Kamis sore, Kalila menata dua kursi rotan dan satu bangku kayu di teras vila, lalu memindahkan bangku itu tiga kali.
“Ibu mau mereka duduk berhadapan atau berdampingan?” tanya Asti dari ambang pintu, membawa baki berisi teko dan tiga cangkir.
“Berdampingan terasa seperti rapat keluarga. Berhadapan terasa seperti sidang.” Kalila memandang dua pilihan itu, lalu mengangkat bahu. “Biarkan saja miring sedikit. Biar mereka yang memilih.”
“Asamnya masih ada, Bu?”
“Masih.” Kalila mengambil seiris jeruk dari piring kecil di meja teras dan menggigit ujungnya, hanya untuk memastikan. Sengatan itu datang tepat waktu, setia seperti tetangga yang selalu menyapa dari pagar. “Enam hari. Dia tidak pergi.”
“Mama belum Ibu kabari?”
“Sesudah Kamis ini. Kalau sore ini berantakan dan rasanya ikut hilang, aku tidak mau Mama ikut kecewa.” Kalila menaruh potongan jeruk itu kembali. “Asti, kalau aku mendadak diam, jangan ajak bicara. Aku sedang mencari kalimat.”
“Saya tahu, Bu.”
Sejak seiris jeruk nipis di dapur itu, Kalila belum menemukan satu rasa baru pun. Teras itu menghadap ke taman sepi yang memisahkan vila dari pagar panti. Rumput di sana sudah dipotong, dan pohon sawo di sudutnya menjatuhkan bayang-bayang panjang ke papan lantai. Dulu, ketika orang tua Kalila masih ada, di sinilah ayahnya membaca koran dan ibunya memotong sawo dengan pisau kecil. Kalila menatap papan lantai itu, mencari bekas yang tidak ada.
Taksi putih berhenti di gerbang pukul empat kurang lima. Ibu Tanto turun lebih dulu dengan tas anyaman di lengan, kerudung krem yang sama, dan gerak kecil yang tidak berubah sejak Kalila melihatnya terakhir. Di belakangnya, perlahan, Dania.
Kalila nyaris tidak mengenalinya. Tidak ada gaun terusan yang berkibar, tidak ada rambut yang dikeriting rapi, tidak ada gincu. Dania memakai gamis kelabu sederhana, rambutnya diikat ke belakang, wajahnya pucat tetapi bersih, dan dia berjalan seperti orang yang menghitung tiap langkah supaya tidak tersandung. Di anak tangga paling bawah dia berhenti, tidak naik, sampai Ibu Tanto menoleh dan Kalila mengangguk kecil.
Mereka duduk. Teh dituang. Asti mundur ke ujung teras dengan alasan menyiram pot, dan sengaja menyiramnya lama sekali.
“Terima kasih sudah mau menerima kami, Nak,” kata Ibu Tanto lebih dulu. “Ibu tidak akan bicara banyak. Ini bagian Dania.”
Dania menaruh kedua tangannya di pangkuan. Jemarinya saling meremas, putih di buku-bukunya. Dia membuka mulut dua kali sebelum suaranya keluar, dan ketika keluar, suara itu bukan suara manja yang dulu Kalila dengar di ruang tamu Syailendra. Itu suara perempuan yang sedang belajar bicara tanpa bantuan siapa pun.
“Aku tidak akan minta kamu bilang tidak apa-apa. Aku sudah menuliskan banyak kalimat, tapi dokterku bilang kalau terlalu rapi, itu bukan permintaan maaf, itu pidato. Jadi aku bilang apa adanya.” Dania menarik napas. “Aku tahu alergiku ringan, Kalila. Sejak kecil. Hari di martabak itu aku sudah tahu aku bisa menolak, dan aku tetap memakannya. Aku bohong waktu bilang aku tidak sadar.”
Kalila menunggu. Dia tidak menyela, tidak menunduk, dan tidak menyodorkan apa pun yang bisa dipakai Dania sebagai pegangan.
“Obatku kutinggal di apartemen. Bukan lupa. Aku pikir kalau aku sakit, Keanu akan tinggal. Dia selalu tinggal.” Suaranya pecah di kata terakhir, lalu dia memaksanya kembali utuh. “Aku tidak pernah ingin kamu celaka. Aku hanya tidak mau sendirian. Tapi itu tidak pernah jadi alasan yang cukup untuk membuat orang lain merasa bersalah atas sesuatu yang bukan salah mereka. Foto itu juga. Semua yang naik ke internet atas namaku, atau yang kubiarkan orang menyebarkannya.”
