gelas. Pagi Rabu itu dapur kecil sudah ramai: dua staf menggoreng, Asti menimbang, dan di panci besar sebuah kaldu ayam mendidih pelan.
“Sakitnya apa, Ma?” tanyanya. Dia sudah tahu garis besarnya dari Mama pekan lalu: dehidrasi, lambung, pingsan di ruang rapat. Tetapi dia ingin mendengar Mama mengatakannya sendiri, tanpa sekretaris dan tanpa kabar angin.
“Dokter bilang tubuhnya menolak merasakan makanan. Seperti kamu dulu.” Mama berhenti, dan Kalila bisa mendengar napasnya. “Mama tidak meminta kamu datang, Kalila. Mama hanya tidak akan bohong kalau Keanu sempat menyebut namamu waktu setengah sadar.”
Kalila mematikan api di bawah panci. Dia tidak segera menjawab. Dapur mendadak sunyi karena para staf pura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Siang ini saya ke sana,” katanya. “Pukul dua belas. Saya yang memutuskan, Ma. Bukan karena Mama bercerita.”
“Mama tahu.”
“Dan saya tidak sendirian. Asti ikut.”
“Mama akan ada di ruang makan sepanjang waktu.”
Sambungan terputus. Asti, yang sejak tadi memunggungi Kalila sambil menimbang tepung, menaruh timbangannya pelan.
“Ibu mau bawa apa?”
“Sup bening.” Kalila menatap kaldu di panci. “Bayam, jagung, wortel, bawang putih. Tanpa jeruk nipis, tanpa lain-lain. Takarannya persis seperti yang kutulis di buku.”
“Supaya Pak Keanu tidak merasa dikasihani?”
“Supaya aku tidak merasa menyiapkan sesuatu yang harus dia nilai.” Kalila mengambil mangkuk besar dari rak. “Dan karena kami sama-sama tidak bisa mencicipinya. Itu terdengar adil.”
“Ibu yakin mau pergi?”
“Aku sudah menimbangnya sejak Mama menelepon, dan aku menimbang yang lain juga.” Kalila menatap telapak tangannya yang berbau bawang. “Kalau aku pergi hanya karena kasihan, itu salah. Kalau aku tidak pergi hanya karena takut dia salah mengira, itu juga salah. Jadi aku bertanya begini: kalau yang sakit orang asing yang pernah kukenal tiga tahun, apa aku akan mengirim sup? Jawabannya ya.”
“Dan kalau dia mengira Ibu pulang?”
“Maka aku harus mengatakan sebaliknya dengan jelas, sebelum dia sempat mengira.”
*
Rumah Mama selalu berbau cendana dan kain linen yang terlalu sering dijemur. Kalila mengenalnya dengan baik, tapi hari ini baunya berubah: ada bau bubur tipis dan sesuatu yang antiseptik di balik pintu.
Keanu sudah duduk di ujung meja makan ketika Kalila masuk. Dia memakai kemeja polos tanpa dasi, bahunya lebih sempit dari yang Kalila ingat, dan tulang pipinya menonjol seperti seseorang yang baru selesai menanggung beban yang tidak dia tahu beratnya. Dia berdiri, dan hampir saja menjatuhkan kursi.
“Kalila.”
“Duduk, Keanu.”
Dia duduk. Mama mengambil kursi di ujung lain, tangannya terlipat, dan Asti memilih berdiri di dekat pintu dapur dengan alasan membantu menata piring. Kalila meletakkan rantang kecil di meja, membuka tutupnya, dan menuang sup bening itu ke mangkuk porselen putih. Uapnya naik. Aroma bawang putih dan jagung manis.
“Makanlah,” katanya, menyodorkan mangkuk. “Walaupun tidak terasa. Itu cara belajar lagi.”
Keanu memandang sup itu, lalu memandangnya. “Kamu membuatnya?”
“Dengan takaran. Tidak kucicip, karena aku sendiri tidak bisa merasakannya. Jadi kita sama-sama menebak.” Kalila duduk. “Kalau terlalu asin, kamu bilang.”
“Aku tidak akan bisa bilang apa-apa.”
“Itu juga jawaban.”
