Mama datang pukul sembilan pagi, lima hari sesudah akta cerai itu masuk laci, dan rantang di tangannya dijinjing seperti beban yang tidak ingin dia buka.
Kalila melihatnya dari jendela dapur. Perempuan itu turun dari mobil, berhenti di gerbang, merapikan selendang yang sebenarnya sudah rapi, baru kemudian berjalan di jalan setapak menuju teras. Rantang susun itu biasanya langsung berpindah ke tangan Kalila sebelum salam selesai, bersama bungkusan kue yang diselipkan ke tasnya seperti menyelundupkan barang terlarang. Kali ini Mama menjinjingnya terus. Dan orang yang membawa lauk tetapi tidak menawarkannya, pikir Kalila, biasanya membawa sesuatu yang lebih berat.
Asti, yang sedang menimbang tepung untuk pesanan bolu, ikut menoleh dan langsung paham. Dia mencuci tangan, melepas celemek, dan berkata pelan, “Saya antar pesanan ke panti saja, Bu. Sekalian saya lama di sana, biar Ibu dan Mama bisa bicara berdua.”
“Terima kasih, Asti.”
Lima hari terakhir Kalila isi dengan nasi kotak, bolu, dan daftar pesanan yang tak pernah lebih dari dua halaman. Pengadilan sudah selesai bicara, Keanu menepati janjinya untuk diam, dan selama lima hari itu, setiap kali dia lewat di depan dinding dapur, matanya tersangkut pada tulisan kecil di samping bingkai foto orang tuanya.
Mama masuk, duduk di kursi kayu di ujung meja, dan matanya langsung tertuju ke dinding itu juga. Sebelum dia sempat bicara, Kalila sudah menyodorkan sepotong bolu pandan yang baru dipotong.
“Dicicip dulu, Ma. Ini pesanan pertama yang dibuat di dapur ini sendirian.”
Mama menggigitnya, mengunyah lama, lalu mengangguk. “Lembut. Rasanya bagaimana menurutmu?”
“Saya tidak tahu, Ma. Asti bilang enak. Saya percaya Asti.”
Jawaban itu membuat Mama berhenti mengunyah sebentar. Dia menaruh sisa bolunya di piring dan membersihkan jarinya dengan serbet, pelan, seperti orang yang sedang mengulur waktu sebelum masuk ke ruangan yang pintunya berat.
“Senin. Hari ke-90.” Dia membacanya perlahan. “Itu hitungan iddah.”
“Iya, Ma.”
“Rapi sekali tulisanmu.” Mama menarik napas. “Mama tidak datang untuk membicarakan itu. Mama datang untuk bicara terus terang, dan Mama minta kamu mendengarkan sampai habis dulu.”
Kalila menuang teh dari teko ke dua cangkir. Uapnya naik, harumnya melati, dan lidahnya melaporkan kehangatan saja. Dia menaruh satu cangkir di depan Mama. “Silakan, Ma.”
“Julian itu paman Keanu.” Mama mengucapkannya tanpa menaikkan nada, seperti meletakkan batu di meja. “Adik dari bapaknya, satu ibu tapi beda bapak. Mama kenal dia sejak dia dan Keanu masih berebut mobil-mobilan di rumah Mama, dan sampai sekarang pun kalau dua orang itu bertengkar, Mama masih merasa harus melerai.”
Kalila tidak menyela.
“Kalau suatu hari kalian ada apa-apa, orang tidak akan bicara sebulan. Mereka akan bicara bertahun-tahun. Tiap Lebaran, tiap kumpul keluarga, ada dua orang yang duduk berjauhan di meja yang sama dan semua orang menghitung jaraknya.” Jemari Mama memutar cangkir tanpa mengangkatnya. “Mama bukan takut omongan, Kalila. Mama takut kehilangan dua orang sekaligus. Anak Mama yang sedang belajar makan lagi, dan adik ipar Mama yang tidak pernah sekali pun minta apa-apa dari keluarga ini.”
“Mama kira saya sedang merencanakan sesuatu?”
“Tidak.” Jawabannya cepat. “Eyang bilang tidak. Mbok Darmi bilang tidak. Hakim pun mencatat tidak. Kamu tidak pernah melangkahi garis, dan Mama malu pernah ragu.” Mama mengangkat wajah. Matanya merah, tetapi suaranya tidak pecah. “Mama sayang kamu seperti anak sendiri. Mama juga sayang Julian. Justru karena dua-duanya, Mama tidak bisa pura-pura ini urusan kecil.”
Kalila memandang uap teh yang menipis. Selama tiga tahun menikah dia tidak pernah mendengar Mama berbicara sejujur ini, dan dia baru sadar bahwa kejujuran bisa terasa seperti kehilangan pegangan, bukan hanya seperti kelegaan.
