“Bu, perasan jeruk nipisnya masih kurang dua sendok?”
Juru masak muda itu mengangkat mangkuk kecil berisi sambal terasi yang merah pekat. Keringat menetes di pelipisnya, bukan karena panas kompor, tetapi karena dia belum terbiasa dengan dapur yang tak punya bos besar di belakangnya, hanya Kalila dan Asti dan sebuah buku catatan. Pesanan hari Jumat ini empat puluh porsi pepes ikan untuk sebuah pengajian, dan sambalnya belum jadi.
“Biar aku lihat.” Kalila melap tangan di celemek.
Dua belas hari sudah lewat sejak Mama menuruni tangga teras sendirian. Dua belas hari yang diisi seperti hari-hari sebelumnya: menimbang, mengiris, memeriksa tiap takaran dengan buku catatan di sebelah kompor. Dapur kecil di vila ini kini punya ritme. Pukul lima dia bangun, pukul enam Asti datang dengan motor, pukul tujuh dua staf lainnya tiba. Pagi ini pun sama. Satu butir garam di ujung lidah, seperti anjuran dokter pengganti, dan lidahnya melaporkan apa yang selalu dilaporkannya akhir-akhir ini: kosong.
Dia mengambil sepotong jeruk nipis dari baskom, mengirisnya menjadi bulan sabit tipis, dan menggigit ujungnya. Kebiasaan lama. Setiap kali memeriksa sambal dia selalu menggigit jeruk nipis dulu untuk menyetel lidahnya sebelum mencicip yang lain. Dia tidak berharap apa pun. Dia melakukannya karena tangan lebih ingat daripada kepala.
Sesuatu menyengat.
Rahangnya mengatup sendiri. Seluruh sisi lidahnya berdenyut, air liur memancar tiba-tiba, dan kepalanya refleks menunduk. Dia menutup mulut dengan punggung tangan.
“Asam,” katanya.
Dapur itu mendadak sunyi. Juru masak muda berhenti mengaduk. Asisten pengantar, yang sedang membungkus pepes dengan daun pisang, mengangkat kepala. Asti, di ujung meja, menjatuhkan sendok sayur ke dalam panci dengan bunyi yang jauh lebih nyaring dari seharusnya.
“Bu?”
“Asam,” ulang Kalila. Suaranya kecil, dan dia tidak yakin itu suaranya sendiri. “Ini asam sekali. Asti, ini asam, kan?”
“Itu jeruk nipis, Bu.” Asti mengitari meja dengan langkah terlalu hati-hati. “Memang asam.”
Kalila menatap potongan jeruk di tangannya. Bekas gigitannya menetes bening. Dia menggigitnya sekali lagi, lebih berani, dan membiarkan sengatan itu menjalar sampai ke belakang kepala. Matanya berair. Dia tidak menangis. Matanya hanya berair seperti orang yang bersin.
“Ibu kenapa?” tanya juru masak muda, bingung. “Jeruknya busuk?”
“Jeruknya bagus. Jeruknya sangat bagus.” Kalila nyaris tertawa. “Kamu tambah satu sendok perasan di sambal itu, jangan lebih. Dan kalian bertiga, tolong jangan bilang apa-apa ke luar sebelum aku mengizinkan.”
“Ke Mama juga tidak, Bu?” tanya Asti pelan.
“Nanti.” Kalila meletakkan jeruk itu di tatakan. “Aku mau yakin dulu. Kalau besok aku bilang, lalu hilang lagi, aku tidak sanggup melihat wajah Mama.”
*
Asam itu tidak hilang sampai siang.
Dia mengujinya hati-hati, seperti menguji es tipis di danau. Sesudah pepes terakhir terbungkus dan ketiga staf makan di teras belakang, Kalila berdiri sendirian di dapur dan mencicipi hal-hal kecil. Cuka dari botol. Air perasan lemon dari kulkas. Sebutir asam jawa yang dia remas di ujung jari. Semuanya asam, dengan ketajaman yang sama, seperti bertemu kawan lama yang dulu pergi tanpa pamit.
Garam masih hilang. Manis masih hilang. Gurih dan pahit masih menjadi dua nama yang dia hafal tanpa isi. Hanya satu pintu yang terbuka, dan itu pun hanya celah.
Asti menyusulnya sambil membawa dua gelas teh. “Ibu cicip yang ini juga?”
“Teh melati tawar, Asti. Saya sudah coba tadi. Tidak terasa apa pun.”
“Tapi kalau Ibu perasan jeruk?”
Kalila menatapnya. Asti, dengan wajah polos yang sudah menemaninya sejak studio pertama, menuang setetes perasan ke gelas itu, dan Kalila menyesapnya. Sengatan asam yang lembut, tipis, tertahan di balik hangat.
