“Macet, Mas,” kata Mbok Darmi dari belakangnya. “Engselnya sudah lama tidak dibuka.”
Keanu mendorong pintu kamar pelayan itu dengan bahu sampai dia mengalah. Sejak Mama pulang dari vila membawa dua kalimat yang kini dia hafal seperti nomor telepon: dia boleh datang, aku tidak berjanji jawabannya. Sepekan itu dia bekerja, menandatangani berkas, menelan nasi di meja Mama, dan setiap malam menghindari satu koridor di rumahnya sendiri. Pagi ini dia berhenti menghindar.
Kamar itu tiga kali tiga meter, persis seperti yang tertulis di ingatannya yang dia kira sudah dia buang. Satu ranjang single dengan kasur tipis. Satu lemari plastik kosong yang pintunya miring. Satu jendela kecil di atas, terlalu tinggi untuk melihat apa pun selain potongan langit dan kabel listrik. Mbok Darmi sudah membereskan semuanya, bahkan menggulung seprai dan menaruhnya di ujung kasur, tetapi udara di dalam masih berbau sabun cuci murah dan sesuatu yang lebih halus, yang Keanu kenal sebagai bau rambut Kalila sehabis keramas.
Dia mengambil sapu dari lorong dan menyapu lantai yang sebenarnya sudah bersih. Tangannya butuh pekerjaan. Setelah itu dia duduk di tepi ranjang, dan ranjang itu berderit sedih di bawah bobotnya.
“Mas Keanu mau saya bantu?” Mbok Darmi muncul di ambang pintu dengan lap di bahu.
“Tidak, Mbok. Saya hanya ingin duduk di sini sebentar.”
“Sepekan lebih Mbak Kalila tidur di situ, Mas.” Suaranya tidak menuduh. Hanya menyebut angka. “Dia tidak pernah minta kasur yang lebih tebal.”
Keanu menunduk pada kakinya. Telapak sepatunya menyentuh lantai, sementara punggungnya baru separuh bersandar ke dinding, dan dia mengerti bahwa perempuan yang tidur di sini tidak sedang bertapa. Dia sedang menunggu seseorang mengetuk pintu. Dari sini suara dapur terdengar jelas: dentang panci pukul lima pagi, kipas penyedot yang mendengung. Dia pernah bangun jam lima karena kopi arabika delapan puluh lima derajat sudah tersaji di meja. Dia tidak pernah bertanya, sekali pun, dari mana kopi itu datang dan siapa yang lebih dulu bangun.
Pintu lemari plastik itu setengah terbuka. Keanu menariknya, dan di sisi dalamnya, menempel dengan lakban cokelat yang sudah menguning di pinggir, ada selembar kertas bergaris. Tulisan tangan Kalila, rapi, dengan huruf tegak yang dia kenal dari catatan belanja di pintu kulkas: Pukul 04.30 bangun. 05.00 kopi, delapan puluh lima derajat. 05.30 bekal. 06.00 sarapan, tanya apakah jasnya sudah disetrika.
Daftar itu berhenti di baris keempat. Tidak ada tanda silang, tidak ada coretan. Hanya berhenti, seperti pekerjaan yang ditinggalkan di tengah jalan oleh orang yang tiba-tiba sadar dia tidak dibayar siapa pun.
Keanu tidak melepasnya. Dia menutup pintu lemari itu pelan-pelan, seolah isi di baliknya bisa terbangun.
Lalu dia berbaring, hanya sebentar. Langit-langit kamar itu retak di satu sudut, dan Keanu menatap retakan itu sampai matanya panas, lalu bangkit sebelum Mbok melihatnya.
“Mbok,” katanya dari ambang pintu. “Ajari saya membuat sup ayam kampung.”
*
Dapur itu terlalu besar untuk dua orang yang berdiri kaku di depan kompor. Mbok Darmi sudah menyiapkan semuanya di atas meja: ayam kampung yang dipotong kecil, serai yang digeprek, jahe, bawang putih, daun jeruk, dan sebuah mangkuk berisi jeruk nipis yang baru dibelah.
“Tidak usah ditumis, Mas. Direbus saja dulu ayamnya, yang bersih kaldunya.”
“Berapa lama?”
“Sampai dagingnya lepas dari tulang.” Mbok menunjuk panci. “Garamnya jangan sekaligus. Satu sendok teh, aduk, tunggu, baru tambah.”
Keanu menakar. Dia mengaduk dengan kehati-hatian yang pernah dia pakai untuk menandatangani kontrak bernilai miliaran. Uap naik dan menampar wajahnya, dan baunya samar sampai ke hidungnya, hangat dan bersahaja, seperti aroma rumah orang lain.
Ketika kaldu itu mendidih pelan, Mbok menyodorkan sendok. “Coba, Mas.”
Dia menyesap. Panas. Hanya panas, dan di bawah panas itu cairan yang licin di lidahnya. “Saya tidak tahu, Mbok.”
