Kue lapis pandan itu sempurna, dan Kalila tidak bisa merasakannya.
Asti membawanya pagi itu dalam kotak karton bening yang diikat pita tipis, tiga hari setelah putusan dibacakan. Dia menaruhnya di meja dapur vila dengan gerak yang terlalu hati-hati, seperti orang menaruh barang pecah belah di depan seseorang yang bisa menangis. Lapisan hijau dan putihnya rata tanpa cela, kukusan yang matang tepat, dan wanginya naik hangat memenuhi dapur.
“Saya buat sendiri semalam, Bu. Resep Ibu. Saya cuma mau Ibu mencoba satu potong, bukan untuk dinilai, hanya untuk dirayakan.”
“Dirayakan apa?”
“Ya... Ibu sudah bebas.”
Kalila memotong kue itu dengan pisau kecil, tipis dan rapi, dan mengangkatnya ke mulut. Teksturnya kenyal, sedikit lengket di gigi. Hanya itu. Dia mengunyah pelan, menunggu manis santan atau pandan yang lembut. Yang datang cuma kosong berbentuk kue.
“Enak?” Asti bertanya, setengah berbisik.
“Kamu yang lebih tahu.” Kalila menelan dan tersenyum sedikit. “Tolong rasakan satu, bilang apakah resepnya masih seperti dulu.”
Asti mengambil sepotong, mengunyah, dan mengangguk dengan mata berkaca. “Masih. Ibu sendiri yang mengajari saya, jadi tentu masih.” Dia menyeka sudut mata cepat-cepat dengan pergelangan tangan. “Maaf, Bu. Saya pikir kue ini akan membuat Ibu...”
“Kamu tidak salah.” Kalila menaruh pisau. “Kamu justru satu-satunya yang benar hari ini. Yang salah itu perasaanku yang menunggu sesuatu terjadi.”
Dia memandang sisa kue di piring. Pengacara sudah mengabarkan akta cerai baru bisa diambil bila putusan berkekuatan tetap, sekitar dua pekan lagi, dan dia mendengar kabar itu seperti mendengar jadwal bus. Putusan, akta, bebas. Kata-kata itu seharusnya punya rasa, dan ternyata tidak. Kemenangan itu hampa seperti ruang makan setelah tamu pulang: masih ada piring dan sendok, tetapi tidak ada alasan untuk duduk.
“Asti,” katanya kemudian, “bawa semua staf ke studio besok pagi. Ada yang mau aku katakan.”
*
Studio itu lengang untuk ukuran jam sepuluh pagi. Kalila tiba setengah jam lebih awal dan berjalan sendirian di antara meja-meja, menyentuh pegangan lemari pendingin, menghitung langkah dari kompor ke meja saji seperti yang dia lakukan hari pertama dulu. Kompor besar berderet dingin, panci-panci menggantung rapi di tempatnya, dan papan jadwal pesanan di dinding sudah kosong sejak Selasa pekan lalu. Sepuluh orang berdiri setengah lingkaran di depan meja stainless, dengan wajah orang yang sudah menebak isi pidato sebelum diucapkan.
Kalila menyentuh tepi meja. Dingin dan licin, seperti kemarin dan tahun lalu.
“Terima kasih sudah datang. Aku tidak akan berbasa-basi karena kalian pantas mendengar langsung.” Dia menarik napas. “Aku menutup studio ini akhir bulan. Sewa tempat tidak bisa lagi kutanggung, dan klien yang tersisa tidak ada. Bukan salah kalian. Bukan karena masakan kalian.”
Hening. Seorang juru masak muda di barisan belakang menunduk.
“Gaji bulan ini sudah kubayar penuh dari tabungan, dan tiap orang mendapat pesangon dua bulan serta surat rekomendasi yang kutandatangani sendiri. Kalau ada yang ditanya tempat lain, aku akan menjawab sendiri teleponnya.” Dia berhenti. “Aku akan memulai dapur kecil di vila di dekat panti. Pesanan harian saja, satu sampai dua puluh porsi. Aku hanya bisa membawa Asti dan dua orang lagi. Itu keputusan yang tidak adil, dan aku tidak akan pura-pura itu adil.”
Dia menyebut dua nama pelan-pelan, juru masak muda di barisan belakang dan seorang asisten yang biasa mengantar pesanan. Keduanya mengangkat wajah dengan terkejut, bukan senang. Juru masak muda itu malah menggeleng.
