Mama membaca tiga baris hasil pemeriksaan itu empat kali, berharap salah satunya berubah.
Pagi itu kamar rawat yang dipilih sekretaris Keanu menghadap taman kecil di lantai tiga. Gordennya setengah terbuka, cahaya jatuh miring ke seprai putih, dan di tengah-tengahnya anak laki-lakinya berbaring dengan selang infus di lengan dan wajah yang lebih tirus dari kemarin. Internis jaga malam kemarin berdiri di kaki ranjang dengan map di tangan, bicara pelan dan lugas, seperti orang yang sudah belajar bahwa kabar buruk tidak butuh dihias.
“Dehidrasi sudah teratasi, Bu. Gula darah naik. Lambungnya iritasi berat, itu yang membuatnya jatuh kemarin. Tetapi dari riwayat dan pemeriksaan, saya melihat satu hal lagi.” Dia menoleh pada Keanu, meminta izin lewat tatapan. “Pak Keanu mengaku semua makanan terasa hambar sejak hampir empat bulan. Tidak ada kelainan yang bisa saya temukan di lidah, hidung, atau sarafnya. Kecenderungannya psikosomatis. Tubuh yang menolak merasakan sesuatu karena sesuatu yang lain belum selesai.”
“Psikosomatis,” ulang Keanu dari ranjang. Suaranya sudah lebih jernih, tapi ada getir yang tipis di bawahnya. “Julian menamai penyakit istriku dengan kata itu, empat bulan lalu, di kamar rawat seperti ini. Aku mengira dia melebih-lebihkan.”
“Mantan istri,” kata Mama, lembut tapi tegas.
“Mantan istri,” dia mengakui, dan memejamkan mata.
Internis itu berdeham. “Saya sarankan rawat dua hari lagi untuk observasi, lalu rujuk rawat jalan. Obat yang menyembuhkan ini belum ada. Yang membantu hanyalah makan teratur dan, kalau Bapak bersedia, bicara dengan seseorang.”
Seorang perawat masuk membawa nampan sarapan: bubur nasi, kuah bening, sepotong pepaya. Dia menaruhnya di meja geser dan mengangkat tutupnya, dan uap tipis naik membawa bau hangat yang membuat perut Mama sendiri berbunyi. Keanu hanya melirik nampan itu seperti orang yang melirik papan nama toko di kota yang tidak dia kenal.
“Dimakan, Nak,” kata Mama.
“Nanti, Ma.”
“Sekarang. Mama duduk di sini sampai habis.”
Keanu tidak membantah. Itu saja sudah membuat Mama bertanya-tanya sejak kapan anaknya berhenti membantah.
“Saya pulang hari ini.”
“Pak...”
“Hari ini.” Keanu membuka mata. Ketegasannya tinggal tulang, tetapi tulang itu masih berdiri. “Saya tidak akan pingsan lagi. Saya janji makan. Tiga kali sehari, dengan Mama sebagai saksinya.”
Internis itu menoleh pada Mama. Mama menatap anaknya lama, lalu mengangguk pada dokter. “Biar dia pulang ke rumah Mama, bukan ke rumahnya. Biar Mama yang mengawasi.”
“Baik, Bu. Saya buatkan surat jalannya.”
*
Mama keluar dari kamar membawa map itu dan mendapati Julian berdiri di lorong, tidak jauh dari pintu, dengan punggung menempel di dinding dan tangan terlipat di dada.
Dia tidak berseragam jaga lagi. Jas dokternya terlipat di lengan, kemeja biru mudanya kusut, matanya cekung sehabis begadang, tetapi dia berdiri tegak seperti orang yang tidak berniat pergi sebelum diminta. Di tangan kanannya hanya sebuah gelas kertas berisi kopi yang sudah dingin.
“Kamu belum pulang.”
“Menunggu, Mbak. Kalau ada yang bertanya.” Julian menegakkan badan. “Bagaimana dia?”
Mama mengulurkan map itu. “Baca. Mama mengizinkan. Keanu juga tidak keberatan, tadi Mama tanya lewat tatapan.”
Julian menerima map itu tanpa berkata apa-apa. Dia membaca tiga baris itu sekali, tidak lebih, dan Mama memperhatikan wajahnya. Kemenangan tak terlihat di sana, juga rasa puas atau pembenaran. Rahangnya hanya mengatup sedikit, seperti seseorang yang membaca nama sendiri di daftar yang tak pernah ingin dia masuki.