“Tidak apa-apa. Tambah garam setengah sendok. Terus nanti akhir-akhir, jeruk nipisnya dua sendok makan, jangan dididihkan, dimatikan dulu apinya.” Mbok memandang panci, bukan wajah Keanu. “Dua sendok. Itu rahasianya Mbak Kalila.”
Keanu menuang perasan jeruk nipis dengan sendok takar, mengaduk, dan menyajikan semangkuk untuk dirinya sendiri di meja dapur, tempat para pelayan dulu sarapan. Dia makan pelan. Dia merasakan tekstur ayam yang empuk, uapnya, dan bobot sup di perutnya. Hanya itu.
Mbok mencicip dari sendok kecil, mengerutkan dahi, lalu menahan senyum yang buru-buru dia padamkan.
“Asin, Mbok?”
“Asin sekali.” Mbok akhirnya tertawa pendek, tertahan. “Maaf, Mas. Tapi ayamnya empuk. Itu sudah bagus untuk yang pertama.”
“Saya sudah menakar.”
“Menakar sendok teh, tapi Mas menambah garam lagi tadi waktu saya ke kulkas.” Mbok menyeka tangannya di lap. “Mas menebak. Mas pakai ingatan lidah yang sudah tidak bisa dipercaya. Kalau lidah sedang tidak bisa dipercaya, ikuti takaran saja, jangan ditambah-tambah. Biar resepnya yang jalan, bukan kira-kira.”
Keanu memandang sendok takar di tangannya. Ada sesuatu yang aneh ketika dia menyadari bahwa itulah yang akan dikatakan seorang koki kepada dirinya sendiri di dapur lain, di tempat lain, pada hari-hari ketika dia pun tak bisa mengecap apa-apa.
“Mbok kira dia akan pernah mencicipi ini lagi?”
Mbok meletakkan sendoknya perlahan. “Mbak Kalila tidak akan pulang ke sini, Mas.”
“Saya tahu. Saya tidak bertanya tentang pulang.” Keanu memandang kuah di mangkuk, keruh dan terlalu pekat. “Saya hanya ingin tahu rasanya jadi orang yang menyiapkan, bukan orang yang menunggu disiapkan.”
*
Bel gerbang berbunyi menjelang pukul sebelas. Keanu menyangka itu kurir, tetapi yang berdiri di teras adalah Ibu Tanto dengan tas anyaman di lengannya, kerudung krem, dan sepasang sandal jepit yang sudah lama jadi bagian dari wujudnya.
“Ibu tidak mau duduk di ruang tamu,” katanya sebelum Keanu sempat mempersilakan. “Ibu mau ke dapur. Mbok Darmi bilang kamu sedang berantakan di sana.”
Mereka duduk berhadapan di meja pelayan. Ibu Tanto mencicip sisa sup dari panci tanpa diminta, mengunyah, dan menaruh sendok. “Garamnya kebanyakan, Nak.”
“Mbok juga bilang begitu.”
“Tapi kaldunya bersih. Hampir tidak pernah ada yang sabar menunggu kaldu bersih.” Dia menyendok sekali lagi, seperti orang yang menghormati makanan. “Tanto dulu membuatkan Ibu telur dadar dan salah menaruh gula di tempat garam. Ibu habiskan semuanya, Nak, bukan karena rasanya. Karena dia berdiri di depan kompor menunggu Ibu selesai makan. Kamu juga begitu, mungkin. Yang penting orang yang kamu masakkan tahu kamu berdiri di sana.” Dia menarik napas, lalu tidak mengisinya dengan basa-basi. “Ibu datang membawa kabar dari Dania. Sudah dua pekan dia berobat. Dokternya menyuruh dia menulis, bukan mengirim. Sekarang dia menulis dan tidak langsung mengirim. Dua hari yang lalu dia minta Ibu mengantarnya ke makam Tanto, dan dia tidak menangis. Dia hanya berdiri.”
“Syukurlah, Bu.”
“Dia meminta satu hal.” Ibu Tanto menatapnya lurus. “Dia ingin meminta maaf kepada Kalila. Langsung. Bukan lewat surat, bukan lewat kamu.”
Keanu menaruh sendoknya. Pelan, supaya tidak berbunyi. “Itu hak Kalila, Bu. Bukan hak saya, dan bukan hak Dania. Saya tidak akan mengantar dan tidak akan menanyakan.”
“Kamu tidak akan menolongnya?”
“Saya sudah terlalu sering menolong dengan cara yang salah.” Keanu menunduk. “Kalau saya yang menjembatani, Kalila akan merasa harus menjawab karena saya. Biar dia memutuskan tanpa saya di dalamnya.”
Ibu Tanto lama memandangi lelaki di depannya, seperti sedang membaca ulang sesuatu yang dulu dia anggap sudah selesai dibaca. Kemudian dia mengangguk, sekali, dan merapikan tali tasnya.
“Kalau begitu,” katanya, “Ibu sendiri yang akan menanyakannya kepada Kalila.”