Teras belakang rumah Mama punya dua kursi rotan, satu meja kecil, dan lampu kuning yang selalu terlalu redup untuk membaca. Keanu memilih kursi yang menghadap taman, menyampirkan selimut tipis di bahunya, dan menunggu.
Julian datang pukul tujuh lewat sepuluh. Dia masih mengenakan kemeja yang sama dari pagi, lengan digulung sampai siku, dan berhenti di ambang pintu kaca seperti orang yang tidak yakin boleh melangkah lebih jauh. Dari dalam rumah, Mama melambaikan tangan dan menutup pintu geser dengan bunyi pelan. Itu cara Mama berkata: kalian berdua dewasa, selesaikan sendiri.
“Duduk,” kata Keanu.
Julian duduk di kursi yang satunya, memberi jarak dua langkah kaki, dan untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Jangkrik di taman bersahutan tanpa peduli. Keanu memandang kolam kecil di ujung halaman, tempat dulu dia dan Julian pernah berebut menangkap ikan mas dan sama-sama masuk ke air sampai basah kuyup, lalu dimarahi berdua. Dia hampir lupa kenangan itu masih ada.
“Terima kasih untuk kemarin,” katanya akhirnya.
“Itu pekerjaanku.”
“Kamu bisa membiarkan rekanmu yang mengambil dari awal. Kamu tidak harus menyentuh brankar itu.”
“Aku tidak bisa membiarkan orang pingsan menunggu hanya karena aku tidak nyaman.” Julian menatap taman. “Itu bukan kebaikan. Itu etika.”
Keanu mengangguk pelan. Dia menarik selimut lebih dekat, dan jarinya terasa dingin walaupun malam itu tidak dingin.
“Kamu makan hari ini?” tanya Julian. Bukan sebagai dokter, tetapi dengan nada orang yang menanyakan sesuatu karena merasa harus.
“Bubur. Tiga sendok lebih banyak dari kemarin, kata Mama. Dia menghitung.”
“Tiga sendok itu tiga sendok.” Julian mengangguk. “Jangan diremehkan.”
“Kamu sudah mulai terdengar seperti dokter.”
“Aku memang dokter.”
Keanu nyaris tersenyum. Dia menyingkirkan senyum itu sebelum sempat jadi, lalu bertanya, “Kamu tidak memberi tahu dia.”
“Tidak.”
“Kenapa? Kamu bisa menang dari situ.”
“Aku tidak sedang bertanding, Keanu.” Julian menoleh. Matanya yang biru keabu-abuan tidak dingin kali ini, hanya capek. “Kamu minta aku tidak memberi tahu, dan itu bukan milikku untuk dibagikan. Itu saja.”
Keanu menunduk, menatap botol air mineral yang tadi Mama taruh di meja dan belum dia sentuh. Ada banyak kalimat yang sudah dia latih sepanjang sore, dan semuanya hancur begitu dia melihat wajah Julian di bawah lampu kuning. Dia memilih kalimat yang paling kasar karena itu satu-satunya yang jujur.
“Kamu mencintainya sejak sebelum aku menikahinya.”
Julian tidak berkedip. Dia tidak menyangkal dan tidak membenarkan dengan terburu-buru. Dia hanya diam seperti orang yang membiarkan pertanyaan itu sampai ke dasar sebelum menjawabnya.
“Ya.”
Satu kata. Keanu menahannya di dada seperti menahan napas.
“Berapa lama?”
“Lima tahun.”
“Lima tahun.” Keanu mengulang angka itu pelan, seperti mencicipi sesuatu yang tidak bisa dia cicipi. “Aku bahkan tidak sanggup bertahan lima hari tanpa menuduh orang. Mama bilang kamu ada di akadku. Duduk di barisan keluargaku, dan aku tidak ingat pernah melihatmu.” Suara Keanu tidak naik, justru menurun. “Lalu kamu tidak datang ke resepsinya, dan kamu pergi lagi ke London.”
“Aku memang duduk di sana. Aku ingin melihatnya sah dan tenang, lalu pergi.”
“Kenapa tidak merebutnya?”
Pertanyaan itu terdengar lebih kejam di udara terbuka daripada di kepala. Keanu hampir menarik kembali, tetapi Julian sudah menjawab, dan jawabannya tidak keras.
“Karena aku bukan hakim yang memilihkan untuknya,” kata Julian, “dan aku bukan pencuri. Dia sudah memilih. Dia memilih kamu. Aku berdiri di barisan belakang karena aku ingin melihat dia bahagia, bukan karena aku berencana apa pun.”
