Petugas loket menyodorkan selembar kertas bermaterai dengan kedua tangan, seolah yang dia serahkan adalah sesuatu yang rapuh.
“Akta cerai atas nama Ibu Kalila Reina. Putusan sudah berkekuatan hukum tetap sejak pagi ini. Silakan diperiksa dulu, Bu, sebelum ditandatangani tanda terimanya.”
Kalila menerima kertas itu di loket lantai satu pengadilan. Kertasnya tebal dan sedikit berat, dengan cap timbul di sudut kiri bawah yang bisa dia rasakan dengan ujung jari. Asti berdiri di sebelahnya, menggenggam tas Kalila seperti membawa barang bukti, dan sejak mereka masuk gedung ini belum sekali pun dia berbicara.
Tertulis namanya. Tertulis nama Keanu Syailendra, dan di antara keduanya satu kata yang dulu dia takuti sampai tak berani diucapkan sendirian: putus. Dia mencari di antara huruf-huruf cetak itu satu sudut yang akan membuat perih. Yang ada hanya tanggal, nomor perkara, dan tanda tangan panitera yang rapi.
“Sudah benar semuanya, Bu?”
“Nama saya benar. Nama dia benar.” Kalila memandang petugas itu. “Apa yang lain bisa salah di surat seperti ini, Pak?”
“Biasanya yang salah itu orangnya, Bu, bukan suratnya.” Petugas itu meringis, lalu buru-buru menambahkan, “Maaf, bukan maksud saya...”
“Tidak apa-apa. Sepertinya Bapak benar.” Kalila menandatangani tanda terima dengan pena hitam bergaris perak yang tadi pagi dia ambil dari laci, tanpa alasan yang bisa dia jelaskan. Gores tintanya mulus, jauh lebih halus dari pena murahan yang biasa dia bawa. “Terima kasih, Pak.”
“Sama-sama, Bu. Selamat... eh.” Petugas itu menahan kata terakhir, wajahnya memerah, dan Kalila tersenyum kecil.
“Terima kasih saja cukup.”
Di tangga depan, Asti baru bicara. “Bu, saya boleh peluk Ibu sebentar?”
“Di tangga ini?”
“Di mana saja.”
Kalila membiarkan, dan Asti memeluknya erat dan canggung dengan tas Kalila terjepit di antara mereka, sementara di bawah mereka motor-motor lewat dan seorang pedagang asongan berteriak menawarkan air mineral. Itu bukan perayaan. Tetapi ada sesuatu yang lebih tulus dari perayaan: dua orang yang akhirnya boleh berhenti berpura-pura kuat di tempat umum.
*
Pengacara menelepon pukul dua siang, ketika Kalila sedang menyusun daftar pesanan kecil di meja dapur vila: dua puluh porsi nasi kotak untuk sebuah pengajian, tiga loyang bolu untuk ulang tahun tetangga panti. Pesanan pertama dapur barunya, kecil dan sederhana. Dua staf yang dia bawa dari studio sedang mencuci beras di belakang, bersenandung pelan, dan Kalila merasa lebih tenang menulis angka-angka itu daripada menatap akta yang tergeletak di sebelahnya.
“Bu Kalila. Lima hari lalu pengacara pihak tergugat mengirim surat, dan saya tahan sampai akta ini Ibu pegang. Isinya tawaran: tunjangan bulanan sepanjang masa iddah dan lima tahun sesudahnya, ditambah pengalihan sebuah aset atas nama Ibu. Tanpa syarat, begitu bunyinya.”
“Sudah Bapak baca?”
“Sudah. Ini bukan tawaran licik, Bu. Nilainya wajar, malah cenderung dermawan. Tapi keputusan sepenuhnya milik Ibu.”
Kalila memandang pena di meja, sisa tinta di ujungnya. Dia bisa membayangkan Keanu mengangguk pada kertas itu sambil menahan sesuatu di rahang, sebagaimana dia dulu menyetujui rapat yang tak sempat dia pahami. Dermawan, tanpa syarat, dan tetap saja sebuah cara membayar.
“Saya tolak, Pak.”
“Seluruhnya?”
