Keanu tidak membawa bunga. Dia berdiri di makam Tanto dengan tangan kosong, delapan hari sesudah palu hakim diketok, dan tidak tahu harus mulai dari kalimat yang mana.
Pemakaman itu sepi pagi ini. Rumput sudah dipotong, batu nisan di depannya bersih oleh tangan seseorang yang rutin datang, dan di antara tanah basah dan bau kemuning dia merasa dirinya terlalu besar untuk tempat sekecil ini. Dia tidak tahu kembang apa yang pantas dibawa orang yang selama ini menyalahgunakan sebuah pesan.
“Tan.” Suaranya kering. “Aku datang bukan untuk minta maaf. Maafku sudah kuberikan pada orang yang salah terlalu lama, jadi biarlah aku bicara dulu.”
Angin menyisir pucuk pohon. Jawaban tak datang, dan dia tidak mengharapkan satu pun.
Dia ingat hari itu dengan tajam yang tidak berkurang oleh waktu. Telepon dari lapangan, suara pekerja yang pecah, dan perintah inspeksi mendadak yang dia ucapkan sendiri sambil lalu pada suatu pagi. Tanto berangkat karena perintahnya, dan pulang dengan tandu. Seluruh kebaikannya kepada Dania sesudah itu, dia baru sadar, tumbuh dari rasa bersalah yang tidak pernah dia beri nama.
“Kamu bilang, jaga Dania sampai dia mandiri. Aku membaca pesan itu ratusan kali, Tan, dan baru beberapa pekan lalu aku membacanya sebagai kalimat, bukan sebagai perintah.” Dia berjongkok, menyentuh tepi batu nisan yang dingin. “Sampai dia mandiri. Bukan sampai dia nyaman. Bukan sampai dia tidak menangis. Aku menerjemahkannya sebagai ‘jadilah penggantiku’, dan karena itu aku membunuh rumah tanggaku sendiri dengan tangan yang mengaku menjaga.”
Dia menarik napas yang terasa seperti menelan pecahan kaca.
“Maaf aku menafsirkan amanahmu salah. Hari ini aku melepasnya. Bukan karena aku tidak peduli pada Dania. Tapi karena kalau aku terus memegangnya begini, itu bukan menjaga. Itu merampas.”
“Kamu datang juga akhirnya.”
Keanu menoleh. Ibu Tanto berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan payung lipat di tangan dan tas anyaman di lengan, kerudung kremnya basah sedikit oleh embun. Dia tidak terkejut. Mungkin dia tidak pernah terkejut oleh hal-hal yang sudah dia tunggu.
“Bu.”
“Ibu ke sini tiap pekan. Tidak pernah sekali pun bertemu kamu, dan Ibu tidak pernah memintamu datang.” Dia berjalan mendekat, menaruh sekantung kecil bunga mawar putih di batu nisan, dan duduk di bangku semen yang sudah retak. “Tapi Ibu tidak heran. Tanto dulu bilang, kamu baru bicara betul kalau sudah kehabisan teman bicara.”
Keanu tertawa pendek, hampir tanpa suara. Sudah berpekan-pekan dia tidak mendengar suaranya sendiri melakukan itu.
Ibu Tanto merogoh tas anyamannya dan mengeluarkan amplop biru muda tanpa nama. “Ini dari Dania. Tadi malam dia menulisnya sampai lewat tengah malam. Katanya jangan dibaca di depan Ibu.”
Keanu menerimanya. Amplop itu ringan, hampir tidak punya bobot.
“Dia mulai berobat, Nak. Pekan lalu, dokter perempuan, pilihan Ibu dan Mama kamu. Dua kali sepekan, dan dia pulang dengan mata sembap tetapi tidak membanting pintu.” Ibu Tanto memandang nisan anaknya. “Ibu tidak tahu apakah dia akan sembuh. Orang bilang butuh bertahun-tahun. Tapi kemarin dia sendiri yang mencuci piring, dan dia tidak minta tolong siapa pun.”
“Dia menulis apa, Bu?”
“Ibu tidak membacanya. Ibu hanya tahu dia menghapus dua halaman sebelum yang ini jadi.” Ibu Tanto mengangkat bahu kecilnya. “Itu pun kemajuan. Dulu dia mengirim apa pun yang lewat di kepalanya.”
“Aku tidak akan membalasnya, Bu.”
“Ibu tahu. Dia juga tidak minta dibalas.” Ibu Tanto menepuk lutut Keanu dengan tangan yang kecil dan kapalan. “Simpan saja. Baca kalau kamu siap. Kalau tidak, tidak apa-apa.”
