Selasa pagi dimulai dengan semangkuk bubur yang tidak dihabiskan, lima hari sesudah sidang kesimpulan.
Kalila sudah terjaga sejak pukul tiga. Dia berbaring menatap langit-langit kamar vila yang berbintik lembap, mendengar jangkrik di kebun, dan sempat menoleh ke balik pintu kamar, tempat jaket abu-abu itu tergantung sejak dia memutuskan belum mau mengembalikannya. Dia memandang jaket itu beberapa menit, lalu membalik badan menghadap dinding. Tidak untuk dipikirkan hari ini, katanya pada diri sendiri.
Kalila duduk di meja dapur vila dengan sendok di tangan, memandangi nasi lembut bertabur bawang goreng yang sudah dingin di pinggir. Asti berdiri di sebelahnya dengan sisir, tas, dan blus abu-abu yang sudah disetrika dua kali, karena dia tidak tahu hal lain apa yang bisa dikerjakan tangannya. Dari jendela, kabut tipis masih menggantung di atas atap seng dapur panti.
“Sedikit lagi, Bu.”
“Aku sudah makan separuh.”
“Separuh itu belum cukup untuk berdiri di depan hakim.”
“Hakim tidak peduli aku berdiri atau duduk.” Tetapi Kalila menyendok sekali lagi, menelan sesuatu yang bagi lidahnya hanyalah tekstur, lalu menaruh sendok. “Cukup. Kalau aku pingsan di ruang sidang, setidaknya tidak karena lapar.”
Asti tertawa kecil, tidak lucu, hanya agar bahunya tidak jatuh. Dia merapikan kerah blus Kalila, menyentuh jari yang masih menyisakan bekas tipis dari pecahan mangkuk. “Hari ini Ibu boleh menangis atau tidak menangis. Dua-duanya boleh.”
“Terima kasih, Asti.”
“Saya cuma bilang yang dokter bilang.”
Mereka berangkat pukul sembilan.
*
Ruang sidang itu lebih kecil daripada yang Kalila ingat. Mungkin karena hari ini tidak ada ketegangan yang mengisi sudut-sudutnya. Hanya kursi-kursi, bau debu hangat dari pendingin udara tua, dan sekelompok orang yang menunggu seseorang membacakan sesuatu yang sudah mereka tahu.
Mama duduk di bangku kedua dengan tangan terlipat di pangkuan. Eyang di sebelahnya, tongkat bertumpu di antara lutut, bibir bergerak pelan merapal doa yang tak terdengar. Sama seperti Kamis lalu, ada satu kursi yang tak terisi. Kali ini Kalila tidak menghitungnya. Dia menatap lurus ke meja majelis dan memaksa dirinya hanya melihat apa yang ada.
Keanu masuk terakhir, sendirian, berdiri di sisi kanan tanpa melirik. Dasinya rapi lagi.
Ketua majelis membacakan putusan dengan suara yang sama datarnya dengan semua hari sebelumnya, dan justru karena itu Kalila merasa setiap kalimat seperti dijatuhkan satu per satu ke lantai. Mengadili. Mengabulkan gugatan penggugat. Menjatuhkan talak satu tergugat terhadap penggugat. Membebankan biaya perkara kepada tergugat.
Hanya itu.
Dua puluh tiga detik. Dia menghitungnya tanpa tahu mengapa. Tiga tahun pernikahan, berminggu-minggu hidup di kamar tiga kali tiga meter, satu bayi yang tidak sempat lahir, dan seluruhnya selesai dalam waktu yang lebih singkat dari menyeduh teh.
Di bangku kedua, Mama menutup mulut dengan telapak tangannya. Bahunya bergetar tanpa suara dan air matanya menetes ke kain kebaya, satu-satu, tanpa dihapus. Eyang tidak menoleh. Doanya hanya berhenti sebentar, lalu berlanjut lebih pelan.
Keanu menunduk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian dahi, tangan kanannya terkepal di sisi paha dan terbuka perlahan, jari demi jari. Dia tidak mengangkat kepala sampai ketukan palu terakhir, dan ketika akhirnya dia melakukannya, matanya tidak mencari Kalila. Dia menatap lambang di dinding belakang hakim seperti seseorang yang berusaha menghafal wajah sebuah tempat sebelum meninggalkannya.
