Dua tahun usia pernikahan Kalila dan Keanu
Kalila berdiri membelakangi meja bar saat sebuah derap langkah lambat yang sangat familier mendekat.
"Harum kopi bercampur aroma tubuhmu..." suara bariton Keanu terdengar serak seksi, khas pria yang baru bangun dan mandi, “jadi kombinasi yang selalu berbahaya buat fokusku, Kalila."
Aroma pekat kopi arabika yang baru diseduh mulai merayap di udara pagi, berbaur dengan sisa wangi sabun mandi yang masih melekat di permukaan kulit Kalila membuat Keanu tersenyum usil.
Sepasang lengan kekar melingkar pas di sekeliling pinggang Kalila dari belakang. Hangat, posesif dan menggoda. Detik berikutnya, kecupan lembut Keanu mendarat di ceruk lehernya, tepat di titik sensitif yang selalu sukses membuat tubuh Kalila meremang halus.
Kalila tertawa kecil, suara renyah yang begitu mudah lepas dari bibirnya. Dia memutar tubuh di dalam kungkungan lengan kekar suaminya, menempelkan keningnya pada d**a bidang Keanu sembari jemari tangannya bergerak nakal, balik menggoda.
Di balik kaos katun tipis yang dikenakan suaminya, Kalila bisa mendengar detak jantung yang menenangkannya. Dua tahun pernikahan mereka terasa bagai musim semi, musim mekarnya bunga yang lupa cara untuk berakhir, pagi yang hangat oleh senyuman, sentuhan yang menggoda dan menggairahkan juga tawa yang selalu memenuhi sudut rumah.
Kebahagiaan mereka mencapai puncaknya ketika pada suatu malam, saat pendar lampu gantung sengaja diredupkan agar suasana terasa syahdu, Kalila menarik telapak tangan kanan Keanu, membimbingnya dengan sangat perlahan hingga mendarat di atas perutnya yang masih datar. Tidak hanya jemari tapi suara Kalila bergetar halus.
"Keanu…" Dia menatap lurus ke dalam manik mata elang suaminya. Suaranya lirih, berusaha kuat.
“Ya…?” suara Keanu tidak kalah lirih, tersenyum kecil dan mengecup kening Kalila.
"Kita... akan punya bayi!"
Keanu seketika membeku. Napasnya tertahan, paru-parunya seolah lupa cara bernapas. Sepasang mata elangnya mendadak berkaca-kaca dalam hitungan detik. Dunianya seolah hanya ada dia dan Kalila, hanya menyisakan telapak tangannya yang kini menempel di kulit perut istrinya.
Tubuh kekarnya perlahan berlutut di lantai. Dia menunduk, mengecup perut datar Kalila sekali, dua kali, hingga berkali-kali dengan lembut, seolah takut menyakiti. Bibir Keanu bergetar hebat, menahan gelombang emosi kebahagiaan yang terlalu besar untuk digambarkan dengan untaian kata.
"Aku janji..." rintih Keanu parau dengan dahi yang bersandar pada perut Kalila, "aku akan jadi ayah yang terbaik untuk anak kita. Aku akan melindungi kalian dengan nyawaku."
Kalila tersenyum lebar dengan air mata kebahagiaan yang mulai menyelimuti pandangannya. Jemarinya bergerak lembut menyusuri helaian rambut di kepala Keanu.
Kebahagiaan itu terasa nyata, menyebar hangat dari rahimnya ke seluruh tubuh. Mereka akan menjadi orang tua. Seorang manusia baru, yang berasal dari jalinan cinta mereka berdua, sedang tumbuh di dalam rahimnya.
"Pasti," bisik Kalila penuh keyakinan. "Karena kamu sudah menjadi suami yang luar biasa baik untukku."
*
Tiga bulan kemudian, kesempatan emas datang bersamaan dengan beban yang masif. Katering Kalila memenangkan tender besar untuk menjamu rangkaian pertemuan pejabat tinggi dan pengusaha top selama satu minggu penuh.
Sejak pukul empat pagi, Kalila sudah berdiri di balik meja dapur besi tahan karat. Jemarinya bergerak memotong sayuran dengan gerakan otomatis yang dipaksakan. Lapisan riasan tipisnya tidak mampu menutupi sepasang mata Kalila yang tampak sembab kelelahan. Punggung bagian bawahnya berdenyut nyeri akibat usia kandungan yang menginjak trimester pertama. Tapi, tangannya menolak untuk berhenti.
