Julian sedang menjahit luka di dagu seorang pengendara motor ketika perawat jaga memanggil dari balik tirai. Sejak Eyang menelepon Kamis lalu hanya untuk mengabarkan bahwa Dania sudah datang ke vila dan pulang lagi, dia berhasil tidak mendengar kabar lain tentang vila di belakang panti, dan malam Rabu itu kabar tersebut masuk sendiri lewat pintu IGD.
“Dok, brankar masuk. Laki-laki tiga puluh tiga tahun, pingsan di ruang rapat, tekanan darah delapan puluh per lima puluh. Sekretarisnya yang bawa.” Perawat itu ragu sedetik. “Namanya Syailendra, Dok.”
Jarum di tangan Julian berhenti. Hanya sedetik, tetapi perawat itu melihatnya.
“Selesaikan jahitan ini,” katanya kepada dokter muda di sebelahnya, menyerahkan nampan, lalu melepas sarung tangan. “Saya ambil yang baru.”
Keanu terbaring di brankar dengan kemeja yang kancing atasnya sudah dibuka seseorang. Wajahnya abu-abu, bibirnya kering pecah, dan matanya terpejam dengan kelopak yang bergetar seperti orang yang tidak sepenuhnya pingsan, tidak sepenuhnya sadar. Di sisi brankar, seorang perempuan paruh baya berblazer biru tua berjalan setengah berlari sambil menggenggam ponsel dan tas kerja, napasnya tersengal.
“Dokter, saya sekretaris Pak Keanu. Beliau sudah tidak sarapan dua hari, bahkan lebih. Tadi di rapat, tiba-tiba berhenti bicara, lalu jatuh dari kursi.” Suaranya bergetar. “Pak Julian... maksud saya, Dokter Julian, ya?”
“Saya yang bertugas malam ini.” Julian sudah memeriksa denyut nadi di pergelangan Keanu. Cepat dan lemah. “Ibu sudah menghubungi keluarganya?”
“Ibunda beliau. Sudah dalam perjalanan.”
“Baik.” Julian memeriksa lembar yang diserahkan perawat: gula darah rendah, tekanan masih rendah, tanda dehidrasi di kulit dan bibir. “Sejak kapan Pak Keanu tidak makan dengan benar?”
“Sejak berbulan... ah, saya sendiri tidak yakin, Dok.” Sekretaris itu meremas tali tasnya. “Saya taruh makan siang di mejanya tiap hari. Pulangnya selalu masih utuh. Waktu saya tanya, katanya semua makanan rasanya seperti kardus.” Dia menelan ludah. “Apa perlu saya kabari Ibu Kalila, Dok? Saya tidak tahu apakah boleh.”
Ada kalimat yang sudah naik ke ujung lidah Julian, dan dia menahannya. “Itu bukan keputusan saya, Bu. Tolong tunggu di sini sampai keluarganya datang.”
Dia bekerja dengan tangan yang tenang dan kepala yang berisik. Infus dipasang di lengan kiri, cairan mengalir deras. Pemeriksaan darah dikirim. Obat penurun asam lambung disuntikkan lewat selang. Ketika Julian melonggarkan ikat pinggang Keanu untuk memeriksa perutnya, dia melihat kulit ikat pinggang itu sudah dipakai di lubang yang paling ujung, sementara lubang aslinya masih terlihat jelas, tiga angka lebih longgar. Orang yang tubuhnya menyusut tiga lubang dalam beberapa pekan tidak bisa disebut lalai makan. Julian tahu betul pola ini dari pasien-pasien yang pernah dia tangani: tubuh yang berhenti percaya pada makanan karena lidahnya berhenti percaya pada dunia. Dan dia tahu juga bahwa kali ini dia tidak boleh menamainya.
Dia tidak mengatakan apa pun soal itu. Dia hanya mencatat, lalu menutup lembar catatan itu seperti menutup pintu yang bukan miliknya.
“Tekanan darah sembilan puluh per enam puluh,” lapor perawat. “Naik.”
“Teruskan. Tambah satu kantong.” Julian memeriksa pupil Keanu dengan senter kecil, dan saat cahaya menyapu matanya, Keanu mengerang pelan dan membuka kelopak. Sepasang mata elang yang dulu menantang Julian di lobi apartemen kini keruh, dan butuh tiga detik penuh untuk menemukan fokus. Pada detik keempat mata itu mengenalinya, dan yang Julian lihat di dalamnya bukan marah. Itu malu.
*
“Julian.”