Kalila menunggu. Dia menunggu dadanya meluap atau bahunya longgar atau ada rasa lega mengalir. Napasnya tetap sedatar tadi pagi, dan jemarinya di pangkuan tetap dingin.
Tidak ada yang datang.
*
Di koridor, pengacara Keanu sudah mengejar tuannya sebelum pintu ruang sidang sepenuhnya menutup. Suaranya direndahkan, tetapi dinding marmer pengadilan membawa kata-kata ke mana-mana.
“Pak Keanu. Ada empat belas hari untuk mengajukan banding. Saya sudah menyiapkan bahan dan...”
“Tidak.”
“Pak, saya mohon dengarkan dulu. Putusan ini tidak membahas pembagian harta dan...”
“Aku bilang tidak.” Keanu tidak membentak. Dia hanya berhenti dan menatap pengacaranya, sekali, dengan mata orang yang sudah kehabisan alasan untuk menawar. “Terima kasih, Pak. Untuk semuanya. Untuk yang benar dan yang salah.”
Pengacara itu membuka mulut, menutupnya, dan mundur selangkah. Kalila, yang berdiri tak jauh bersama Asti dan pengacaranya sendiri, melihat itu dengan jarak cukup untuk tidak ikut campur dan cukup dekat untuk tahu.
“Bu,” kata pengacara Kalila pelan, “saya antar ke mobil lewat pintu samping. Wartawan sudah ada di depan.”
“Saya lewat tangga depan saja, Pak.”
“Bu...”
“Saya tidak ingin keluar seperti orang bersalah.”
Pengacara itu menatapnya sebentar, lalu menyingkir.
Mama dan Eyang menunggu di ujung koridor. Mama langsung memeluknya, erat dan singkat, seperti orang yang takut waktu bisa menariknya mundur. Eyang tidak memeluk. Dia mengangkat tangan dan menyentuh pipi Kalila dengan punggung jari-jarinya yang kering.
“Perasaan itu sering datang terlambat, Nak. Jangan dikejar. Dia tahu jalan pulangnya sendiri.”
“Saya tidak merasakan apa-apa, Eyang.”
“Itu juga perasaan,” jawab Eyang. “Hanya belum diberi nama.”
Tangga depan gedung pengadilan lebar dan berundak banyak, memanjang ke halaman yang terik. Kalila baru menuruni lima anak tangga ketika dia mendengar langkah di belakangnya, tidak tergesa, dan sebuah bayangan menutupi sebagian sinar yang jatuh di bahunya.
Dia menoleh. Keanu berhenti satu anak tangga di bawahnya.
Itu aneh. Di setiap pertemuan sebelumnya, Keanu selalu menjulang, bahkan ketika duduk. Sekarang untuk sekali ini Kalila memandangnya dari atas, dan dia melihat uban tipis di pelipisnya yang tidak ada setahun lalu.
“Kalila.” Suaranya serak. “Aku tidak akan banding.”
“Aku dengar tadi.”
“Dan aku tidak akan menghubungimu lagi.” Dia menelan sesuatu. “Tidak lewat pesan, tidak lewat Mama, tidak lewat Asti. Sampai kamu yang memintaku. Kalau kamu tidak pernah meminta, itu juga jawaban, dan aku akan menerimanya.”
Kalila memandangnya. Dia mencari sesuatu untuk dikatakan, mungkin maaf, mungkin terima kasih, mungkin sekadar namanya. Semua kata itu terlalu besar atau terlalu kecil. Pada akhirnya dia hanya berkata, pelan, “Jaga dirimu, Keanu. Makanlah.”
Sesuatu di wajah Keanu bergeser, cepat sekali, seperti riak di permukaan sumur. Lalu dia menunduk sedikit, berbalik, dan menuruni tangga sampai hilang di antara orang-orang di halaman.
Kalila berdiri di anak tangga itu cukup lama. Mobil-mobil lewat. Seorang tukang parkir bersiul. Dia menunggu perasaan menang yang diwartakan semua cerita, dan tidak ada yang datang.
“Bu Kalila!” Seorang wartawan muda berlari mendekat dengan mikrofon terjulur. “Bu Kalila, bagaimana perasaan Ibu sekarang? Ibu merasa menang?”
Kalila memandang mikrofon itu sebentar, lalu memandang sosok yang sudah jauh di halaman.
“Menang itu kalau ada yang kalah,” katanya. “Dan saya tidak melihat siapa pun yang kalah di tangga ini. Permisi.”