Julian berhenti sebentar, memilih tidak menambah. Dia lebih sering menyimpan kalimat daripada melepasnya, dan Keanu sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu kalimat mana yang sedang dia simpan.
“Dan aku tidak membuatnya bahagia.”
“Aku tidak mengatakan itu.”
“Kamu tidak perlu mengatakannya.” Keanu tertawa pendek dan pahit, tanpa suara. “Aku mengatakannya sendiri setiap malam di ruang kerja. Dia sakit, dia kurus, dia tidur di kamar tiga kali tiga, dan aku tidak bertanya apakah ada yang perlu kuambilkan. Kamu, yang tidak pernah punya hak apa pun, justru yang menjaganya.”
“Aku menjaga dari jauh. Itu bukan keistimewaan. Itu hukuman yang kupilih sendiri.” Julian mengambil botol air dari meja, memutar tutupnya, dan menaruhnya lagi tanpa meminumnya. “Kamu dan aku bukan musuh, Keanu. Kita hanya sama-sama menjadi laki-laki yang terlambat belajar mendengar.”
Lampu kuning bergetar dalam embusan angin. Seekor cicak merayap di dinding di atas kepala mereka dan berhenti, seakan ikut menunggu. Dari dalam, samar terdengar denting piring yang dicuci, Mama sengaja membuat suara supaya mereka tahu dia tidak menguping.
“Kalau dia memilihmu,” Keanu mulai, dan suaranya nyaris pecah di kata terakhir, “aku tidak akan menghalangi. Aku bilang ini bukan karena aku sudah rela. Aku bilang ini karena aku tidak punya hak.”
Julian tidak menjawab. Dia menunggu.
“Kalau dia tidak memilihmu, dan tidak juga memilihku, itu urusan dia. Aku sudah minta izin lewat Mama untuk bertanya satu hal pada hari terakhir iddahnya. Satu pertanyaan. Dia bilang boleh. Aku tidak mau kamu mendengar itu dari orang lain dan mengira aku diam-diam bergerak.”
“Itu hakmu bertanya padanya,” kata Julian tenang.
“Kamu tidak keberatan?”
“Aku keberatan. Tetapi keberatanku bukan alasan yang cukup untuk melarangmu. Kamu suaminya selama tiga tahun. Kamu berhak memastikan kamu sudah mendengar jawabannya dari mulutnya sendiri.” Julian menarik napas pelan. “Dan aku tidak akan datang ke pintunya sebelum kamu selesai bertanya. Kalau dia memanggilku, aku datang sesudahnya, bukan sebelum. Aku tidak akan mencuri antrean.”
Keanu menatapnya lama. Ada sesuatu di wajah laki-laki ini yang selalu membuatnya marah sejak dulu: ketenangan yang tidak bisa dia tiru, yang dia kira dingin, padahal mungkin hanya sunyi yang dilatih. Malam ini ketenangan itu terasa seperti satu-satunya hal di taman yang tidak ikut goyah.
“Kamu ingat waktu SD?” tanya Keanu tiba-tiba. “Aku janji menjemputmu di gerbang sepulang les. Lalu aku main bola dan lupa.”
“Dua jam.” Julian menatap kolam. “Aku duduk di tepi trotoar sampai penjaga gerbang membawakan teh manis. Aku ingat teh itu lebih dari ingat kamu.”
“Kenapa kamu tidak pernah marah?”
“Aku marah. Dalam hati.” Sudut bibir Julian terangkat tipis, lalu turun lagi. “Tapi aku pikir kalau aku pergi, kamu akan datang dan tidak menemukan siapa-siapa. Jadi aku menunggu. Itu kebiasaanku. Datang lebih awal, menunggu lebih lama dari yang masuk akal. Buruk, kadang.”
“Dan kebiasaanku terlambat.” Keanu menunduk. “Dua kebiasaan yang saling menghancurkan.”
Angin membawa bau melati dari pagar. Keanu menghirupnya dalam-dalam, dan hidungnya melaporkan harum samar, tipis, jauh. Seperti suara dari ruangan sebelah.
“Julian.”
“Ya.”
“Jangan terlambat kalau kamu berjanji makan malam.” Keanu menelan ludah. Suaranya hampir tak terdengar. “Aku pernah tidak datang sama sekali. Aku tidak mau ada orang lain merasakan menunggu di meja itu.”
Julian tidak menjawab. Dia hanya meraih botol air yang tadi dipegangnya, membuka tutupnya, dan menaruh botol itu di tangan Keanu, menutup jari-jari yang dingin dengan telapaknya sebentar sebelum melepaskan.
“Minum,” katanya. “Dokter jaga bilang kamu kurang cairan.”