Suaranya parau seperti kertas yang diremas. Julian menunduk lebih dekat. “Aku di sini. Kamu di IGD. Kamu pingsan, dehidrasi, dan lambungmu sedang protes. Jangan banyak bicara.”
“Kenapa... kamu yang...” Keanu menelan ludah dengan susah payah. “Aku tidak mau kamu yang...”
“Aku tidak akan jadi dokter kamu.” Julian menaruh telapak tangan di sandaran brankar, menjaga jarak yang cukup. “Aku hanya memastikan kamu stabil. Begitu stabil, kamu diserahkan ke internis jaga. Rekanku itu pintar dan lebih sabar dari aku.”
Keanu menatap langit-langit sebentar. Napasnya pendek, bukan karena sakit, tapi karena sesuatu yang lebih berat sedang naik ke dadanya dan dia belum menemukan jalan untuk menurunkannya.
“Kalau dia... kalau Kalila...”
Julian tidak bergerak.
“Jangan beri tahu dia.” Jari Keanu mencengkeram tepi seprai. “Jangan. Aku tidak mau dia datang karena kasihan. Aku tidak mau dia... merasa harus.”
Sejak mereka bertengkar di rumah Keanu dan di lobi apartemen, Julian belum pernah mendengar keponakannya meminta sesuatu tanpa nada memerintah. Dia merasakan sesuatu mengeras di tenggorokannya.
Dia tidak menjawab. Dia mengambil gelas berisi serpihan es dari meja, menaruh sepotong kecil di bibir Keanu yang pecah, dan berkata singkat, “Istirahat. Itu perintah dokter jaga, bukan pamanmu.” Itu saja. Dia tidak berjanji dan tidak menolak, karena dia tahu apa pun yang dia jawab sekarang akan menjadi hutang atau tuduhan nanti.
Internis jaga datang beberapa menit kemudian, bergegas dengan jas yang belum dikancingkan. Julian menjelaskan kondisi singkat dengan bahasa yang lugas: dehidrasi, tekanan rendah, lambung teriritasi, riwayat makan yang buruk. Dia berhenti pada satu kalimat dan mengganti kalimat itu sebelum sempat terucap.
“Aku rasa dia perlu dirawat satu malam,” katanya akhirnya. “Selebihnya kamu yang putuskan. Aku tidak mau menjadi dokternya.”
Rekannya mengangkat alis. “Alasannya?”
“Ada hubungan keluarga.”
“Siap. Aku ambil.” Rekannya menepuk bahu Julian sekali, tahu lebih banyak dari yang dia tanyakan.
*
Mama tiba pukul sebelas kurang sedikit. Julian mendengar sandalnya lebih dulu, gesekan cepat di lantai koridor, lalu melihatnya di ujung lorong: kebaya rumah yang dikancing tergesa, selendang tersampir tidak rapi, kerudung tak dikenakan, rambut abu-abu yang biasanya tersanggul sempurna kini lepas di sisi telinga.
“Keanu?”
“Stabil, Mbak.” Julian mengangkat tangan menahan langkahnya. “Dehidrasi dan lambung. Tidak ada yang mengancam nyawa. Dia sedang tidur sekarang, infus masih masuk.”
Mama memejamkan mata dan bersandar pada dinding, seperti orang yang mendapati kakinya baru mulai bisa dipercaya. “Mama tidak menyangka separah itu.”
“Dia belum benar-benar makan sejak beberapa hari. Dan sudah lebih lama dari itu dia tidak benar-benar tahu apa yang dia makan.” Julian berbicara pelan, memilih kata. “Besok pagi internis akan menjelaskan lebih lengkap. Aku hanya menstabilkan.”
“Kamu tidak mau merawatnya?”
“Aku tidak bisa, Mbak. Bukan hanya karena dia keponakanku. Kalau aku dokternya, setiap keputusan akan dibaca sebagai sesuatu yang lain, termasuk oleh dia.” Julian menatap ke arah tirai tempat Keanu tidur. “Dia tadi sempat bicara. Setengah sadar.”
Mama menegakkan badan. “Bicara apa?”
Dia bisa memilih. Dia bisa berkata dengan jujur atau tidak berkata apa pun. Dua-duanya terasa seperti pengkhianatan kepada orang yang berbeda.
“Dia minta aku tidak memberi tahu Kalila,” kata Julian akhirnya. “Aku tidak berjanji. Dan aku juga tidak akan memberi tahu.” Dia menatap mata Mama yang merah. “Bukan aku yang berhak memberi tahu atau menyembunyikan. Itu urusan keluarga ini dan urusan Kalila. Aku hanya dokter yang kebetulan sedang jaga.”