Keanu memasukkan surat itu ke saku dalam jasnya, berdampingan dengan dompet yang di dalamnya terselip selembar foto kecil, berwarna hitam putih, yang tak pernah dia keluarkan di depan siapa pun. Dia tidak membuka amplop itu. Dia tahu dia belum sanggup hari ini.
*
Sore itu dia makan di meja Mama.
Rumah Mama tidak pernah berubah. Taplak linen putih, vas porselen, jam tegak yang berdetak dua kali lebih lambat dari jam lain. Mama sendiri yang memasak, dan sejak Keanu tiba dia terus berada di dapur dengan alasan yang berganti-ganti, padahal masakan sudah tersaji sejak tadi.
“Ikan bakar, sayur asem, tempe goreng, sambal terasi.” Mama menyebutnya satu per satu, dan Keanu memperhatikan caranya menghindari mata. “Mama masak yang kamu suka waktu kecil.”
“Ma, aku tidak bisa membedakan rasa.”
“Mama tahu.”
“Berarti Mama juga tahu aku tidak akan bilang enak.”
“Mama tidak minta kamu bilang enak.” Dia berhenti sebentar, memilih kata. “Mbok Darmi cerita kamu menghabiskan sup tanpa bicara tempo hari. Mama ingin tahu rasanya dilihat orang yang memasak untukmu, itu saja.” Mama menarik kursi di seberangnya dan duduk, tangan terlipat. “Mama hanya minta kamu makan sampai habis. Satu piring. Itu saja.”
Keanu mengambil nasi. Dia mengunyah sepotong ikan yang tebal dan berminyak, lalu sayur asem yang hangat dan kenyal oleh jagung. Tidak ada asam, tidak ada pedas, tidak ada manis. Tubuhnya mengenali bobot makanan, tetapi tidak jiwanya. Dia terus menyuap. Sesendok, dua sendok. Mama memperhatikan tanpa bicara, jemarinya meremas ujung taplak.
“Ma, jangan menatapku begitu.”
“Dulu kamu suka sekali sambal ini. Kamu habiskan sebelum nasimu.”
“Sekarang pun masih ingin begitu.” Dia menyendok sambal itu sedikit, menaruhnya di pinggir piring, dan mengunyahnya bersama nasi. Panas yang seharusnya menyengat tidak datang. Tetapi matanya memanas. “Aku tidak merasakan apa-apa, tapi aku tahu Mama memasaknya lama. Aku tahu dari tempe yang tidak gosong dan ikan yang tidak kering. Itu cukup, kan?”
Mama menutup bibirnya dengan punggung tangan. Ketika dia menurunkan tangan, dia tersenyum. “Cukup, Nak. Lebih dari cukup.”
*
Malam itu Mbok Darmi menaruh segelas air jahe di sudut meja kerjanya tanpa diminta, dan pergi sebelum dia sempat berterima kasih. Keanu memandang uap tipis yang naik dari gelas itu. Dia mencicipinya, dan lidahnya hanya melaporkan panas. Tetapi dia menghabiskannya sampai ampas jahenya di dasar, seperti mengisi ulang sesuatu yang berhak diisi.
Di ruang kerja yang sudah lama tidak dia tiduri, Keanu menandatangani dokumen yang ditaruh pengacaranya di atas meja: pernyataan tertulis tidak mengajukan banding. Pena menggores kertas dengan bunyi kering dan jujur.
Pengacara berambut perak itu berdiri di seberang meja dengan wajah yang jauh lebih lelah dibanding minggu-minggu sebelumnya. “Dengan ini, Pak, tenggat banding akan habis dalam enam hari, dan putusan itu tidak bisa diganggu gugat lagi.”
“Aku tahu.” Keanu menatap kalender duduk di sudut meja, mengambil spidol merah, dan melingkari satu tanggal. Enam hari dari sekarang. Dia tidak menambahkan tanda apa pun di sampingnya.
“Pak, kalau Bapak mau saya mundur dari perkara ini, saya mengerti. Soal foto-foto itu...”
“Selesaikan dulu pekerjaanmu, Pak. Baru kita bicara soal itu.” Keanu menutup spidol. “Satu hal lagi. Tawaran yang kita bahas kemarin, tunjangan dan pembagian harta. Kirim ke pengacara Kalila besok pagi. Tanpa syarat.”
“Beliau akan menolak, Pak.”
“Aku tahu.” Dia memutar kursi ke jendela yang gelap. “Kirim saja.”