“Ma, boleh saya bicara?”
“Itu sebabnya Mama datang.”
“Saya tidak akan memilih siapa pun selama iddah.” Kalila menyatukan kedua tangannya di atas meja supaya tidak kelihatan gemetar. “Itu bukan sopan santun. Itu memang yang ada di dalam saya. Dan sesudah hari kesembilan puluh itu, mungkin saya tetap tidak memilih siapa pun.”
“Kamu bilang begitu karena Mama sedang duduk di sini?”
“Saya bilang begitu karena tidak ada yang pernah bertanya kepada saya tanpa menyuruh saya memilih.” Kalila mengangkat bahu kecil. “Keanu menyuruh saya diam. Pengacara menyuruh saya menjaga jarak. Dan Mama sekarang menyuruh saya mempertimbangkan perasaan keluarga. Tidak ada yang salah dari semua itu. Tapi saya ingin sampai di hari itu tanpa sudah ditentukan siapa pun, termasuk oleh diri saya sendiri.”
Mama lama memandangnya. Kemudian dia tertawa pendek, hampir tanpa suara, dan mengusap sudut matanya dengan ujung selendang.
“Tiga tahun jadi menantu Mama,” katanya, “dan baru sekarang Mama tahu kamu seperti ini.”
“Seperti apa, Ma?”
“Seperti Mama dulu waktu muda. Hanya saja Mama tidak sempat berkata begitu kepada siapa pun.”
Mama berdiri, bukan untuk pergi, tetapi untuk menghampiri dinding tempat bingkai foto itu tergantung. Dia mengamati ayah dan ibu Kalila lama, tangan terkatup di depan dada seperti sedang berada di rumah ibadah.
“Matamu dari ibumu. Mama baru lihat sekarang.”
“Orang bilang begitu, Ma. Saya sendiri baru berani menatap foto ini dua pekan lalu.”
“Mereka pasti tidak ingin kamu memilih karena takut pada omongan orang. Mama juga tidak ingin.” Mama tidak menoleh. “Tapi Mama tetap seorang ibu, Kalila. Mama masih akan takut walaupun Mama tahu itu tidak adil buatmu.”
“Takut itu boleh, Ma. Saya juga takut.”
*
Mama baru berdiri ketika jam di ruang depan berdetak lewat pukul sepuluh. Kalila mengantarnya sampai teras. Embun di rumput sudah kering, dan dari kejauhan, di balik pagar panti, terdengar anak-anak berebut bola.
Di anak tangga paling atas Mama berhenti, tidak berbalik. Tangannya meremas ujung selendang.
“Julian tidak tahu Mama ke sini,” katanya. “Eyang yang tahu. Kalau Julian tahu, dia akan melarang. Anak itu kalau disuruh menunggu, dia menunggu seperti sedang bertugas untuk negara.”
“Dia menepati janjinya, Ma.”
“Itu juga yang membuat Mama makin takut.” Mama menarik napas. “Ada satu hal lagi. Bukan dari Mama.”
Kalila menunggu.
“Keanu meminta Mama menyampaikan ini. Dia tidak berani menelepon, karena janjinya di tangga pengadilan itu masih dia pegang erat-erat.” Mama menoleh. “Dia ingin datang pada hari terakhir masa iddahmu. Untuk satu pertanyaan saja, Kalila. Dia sudah bilang dia tidak akan menuntut jawaban hari itu juga, tidak akan membawa pengacara, dan tidak akan membawa siapa pun.”
Hari Senin itu. Hari yang sama dengan tulisan di dinding. Kalila merasakan sesuatu bergeser di dalam dadanya, bukan marah dan bukan iba, lebih seperti pintu yang digeser setengah dengan hati-hati supaya tidak berderit.
“Satu pertanyaan?”
“Hanya itu pesannya. Dia bahkan tidak bilang apa pertanyaannya.” Mama menggeleng. “Mama bilang dia tidak perlu minta izin Mama. Dia bilang dia hanya mau minta izin dari orang yang berhak.”
Kalila memandang jalan setapak yang tadi dilalui Mama. Dia teringat lelaki di anak tangga pengadilan itu, satu undakan di bawahnya, dengan bahu yang jatuh dan janji yang diucapkan tanpa suara tinggi. Orang itu tidak bohong ketika berjanji. Dia hanya terlambat tiga tahun.
“Dia boleh datang, Ma,” katanya. “Saya tidak berjanji jawabannya.”
“Itu pun sudah jawaban,” kata Mama pelan, lalu menuruni tangga seorang diri.