“Sesuai dugaanku,” katanya pelan, kemudian menyerahkan kembali map itu. “Hanya itu yang akan kubaca, Mbak. Bagian selanjutnya wewenang rekanku.”
“Kamu ahli di bidang ini. Mama tahu itu. Kalau kamu mau menyarankan sesuatu, Mama akan mendengar.”
“Karena itu aku tidak akan.” Julian menggeleng. “Kalau aku bicara sekarang, Keanu akan mendengarnya sebagai laki-laki yang menang. Dan Kalila...” Dia berhenti, menelan nama itu, lalu mengulang dengan nada lebih rendah. “Aku tidak mau ada bagian dari ini yang bisa disebut campur tanganku.”
“Kamu tidak memberi tahu Kalila?” tanya Mama, hampir berbisik.
“Tidak, Mbak. Dan tidak akan, kecuali Mbak atau Keanu yang meminta.”
“Keanu meminta kamu merahasiakannya, bukan?”
“Dia meminta, ya. Aku tidak berjanji. Itu bedanya.” Julian menatap gelas kertas di tangannya. “Kalau suatu hari Kalila bertanya padaku langsung, aku tidak akan berbohong. Tetapi aku juga tidak akan berjalan ke vila itu membawa kabar yang bukan milikku.”
Mama memandangnya. Laki-laki di depannya adalah adik iparnya, yang dulu sering dia kejar-kejar di halaman ketika Keanu masih sebesar lutut, yang sekarang mengajarinya apa artinya menahan diri. Dua orang laki-laki di keluarga ini, yang satu tak pernah belajar menunggu dan yang satu tak pernah belajar meminta, dan keduanya jatuh cinta pada perempuan yang sama. Mama menahan keinginan memeluk salah satunya.
“Kamu lelah,” katanya akhirnya.
“Aku baik-baik saja.”
“Itu jawaban orang yang tidak baik-baik saja.” Mama menepuk lengan Julian, singkat, kemudian berbalik masuk kamar.
*
Sore itu Keanu duduk di ruang makan rumah Mama dengan semangkuk bubur yang uapnya sudah menipis. Dia makan pelan, sendok demi sendok, dan Mama duduk di seberang, memperhatikan tanpa menatap. Jam tegak di sudut ruangan berdetak lebih lambat daripada jam mana pun, dan untuk sekali itu Mama bersyukur karena detik-detik terasa panjang.
“Aku bisa merasakan panasnya, Ma,” kata Keanu tiba-tiba. “Sama seperti kemarin. Hanya panas.”
“Dokter bilang itu butuh waktu.”
“Dokter bilang banyak hal.” Keanu menyuap lagi. Kali ini dia menelannya dengan susah payah, seperti orang yang menelan pertanyaan dan bukan bubur.
“Ma.”
“Ya?”
“Mama sudah tahu soal Julian dan Kalila. Sejak kapan?”
Mama meletakkan serbet. Tangannya sedikit gemetar. Dia memilih untuk tidak berbohong, dan merasa itu satu-satunya hal yang bisa dia berikan kepada anaknya hari ini.
“Sejak Eyang bertanya langsung kepada Julian di rumahnya, waktu foto-foto itu beredar. Julian bilang dia mencintai Kalila sejak sebelum kamu menikahinya.”
Sendok di tangan Keanu berhenti di udara. Hanya sebentar. Kemudian dia menurunkannya, pelan, dan menaruhnya di sisi mangkuk.
“Sebelum aku menikahinya.”
“Dia tidak pernah melangkahi garis. Itu yang Eyang dan Mama pastikan sendiri.”
“Aku percaya.” Keanu menatap tangannya. “Aku mendengarnya sendiri di lobi, Ma. Dia bilang dia akan terbuka setelah palu dan iddah. Aku mengira itu ancaman. Ternyata itu janji.”
“Keanu...”
“Mama tolong panggil dia malam ini.” Keanu mengangkat wajah. Matanya cekung, tetapi tak ada kebencian di sana, dan hal itu yang membuat dada Mama sesak. “Ke teras. Aku butuh udara dan aku butuh bicara dengannya. Sebentar saja. Tanpa pengacara dan tanpa suara tinggi.”