“Bu, jangan saya. Yang lain lebih lama di sini.”
“Karena kamu masih mau belajar membaca resep sambil mencicip.” Kalila menahan senyum yang terasa asing di wajahnya. “Dapur kecil butuh tangan yang tidak keberatan dikoreksi.”
Seorang koki perempuan paruh baya, yang sudah bersamanya sejak tahun pertama Reina’s Catering, melangkah maju dengan celemek di tangan. “Bu Kalila. Kami tidak pergi karena Ibu gagal. Kami pergi karena Ibu terlalu baik untuk membiarkan kami ikut tenggelam. Itu kami tahu.”
Tenggorokan Kalila menyempit. “Bu...”
“Cuma satu permintaan, Bu.” Dia menaruh celemeknya di meja, ke tangan Kalila. “Kalau dapur Ibu sudah ramai lagi, panggil kami. Kami datang tanpa surat.”
Kalila memegang celemek itu, kasar karena bertahun-tahun dicuci, dan dia tidak bisa menjawab. Dia hanya mengangguk, dua kali, dan mendengar seseorang di barisan belakang mulai menangis pelan. Mereka berpelukan satu per satu, sepuluh orang, tanpa pidato.
*
Sepulang dari studio, Kalila menggantung celemek koki itu di paku dekat kulkas vila, berdampingan dengan celemeknya sendiri. Dua celemek, satu pendek dan satu panjang, bergoyang pelan tertiup angin dari jendela. Dia berdiri memandanginya sambil mencoba menghitung berapa banyak yang telah dia kehilangan dalam sebulan terakhir, lalu berhenti, karena hitungan itu tidak menyenangkan siapa pun.
Menjelang sore, ketika matahari miring di atas atap seng dapur panti, sebuah sedan tua berwarna hitam berhenti di depan pagar vila. Sopir tua keluarga Baskara turun, mengenakan kemeja putih yang disetrika kaku, dan berdiri di depan pintu tanpa mengetuk sampai Kalila membukanya.
“Mbak Kalila. Saya disuruh Eyang. Katanya hanya serahkan dan jangan menunggu jawaban.”
Dia menyodorkan amplop krem dengan dua tangan, seperti membawa bendera. Kalila menerimanya. Di dalam amplop terasa sebatang benda ramping dan selembar kartu tebal.
“Terima kasih, Pak. Titip salam untuk Eyang.”
Sopir itu menunduk dan pergi tanpa menoleh.
Di meja dapur, Kalila membuka amplop itu. Pena hitam bergaris perak meluncur ke telapak tangannya, ringan dan dingin. Dia memandangnya cukup lama, lalu membuka kartu. Tulisan tangan Eyang tegak dan agak gemetar di tepi.
Penamu tertinggal di rumahku dan kusimpan sampai putusan. Anakku tidak menitipkan apa pun, tidak sepatah kata. Dia menepati janjinya.
Dia ingat meja rendah di rumah Eyang dan cangkir teh yang tidak dia minum. Dia ingat mencatat jam kedatangannya dengan pena ini, lalu pergi tanpa menoleh. Dan dia ingat satu hal yang lebih jujur daripada semuanya: dia tidak pernah mengirim siapa pun untuk mengambilnya, karena dia sudah tahu siapa yang akan menyimpannya.
Kalila membaca kartu itu tiga kali, dan tiga kali itu pula dia merasakan sesuatu yang berbeda dari kekosongan lidahnya. Bukan haru, bukan senang. Lebih mirip rasa lega yang tidak berani mengaku, mengendap pelan di dada seperti butiran garam yang belum larut.
Dia membalik kartu itu. Pena di tangannya menekan kertas tebal, ragu-ragu, kemudian mengalir.
Aku menerima penanya. Aku belum bisa menjawab apa pun.
Kalila membaca kalimat itu sekali, lalu menutup kartu, memasukkannya kembali ke amplop, dan membuka laci terbawah meja dapur. Di sana, di bawah buku catatan polos pemberian dokter pengganti, amplop itu dia letakkan. Dia tidak menulis alamat di amplop itu. Dia belum tahu, dan mungkin tidak akan pernah tahu, ke mana jawaban semacam itu harus dikirim.