Dia tahu ini bukan sekadar tentang eksistensi Reina's Catering. Setiap kali menyajikan hidangan di meja perjamuan para taipan, Kalila dengan lihai menyelipkan rekomendasi portofolio bisnis usaha penyewaan alat berat tambang milik suaminya. Beberapa investor asing langsung menunjukkan ketertarikan besar untuk menggunakan jasa Syailendra Corp.
Kalila tersenyum puas di balik meja saji, membayangkan binar bangga di wajah Keanu saat pria itu akan menerima banyak kontrak kerja sama baru yang dia bantu dapatkan dari balik layar dapur. Dia sengaja merahasiakannya, karena ingin memberikan kejutan terbesar untuk suami yang dicintainya.
Sayangnya, rapuhnya fisik seorang wanita hamil ternyata tidak sejalan dan mampu berkompromi dengan ego bisnis.
Pada malam hari ketujuh, tepat setelah dia menyelesaikan percakapan penting dengan seorang pengusaha multinasional, sebuah rasa nyeri yang teramat tajam menyerang perut bawahnya. Rasanya seperti ada sebilah pisau yang diplintir paksa di dalam rahimnya.
Kalila mencengkeram tepi meja marmer, napasnya tersengal pendek-pendek dan pandangannya memudar.
Saat dia menunduk, noda merah pekat telah merembes, mengotori kain celana kulot indahnya. Panik dan ketakutan seketika merenggut seluruh sisa kesadarannya sebelum akhirnya dia benar-benar jatuh.
*
Aroma karbol yang menyengat menyambut kesadaran Kalila yang kembali tersadar secara perlahan. Ruang rawat rumah sakit itu begitu senyap, hanya menyisakan pendar lampu yang temaram. Kalila terbaring pucat di atas brankar medis, dengan perut yang kini telah kembali rata, sebuah kekosongan yang hampa.
Di samping ranjang, Keanu duduk dengan tubuh yang kaku menyerupai patung batu. Kedua tangannya mengepal begitu erat di atas lutut hingga buku jarinya memutih. Sepasang matanya merah namun benar-benar kering, seolah seluruh air matanya telah habis karena terpaksa menangis. Kehilangan calon anak mereka, menghancurkan seluruh impian indah Keanu sebagai seorang ayah. Kesedihan itu berubah bentuk menjadi amarah dingin yang mematikan.
"Kamu lebih mementingkan bisnis katering sialan itu daripada anak kita, Kalila," desis Keanu. Suaranya terdengar sangat pelan, tapi setiap kata yang lolos dari bibirnya terasa seperti belati yang mengiris hati Kalila secara perlahan.
"Aku sudah memintamu untuk istirahat. Aku sudah melarangmu mengambil proyek itu. Tapi kamu tidak pernah mau dengar."
Kalila menatap kosong langit-langit ruangan yang putih bersih. Air matanya meluruh dari sudut mata membasahi bantal tanpa suara. Dia ingin berteriak bahwa dia melakukan semua kerja keras itu juga demi Syailendra Corp., demi pengembangan usaha dan banyaknya kontrak bisnis baru untuk Keanu.
Tapi lidahnya mendadak kelu, tersangkut di tenggorokan. Penjelasan apa pun kini terasa percuma saja, karena kenyataannya janin mereka... sudah tiada. Rasa bersalah mulai menggerogoti jiwanya.
Keanu perlahan berdiri. Bahunya tampak merosot, terlihat jauh lebih berat daripada biasanya. Dia menatap tubuh ringkih Kalila di ranjang selama beberapa detik, seolah ada sisa kelembutan yang ingin dia ucapkan, tapi egonya yang terluka memaksa bibirnya kembali terkunci rapat.
"Aku ke kantor dulu. Ada rapat yang tidak bisa ditinggalkan." Padahal dia lakukan itu karena tidak mau berkata kasar pada Kalila. Dia harus menjauh sementara waktu.
Pintu kayu ruang rawat itu menutup dengan bunyi sangat pelan. Tapi di telinga Kalila, suara tutupan pintu itu terdengar layaknya ledakan bom yang meruntuhkan seluruh pondasi pernikahan mereka.
Tiga bulan berlalu seperti sebuah siksaan yang menyakitkan bagi Kalila. Rumah megah mereka kini kehilangan jiwanya. Keanu pulang kian larut, berbicara kian sedikit, kentara semakin menjauh.
Ketika Kalila meletakkan cangkir kopi arabika di meja makan pagi hari, Keanu hanya mengangguk formal tanpa mau menatap matanya apalagi memeluknya seperti dulu. Ketika Kalila mencoba menyentuh lengannya di malam hari, Keanu akan memalingkan wajahnya perlahan, menepis tangan Kalila seolah sentuhan fisik dari Kalila adalah api yang sanggup membakar kulitnya.