Keanu tertawa. Pendek, parau, tapi tulus, dan Mama menunduk menyembunyikan matanya. Dia menyendok sup itu perlahan, meniupnya, dan memasukkannya ke mulut. Wajahnya tidak berubah, tetapi tangannya yang memegang sendok bergetar.
“Hangat,” katanya.
“Itu yang bisa kamu rasakan sekarang.”
“Cukup.” Dia menyendok lagi. “Mama menghitung sendokku sejak aku pulang. Kupikir hari ini Mama pasti kehilangan hitungan.”
“Mama tidak kehilangan,” sahut Mama dari ujung meja, tanpa mengangkat mata dari serbetnya. “Mama hanya berhenti menghitung keras-keras.”
Kalila tersenyum kecil. Keanu melihat senyum itu, dan sebelum sempat mengatakan sesuatu yang akan merusaknya, dia menunduk kembali ke mangkuk.
“Dapurmu bagaimana?” tanyanya akhirnya, hati-hati seperti orang melangkah di lantai licin. “Mama bilang kamu punya pesanan harian.”
“Empat puluh nasi kotak pekan lalu. Tiga loyang bolu pesanan berikutnya.”
“Boleh aku memesan?”
“Tidak.” Kalila menjawab tanpa ragu dan tanpa nada marah. “Bukan karena kamu mantan suamiku. Karena kalau kamu memesan, aku akan memasaknya dengan cemas.”
“Itu jawaban yang adil.” Keanu mengangguk. “Aku akan mencari katering lain.”
“Cari yang bagus.”
Mereka makan dalam diam sebentar. Bunyi sendok menyentuh porselen terdengar jelas di ruangan yang tinggi dan sepi. Kalila sendiri mengambil semangkuk kecil, dan lidahnya, sesuai dugaan, tidak mengatakan apa-apa. Tetapi tubuhnya merasakan kehangatan menjalar sampai ke bahu, dan dia membiarkannya.
“Kalila.” Keanu menaruh sendoknya. “Boleh aku tanya sesuatu? Bukan pertanyaan yang kusimpan untuk hari itu. Ini lain.”
“Tanyalah.”
“Pernahkah kamu bahagia bersamaku?”
Hening menjadi lebih berat. Di ujung meja, Mama menahan napas. Kalila menatap permukaan kuah di mangkuknya, bening, tidak memantulkan apa pun selain lampu gantung.
“Dua tahun pertama, ya.” Dia mengangkat wajah. “Aku bahagia. Jangan mengubah itu jadi dusta, Keanu. Jangan jadikan semua kenangan itu kebohongan supaya kamu lebih mudah membencinya. Itu bagian paling jujur dari kita, dan aku akan menjaganya.”
Mata Keanu memerah, tetapi dia tidak menangis. Dia mengangguk sekali, seperti orang yang menerima vonis yang ternyata lebih ringan dari bayangannya, dan justru karena itu lebih menyakitkan.
“Ada satu hal lagi yang harus kukatakan,” lanjut Kalila. Suaranya tidak keras, tapi tidak lagi bergetar. “Aku sudah memaafkanmu. Bukan karena kamu meminta, dan bukan karena kamu sakit. Aku memaafkanmu supaya aku ringan. Supaya aku tidak membawa kamu ke mana-mana. Bukan supaya kamu bisa masuk lagi.”
“Aku mengerti.”
“Kamu benar-benar mengerti?”
“Tidak sepenuhnya.” Keanu menatapnya jujur. “Tapi aku tidak akan berpura-pura. Itu satu hal yang bisa kulakukan sekarang.”
Mama berdiri tiba-tiba, mengambil poci teh yang belum disentuh, dan berjalan ke dapur dengan langkah terlalu cepat. Asti menyingkir memberi jalan tanpa suara.
Keanu menunggu sampai langkah itu menjauh. Kemudian dia berkata, lebih pelan:
“Mama sudah bilang. Aku boleh bertanya satu hal di hari terakhir iddahmu?”
“Boleh.” Kalila menatap sup di mangkuknya, bening dan tenang. “Jawabannya hanya akan keluar dari mulutku hari itu. Bukan hari ini, bukan lewat Mama, dan bukan lewat apa pun yang kamu baca dari wajahku.”