“Seluruhnya. Saya akan menulis balasannya sendiri, dan Bapak cukup mengirimkannya.”
Setelah sambungan terputus, dia menarik selembar kertas bergaris dan menulis dengan pena itu, perlahan, huruf demi huruf yang tegak. Terima kasih atas niat baik Bapak. Tawaran itu saya tolak seluruhnya. Pada hari saya memutuskan pergi, saya sudah mengatakan bahwa yang saya ambil hanyalah yang menjadi milik saya sebelum menikah, dan itu tidak berubah. Saya tidak membutuhkan apa pun dari pernikahan ini selain yang sudah saya bawa keluar: diri saya sendiri.
Dia membaca ulang kalimat terakhir, lalu mencoret kata sendiri dan menggantinya dengan utuh. Kemudian dia melipat kertas itu, memasukkannya ke amplop, dan menyerahkannya pada Asti untuk dikirim lewat kurir.
“Bu,” kata Asti hati-hati, “Bapak itu... Pak Keanu... bisa saja tersinggung. Dia sudah menyerah banding, sudah janji tidak menghubungi, lalu tawarannya juga Ibu tolak.”
“Dia tidak akan marah.” Kalila mengambil bolpoin biasa dan mulai mencentang daftar pesanan. “Dia sudah tahu aku akan menolak. Itu sebabnya dia mengirim.”
*
Malam itu, vila sunyi dan hujan turun halus di atas atap seng. Kalila menyalakan satu lampu dapur saja, membuka laci terbawah, dan menaruh akta cerai itu di sana, di atas amplop krem yang menyimpan kartu Eyang. Dua kertas berhimpitan. Satu mengakhiri dan satu menunggu, dan dia tidak tahu kertas mana yang mana.
Di dinding atasnya, foto kedua orang tuanya menatap lurus ke kamera dengan senyum yang tak berubah sejak entah berapa tahun lalu. Ibunya bersandar pada bahu ayahnya, dan di belakang mereka ada tanaman rambat yang kini sudah mati. Kalila memandangnya lama, kemudian menyentuh bingkainya dengan ujung jari.
“Aku sudah bebas, Bu,” katanya pelan. “Cuma rasanya belum seperti itu.”
Dia mengambil pensil dari gelas di meja dan menghitung dengan mengetuk-ngetukkannya di bibir. Masa iddah sembilan puluh hari, dihitung sejak putusan berkekuatan tetap. Sembilan puluh hari: tiga belas pekan lebih sedikit. Sembilan puluh hari sesudah hari ini jatuh pada hari Senin, dan jarak sepanjang itu terasa lama sekali untuk dilalui satu per satu.
Dia menulis di dinding, di sebelah bingkai, dengan huruf kecil dan rapi: Senin. Hari ke-90.
Pensil itu dia letakkan kembali ke gelas. Dia mundur selangkah dan membaca dua kata itu seperti membaca nama sebuah stasiun yang belum terlihat dari jendela kereta.
“Bu?” Asti muncul di ambang pintu dapur dengan mantel setengah terpasang. Dia kembali mengambil payung yang tertinggal. “Itu tulisan apa?”
“Hitungan.” Kalila tidak menoleh. “Hari terakhir iddah. Sembilan puluh hari dari sekarang.”
“Dan sesudah itu?”
“Sesudah itu aku bebas memilih apa saja.” Dia berhenti, dan suaranya merendah. “Atau tidak memilih siapa pun. Aku masih belum tahu yang mana, Asti. Rasanya jujur kalau aku bilang begitu.”
Asti memandang tulisan kecil di samping foto, lalu memandang punggung Kalila. Dia tidak bertanya lagi. Dia hanya menaruh payungnya di sudut pintu, melepas mantel, dan berkata bahwa malam ini dia menginap di kamar tamu, dan Kalila tidak boleh membantah karena dokter pengganti sudah memberi perintah.
Ponselnya berbunyi di meja. Mama. Pesan singkat, bukan telepon, dan Kalila membacanya dua kali sebelum mengerti mengapa jantungnya berubah ritme.
Kalila, Mama ingin bicara soal Julian. Mama ke vila hari Minggu.