“Kenapa tiba-tiba?” gumam Kalila. “Tidak ada yang berubah. Aku tidak bertemu siapa-siapa dua pekan ini. Tidak ada kabar baru, tidak ada permintaan maaf yang kuterima. Hanya Mama datang dua belas hari lalu, kami bicara terus terang, dan malamnya aku tidur sampai pagi.”
“Mungkin itu yang berubah, Bu.” Asti memeluk gelasnya. “Ibu tidur.”
“Dokter pengganti bilang rasaku naik turun mengikuti ketenangan. Aku tidak pernah percaya. Ketenangan itu hadiah untuk orang yang sudah menang.”
“Atau hasilnya kalau Ibu berhenti mengawasi diri sendiri seperti penjahat.” Asti buru-buru menunduk. “Maaf, Bu, saya kelewatan.”
“Tidak. Kamu mungkin benar.”
Dari pintu belakang terdengar langkah kaki kecil yang tergesa. Bocah berhidung beringus dari panti itu menyembulkan kepala, napasnya putus-putus, satu sandalnya terbalik.
“Kak Kalila, kata Bu Pengurus, kalau ada sisa pepes, Bapak yang jaga gerbang mau.”
“Sisa belum ada. Tapi ada yang lain.” Kalila mengambil seiris jeruk nipis dan mengangkatnya seperti hadiah. “Tes berani. Siapa yang berani menggigit ini, dapat satu pepes pertama.”
“Aku berani!” Anak itu menggigit sebelum Kalila selesai bicara. Wajahnya langsung menyempit, mata terpejam rapat, lidah terjulur, dan seluruh tubuh kecilnya bergidik dari kepala sampai ujung sandal. “Asaaam!”
Kalila tertawa. Pendek, kering, tidak terlatih, tetapi benar-benar tertawa. Asti berpaling pura-pura mengelap meja.
“Kakak kenapa ketawa?”
“Karena wajahmu lucu.” Kalila mengusap rambut anak itu dengan ujung jari yang masih beraroma jeruk. “Sudah, bilang ke Bu Pengurus, pepesnya Kakak antar sendiri nanti sore.”
Setelah anak itu berlari pergi, Kalila baru menyadari tangannya gemetar sedikit. Bukan karena takut. Dia hanya belum siap dengan betapa mudahnya sebuah rasa bisa membuat segalanya terasa hidup, dan betapa tak rela dia kehilangannya.
Ponsel Asti bergetar di meja. Dia mengangkatnya, mendengarkan sebentar sambil melirik Kalila, lalu menutup telepon dengan hati-hati. “Bu, itu Ibu Tanto. Beliau dapat nomor saya dari Mama. Beliau minta izin datang ke sini, membawa Mbak Dania, kalau Ibu bersedia. Kalau tidak, katanya tidak apa-apa dan tidak akan memaksa.”
Kalila tidak langsung menjawab. Dia memandang tulisan di dinding dapur, Senin. Hari ke-90, yang kini tampak hampir seperti ukiran. Dania. Nama itu masih terasa seperti kerikil di sepatu. Dia tidak membenci perempuan itu lagi, tetapi tidak membenci belum berarti ingin menerima.
“Kapan?”
“Terserah Ibu, asal bukan akhir pekan, supaya tidak mengganggu panti.”
“Kamis,” kata Kalila. “Kamis sore, di teras, bukan di dapur. Dan kamu tetap di dekat kami.”
“Pasti, Bu.”
*
Malam itu, sesudah semua staf pulang dan lampu depan padam, Kalila kembali ke dapur. Dia tidak berencana memasak. Tangannya yang bergerak lebih dulu: membuka kulkas, mengeluarkan ayam kampung yang tadi pagi dia beli di pasar, lalu serai, jahe, dan sekantong jeruk nipis.
Sup ayam kampung. Bukan sup bening ala dapurnya yang berbumbu minimal. Sup yang lain, yang dulu sering dia buat di dapur besar rumah Syailendra untuk seseorang yang suka mengeluh tenggorokannya gatal setiap kali hujan turun. Sup yang selalu dia akhiri dengan dua sendok makan perasan jeruk nipis, setelah api dimatikan.
Dia mengiris jeruk itu, memerasnya ke mangkuk kecil, dan menakarnya dengan sendok. Satu. Dua. Lalu dia berhenti dengan sendok terangkat, memandang cairan kuning pucat yang menetes pelan.
Dia tidak tahu kenapa dia membuat sup ini. Tak ada yang akan memakannya. Tak ada yang meminta. Tak ada alasan yang bisa dia sebut tanpa merasa konyol.
Tetapi tangannya sudah melakukannya, dan sup itu mengepul harum di panci. Kalila membiarkan dirinya menghirup uap itu lama-lama, tanpa mengusirnya, tanpa bertanya untuk siapa.