Hening, hanya terdengar siraman air dari ujung teras dan suara anak-anak panti di kejauhan.
“Boleh aku bertanya satu hal?” Kalila menaruh cangkirnya. “Waktu Keanu bertanya kenapa, kamu bilang karena aku tidak pernah kelihatan menderita. Apa maksudnya?”
Dania lama menatap kuku-kukunya yang dipotong pendek. “Aku iri, Kalila. Kamu bisa diam. Kamu menahan semuanya di dalam seperti lemari berpintu rapat, dan Keanu tetap tenang karena menyangka lemari itu kosong. Aku tidak pernah bisa begitu. Kalau aku sakit, semua orang harus tahu. Kalau kamu sakit, tidak ada yang tahu.” Dia tersenyum getir. “Aku mengira diam itu kekuatan. Ternyata diam itu cara lain untuk tidak ditolong.”
Kalila tidak menanggapi. Kalimat itu mengenai tempat yang sudah lama tidak dia sentuh, dan dia membiarkan kalimat itu tinggal sebentar sebelum menepisnya.
“Dania.” Gerakan tangannya sendiri terasa lebih pelan daripada biasanya. “Aku dengar semuanya.”
“Itu saja yang kuharapkan.”
“Aku tidak akan bilang itu tidak apa-apa. Itu apa-apa. Aku sempat dituduh meracuni orang, dan sempat kehilangan hampir semua klien karena foto yang kamu ambil dari sebuah folder.” Kalila memandang lurus. Tidak keras, hanya jelas. “Tapi aku sudah tidak membawa itu ke mana-mana. Aku memaafkanmu.”
Bahu Dania turun, seperti beban yang sudah terlalu lama dia pikul di atas tulang yang terlalu kecil. Ibu Tanto memejamkan mata sebentar.
“Tapi ada syaratnya,” lanjut Kalila. “Aku tidak mengundangmu kembali ke hidupku. Kamu tidak akan datang tanpa kuminta, tidak akan mengirim bunga, dan tidak akan mengirim pesan manis yang kubalas karena sungkan. Dan kamu berobat sampai selesai. Bukan sampai kamu merasa baik. Sampai dokter bilang cukup.”
“Aku janji.”
“Jangan janji kepadaku. Janjilah kepada dirimu yang bangun jam tiga pagi tidak tahu mau minta tolong siapa.”
Dania tersenyum, kecil dan basah. “Itu kalimat dokterku juga.”
“Kalau begitu dokternya benar.”
Ibu Tanto bangkit dan, tanpa permisi, memeluk Kalila. Pelukan perempuan tua yang kurus dan tangannya kapalan, kuat tanpa terlihat kuat. Bau minyak kayu putih menempel di kain kerudungnya. “Terima kasih, Nak. Dari Tanto, kalau dia bisa bilang sendiri.”
Kalila tidak menjawab. Dia hanya menepuk punggung perempuan itu dua kali, ringan, seperti Eyang pernah menepuk tangannya.
*
Taksi itu menunggu di gerbang dengan mesin menyala. Ibu Tanto sudah masuk lebih dulu, sibuk dengan tas anyamannya, ketika Dania berhenti di sisi pintu dan berbalik. Kalila berdiri di ujung jalan setapak, Asti di belakangnya, dan angin sore menggerakkan ujung gamis Dania.
Dania menurunkan kaca jendela. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu yang selama ini ditahan, entah sudah berapa lama.
“Kalila.”
“Ya?”
“Keanu mencintaimu.” Suaranya datar, tanpa dendam, tanpa air mata. “Bukan aku. Aku sudah tahu sejak lama. Aku hanya tidak mau mengakuinya.”
Kalila membuka mulut, dan tidak ada yang keluar. Jalan setapak itu mendadak terasa panjang. Di belakangnya Asti menahan napas, dan dari panti terdengar lonceng kecil tanda makan sore.
Kaca jendela naik pelan. Taksi itu bergerak, meninggalkan debu tipis dan wajah di balik kaca yang tidak menoleh lagi.