"Jangan bicara apa-apa dulu, Kalila," ucap Keanu suatu malam, menepis genggaman tangan istrinya dengan gerakan yang sangat halus tapi kentara sekali dia menolak, "aku masih butuh waktu untuk menerima semua ini."
Kalila menelan semuanya dalam keheningan. Rasa bersalah, rasa gagal sebagai seorang ibu, dan pengabaian dingin dari suaminya, dia pendam sendiri di lubuk batinnya terdalam.
Baginya sekarang, diam terasa jauh lebih aman daripada memohon cinta yang mulai mendingin.
Hingga pada suatu tengah malam, dering ponsel Keanu memecah sunyinya kamar utama.
Keanu menyambar ponselnya. Dalam hitungan detik, raut wajah kuyu pria itu berubah drastis menjadi seputih kertas, "Tanto... haa apa? Kecelakaan di lokasi inspeksi?!"
Keesokan hari, Keanu sudah berdiri mematung di depan ruang jenazah yang dingin, menatap pada peti kayu jati milik Tanto, sahabat karib sekaligus stafnya di Syailendra Corp., yang telah tertutup rapat. Di sampingnya, Dania memeluk peti mati itu dengan tubuh yang gemetar hebat, wajahnya basah oleh tangisan histeris yang memilukan.
Sebelum Tanto mengembuskan napas terakhir akibat kecelakaan kerja di lokasi proyek, dia sempat mengirimkan sebuah pesan singkat yang kini ada di layar ponsel Keanu, “Keanu, kalau terjadi apa-apa padaku di lapangan... tolong bantu jaga Dania sampai dia mandiri. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Maaf dulu aku merebutnya darimu.”
Keanu membaca pesan itu berulang kali dengan tangan yang bergetar hebat. Penyesalan baru menyapa jiwanya. Andai saja dia tidak mengirim Tanto untuk melakukan inspeksi mendadak ke anak perusahaan malam itu, mungkin sahabatnya masih hidup. Rasa bersalah atas kematian Tanto kini menumpuk secara masif di atas rasa bersalah atas hilangnya calon anaknya.
Waktu berlalu. Sejak hari pemakaman itu, poros hidup Keanu berubah total. Dia kian sering menghilang dari rumah. Kadang berdalih alasan ada rapat darurat, kadang urusan luar kota.
Tapi, Kalila mulai membaca sebuah pola baru yang menyadarkannya. Telepon dari Dania kian intens masuk ke ponsel suaminya di jam-jam yang tidak wajar. Dan yang paling menyakitkan, suara Keanu selalu berubah menjadi begitu lembut dan protektif setiap kali menjawab panggilan dari wanita yang sedang bersedih itu.
Seringkali di malam hari, saat Kalila berjalan melewati koridor lantai bawah, dia melihat pintu ruang kerja Keanu sedikit terbuka, memantulkan pendar cahaya lampu meja yang remang. Dari balik celah kayu, suara bariton suaminya terdengar sedang berbicara lirih ke ponselnya.
"Kamu jangan khawatir tentang biaya atau apartemen barumu, Dania. Aku yang akan mengurus seluruh kenyamanan hidupmu mulai hari ini. Tanto sudah menitipkanmu padaku. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."
Kalila mematung di balik pintu dengan tangan kanan menutup mulut. Jemari tangan kirinya mencengkeram kuat sisi gaun tidurnya hingga kain satin itu berkerut dan buku jarinya memutih pasi.
Tapi entah kenapa air matanya tidak lagi keluar, dia hanya merasa dadanya terasa begitu hampa, dikunci oleh rasa sakit yang melampaui batas air mata. Dia tidak mau mendorong pintu, tidak pula berteriak marah menuntut penjelasan. Percuma saja karena bagi Keanu, Kalila tidak lagi prioritasnya.
Kalila memilih berbalik pelan dengan langkah tanpa suara, kembali masuk ke dalam kamarnya yang dingin.
Di cermin kamar mandi, Kalila menatap wajahnya sendiri yang semakin pucat. Senyum yang dulu selalu ada kini sudah hilang.
Setelah cukup lama, Kalila matikan lampu, keluar kamar mandi dan ternyata Keanu sudah berbaring di kasur mereka.
Tepat saat pintu kamar tertutup, suara notifikasi dari ponsel Keanu terdengar jelas dari meja nakas. Layarnya menyala sejenak di kegelapan.
Satu nama muncul.
Dania.
Kalila berdiri diam di keremangan. Tidak menggerakkan satu jari pun. Mata mereka bersirobok. Sedangkan di luar, hujan mulai turun lebih deras seolah ingin menghapus apa yang pernah ada.